Tanda Tubuh Terlalu Banyak Konsumsi Makanan Olahan

  • 31 Jul 2026 00:41 WIB
  •  Cirebon

RRI.CO.ID, Cirebon - Makanan olahan seperti mie instan, sosis, nugget, keripik, makanan beku, minuman kemasan, hingga camilan siap saji memang praktis dan memiliki rasa yang menggugah selera. Namun, jika dikonsumsi terlalu sering, makanan jenis ini dapat memberikan dampak kurang baik bagi kesehatan. Umumnya, makanan olahan mengandung kadar garam, gula, lemak jenuh, serta bahan tambahan pangan yang lebih tinggi dibandingkan makanan segar.

Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), pola makan tinggi garam, gula, dan lemak jenuh menjadi salah satu faktor yang meningkatkan risiko penyakit tidak menular, seperti penyakit jantung, diabetes tipe 2, dan hipertensi. Karena itu, penting untuk mengenali tanda-tanda tubuh yang mungkin menunjukkan bahwa konsumsi makanan olahan sudah berlebihan.

Salah satu tanda yang paling sering dirasakan adalah tubuh mudah lelah, meskipun waktu istirahat sudah cukup. Makanan olahan yang tinggi karbohidrat olahan dan gula tambahan dapat menyebabkan lonjakan gula darah yang cepat, kemudian diikuti penurunan energi dalam waktu singkat. Kondisi ini membuat tubuh terasa lesu dan kurang bertenaga sepanjang hari.

Tanda berikutnya adalah berat badan yang terus meningkat tanpa perubahan besar pada pola aktivitas. Makanan olahan umumnya memiliki kalori tinggi tetapi rendah serat sehingga kurang memberikan rasa kenyang. Penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Cell Metabolism oleh Kevin D. Hall dan tim peneliti (2019) menemukan bahwa peserta yang mengonsumsi makanan ultra-proses cenderung makan lebih banyak kalori dan mengalami peningkatan berat badan dibandingkan saat mengonsumsi makanan minim proses.

Selain itu, tekanan darah dapat meningkat jika terlalu sering mengonsumsi makanan olahan yang tinggi natrium. Menurut Centers for Disease Control and Prevention (CDC), sebagian besar asupan natrium harian masyarakat berasal dari makanan olahan dan makanan siap saji, bukan dari garam yang ditambahkan saat memasak. Asupan natrium berlebih dapat meningkatkan risiko hipertensi dan penyakit jantung.

Masalah pencernaan juga bisa menjadi sinyal tubuh. Makanan olahan umumnya rendah serat sehingga dapat menyebabkan sembelit, perut kembung, atau buang air besar yang tidak lancar. Harvard T.H. Chan School of Public Health menjelaskan bahwa serat dari buah, sayuran, kacang-kacangan, dan biji-bijian utuh berperan penting dalam menjaga kesehatan usus serta mendukung keseimbangan mikrobiota.

Terlalu banyak mengonsumsi makanan olahan juga dapat membuat seseorang lebih sering merasa lapar dan mengidam makanan tinggi gula atau garam. Kombinasi gula, lemak, dan garam dalam makanan ultra-proses dirancang agar terasa sangat nikmat sehingga dapat mendorong keinginan untuk makan lebih banyak. Akibatnya, pola makan menjadi sulit dikendalikan dan asupan kalori harian terus meningkat.

Cara terbaik untuk mengurangi dampak makanan olahan adalah dengan memperbanyak konsumsi makanan segar, seperti buah, sayuran, ikan, telur, kacang-kacangan, dan biji-bijian utuh. Membiasakan memasak di rumah, membaca label informasi gizi, serta membatasi konsumsi makanan ultra-proses juga dapat membantu menjaga kesehatan tubuh. Dengan pola makan yang lebih seimbang, risiko obesitas, diabetes tipe 2, hipertensi, dan penyakit jantung dapat ditekan sejak dini.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....