Pola Makan Berantakan saat Akhir Bulan

  • 26 Agt 2026 20:00 WIB
  •  Cirebon

RRI.CO.ID, Cirebon - Memasuki akhir bulan, pola makan sebagian orang ikut berubah. Ketika anggaran mulai menipis, makan di luar mungkin dikurangi, menu menjadi lebih sederhana, atau seseorang memilih makanan yang dianggap paling murah dan mengenyangkan. Kondisi ini membuat pengaturan makan tidak selalu berjalan seperti pada awal bulan, terutama bagi mereka yang harus membagi penghasilan untuk berbagai kebutuhan.

Fenomena tersebut bukan sekadar persoalan kebiasaan. Penelitian yang diterbitkan dalam Public Health Nutrition pada 2017 menemukan bahwa periode ketika ketersediaan uang lebih rendah dalam satu siklus pendapatan dapat berkaitan dengan penurunan kualitas makanan. Dalam pemodelan penelitian terhadap komunitas Aborigin Australia di wilayah terpencil, periode beranggaran rendah menghasilkan pola makan dengan kualitas gizi lebih rendah dan profil mikronutrien yang lebih buruk.

Salah satu kebiasaan yang sering muncul adalah mengurangi lauk atau sumber protein dan lebih mengandalkan makanan yang murah serta mengenyangkan. Pilihan seperti nasi, mi instan, roti, atau makanan ringan memang praktis, tetapi jika terlalu sering menggantikan makanan yang lebih beragam, asupan zat gizi dapat menjadi kurang seimbang. Penelitian tentang siklus pendapatan menunjukkan bahwa ketika uang untuk makanan terbatas, konsumen cenderung memilih makanan dengan biaya energi lebih rendah, yang dapat berujung pada kualitas diet yang lebih buruk.

Kebiasaan berikutnya adalah melewatkan waktu makan atau mengurangi porsi secara berlebihan demi menghemat uang. Studi mengenai siklus anggaran makanan juga menemukan bahwa pengeluaran untuk makanan dapat menurun menjelang datangnya pendapatan berikutnya. Pada kelompok tertentu yang mengalami keterbatasan finansial, kondisi tersebut bahkan dapat berkaitan dengan berkurangnya asupan makanan.

Selain itu, akhir bulan dapat membuat seseorang lebih jarang membeli buah dan sayuran karena dianggap bukan prioritas ketika anggaran terbatas. Padahal, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) merekomendasikan konsumsi setidaknya 400 gram buah dan sayuran per hari bagi orang berusia di atas 10 tahun. WHO juga menekankan pentingnya variasi makanan, termasuk sayuran, buah, kacang-kacangan, biji-bijian utuh dan sumber protein yang sesuai kebutuhan.

Ada pula kebiasaan mengandalkan makanan ultra-proses karena murah dan praktis. Mi instan, makanan ringan kemasan, minuman manis, dan makanan siap santap bisa menjadi pilihan ketika waktu maupun uang terbatas. WHO Indonesia pada 2026 menyoroti meningkatnya popularitas makanan ultra-proses, termasuk minuman berpemanis, makanan ringan gurih, dan mi instan, yang umumnya dapat tinggi gula, garam, lemak jenuh atau lemak trans.

Menariknya, pola konsumsi memang dapat berubah mengikuti siklus pemasukan. Studi yang diterbitkan dalam China Economic Review pada 2025, dengan menggunakan 24 juta observasi konsumen-hari dari data perbankan, menemukan adanya peningkatan konsumsi setelah hari gajian yang kemudian diikuti penurunan konsumsi pada minggu-minggu berikutnya. Peneliti mengaitkannya antara lain dengan present bias dan batas anggaran mental bulanan. Studi ini tidak secara khusus mengukur kualitas makanan, tetapi menunjukkan bagaimana waktu penerimaan pendapatan dapat memengaruhi pola konsumsi.

Agar pola makan tetap lebih teratur sampai gajian berikutnya, tidak harus selalu membeli bahan makanan mahal. Pilih bahan yang relatif terjangkau tetapi tetap beragam, seperti telur, tahu, tempe, kacang-kacangan, sayuran lokal dan buah yang sedang musim. WHO merekomendasikan pola makan yang cukup, seimbang, beragam dan moderat, dengan membatasi makanan tinggi gula bebas, garam serta lemak tidak sehat.

Mengatur menu sejak awal bulan juga dapat membantu menghindari kondisi ketika uang untuk makanan habis lebih cepat. Sisihkan anggaran khusus makanan, buat daftar belanja, manfaatkan bahan yang tersedia di rumah, dan hindari menghabiskan terlalu banyak anggaran untuk makan di luar pada minggu-minggu pertama. Dengan cara tersebut, akhir bulan tidak harus selalu identik dengan menu seadanya, melewatkan makan, atau mengorbankan kualitas nutrisi.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....