Kebiasaan Sarapan Menjaga Gula Darah Stabil
- 20 Jul 2026 08:16 WIB
- Cirebon
RRI.CO.ID, Cirebon - Sarapan sering disebut sebagai waktu makan terpenting dalam sehari, tetapi manfaatnya tidak hanya sekadar mengisi energi setelah bangun tidur. Memilih menu sarapan yang tepat juga berperan penting dalam menjaga kadar gula darah tetap stabil. Sebaliknya, sarapan tinggi gula dan rendah serat justru dapat menyebabkan lonjakan gula darah yang diikuti rasa lapar lebih cepat.
Menurut American Diabetes Association (ADA), sarapan dengan komposisi karbohidrat kompleks, protein, lemak sehat, dan serat dapat membantu mengendalikan kadar gula darah sekaligus memberikan energi yang lebih tahan lama. Kombinasi nutrisi tersebut membuat proses pencernaan berlangsung lebih lambat sehingga glukosa dilepaskan ke dalam darah secara bertahap.
Salah satu kebiasaan yang dianjurkan adalah mengonsumsi protein saat sarapan, seperti telur, yogurt tanpa tambahan gula, tahu, tempe, atau kacang-kacangan. Penelitian yang diterbitkan dalam The American Journal of Clinical Nutrition oleh Leidy, Clifton, Astrup, dkk. (2015) menunjukkan bahwa sarapan tinggi protein dapat meningkatkan rasa kenyang, membantu mengontrol nafsu makan, serta mengurangi keinginan mengonsumsi camilan tinggi gula pada siang hari.
Selain protein, pilihlah sumber karbohidrat kompleks seperti oatmeal, roti gandum utuh, ubi, atau beras merah dibandingkan roti putih atau makanan manis. Harvard T.H. Chan School of Public Health menjelaskan bahwa karbohidrat utuh yang kaya serat memiliki indeks glikemik lebih rendah sehingga membantu menjaga kestabilan kadar gula darah dan mendukung kesehatan metabolisme.
Kebiasaan lain yang tidak kalah penting adalah menambahkan buah utuh ke dalam menu sarapan. Buah seperti apel, pir, atau beri mengandung serat yang membantu memperlambat penyerapan gula. Berbeda dengan jus buah yang kehilangan sebagian seratnya, buah utuh memberikan rasa kenyang lebih lama dan tidak memicu lonjakan gula darah secara cepat.
Mengurangi konsumsi minuman manis saat sarapan juga menjadi langkah sederhana yang berdampak besar. Teh manis, kopi dengan banyak gula, atau minuman kemasan dapat menyumbang gula tambahan dalam jumlah tinggi. World Health Organization (WHO) melalui pedoman Guideline: Sugars Intake for Adults and Children (2015) merekomendasikan agar konsumsi gula tambahan dibatasi kurang dari 10 persen dari total kebutuhan energi harian, bahkan idealnya di bawah 5 persen atau sekitar 25 gram per hari.
Tak kalah penting, usahakan untuk tidak melewatkan sarapan. Penelitian yang dipublikasikan dalam Journal of Nutrition menunjukkan bahwa kebiasaan melewatkan sarapan berkaitan dengan kontrol gula darah yang kurang baik serta peningkatan risiko resistensi insulin pada sebagian orang. Meski demikian, kebutuhan setiap individu dapat berbeda tergantung kondisi kesehatan dan pola makan yang dijalani.
Menjaga gula darah tetap stabil tidak harus dilakukan dengan pola makan yang rumit. Memilih sarapan yang kaya protein, serat, dan karbohidrat kompleks, membatasi gula tambahan, serta makan pada waktu yang teratur merupakan kebiasaan sederhana yang dapat memberikan manfaat besar bagi kesehatan. Dengan menerapkannya secara konsisten, tubuh akan memiliki energi yang lebih stabil sekaligus membantu menurunkan risiko diabetes tipe 2 dan berbagai penyakit metabolik.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....