Minum Es Teh usai Makan? Ketahui Risikonya bagi Tubuh!
- 10 Apr 2026 09:50 WIB
- Cirebon
RRI.CO.ID, Cirebon - Kebiasaan minum es teh setelah makan sudah menjadi bagian dari gaya hidup banyak orang, terutama di negara beriklim tropis seperti Indonesia. Sensasi dingin dan rasa manis yang menyegarkan membuat minuman ini terasa pas sebagai penutup santapan.
Namun, di balik kenikmatan tersebut, terdapat sejumlah hal yang perlu diperhatikan karena kebiasaan ini ternyata tidak selalu baik bagi kesehatan. Secara umum, teh mengandung senyawa tanin, yaitu zat alami yang dapat memengaruhi penyerapan nutrisi dalam tubuh.
Ketika teh dikonsumsi segera setelah makan, tanin dapat mengikat zat besi yang berasal dari makanan, terutama dari sumber nabati seperti sayuran hijau. Akibatnya, penyerapan zat besi menjadi kurang optimal, jika kebiasaan ini dilakukan dalam jangka panjang, risiko kekurangan zat besi atau anemia bisa meningkat, terutama pada kelompok rentan seperti wanita dan remaja.
Selain itu, suhu dingin pada es teh juga dapat memengaruhi proses pencernaan. Setelah makan, sistem pencernaan bekerja untuk memecah makanan agar nutrisinya dapat diserap dengan baik.
Minuman dingin dipercaya dapat memperlambat proses ini karena suhu rendah dapat menghambat kerja enzim pencernaan. Meskipun efeknya tidak selalu signifikan pada semua orang, kondisi ini tetap dapat menimbulkan rasa tidak nyaman seperti perut kembung atau begah.
Kandungan gula dalam es teh manis juga menjadi perhatian tersendiri. Banyak orang mengonsumsi es teh dengan tambahan gula dalam jumlah cukup tinggi, padahal, asupan gula berlebih dapat meningkatkan risiko berbagai penyakit, seperti obesitas dan diabetes tipe 2.
Ketika dikonsumsi setelah makan, tambahan gula ini membuat total asupan kalori harian menjadi lebih tinggi tanpa disadari. Menurut sejumlah ahli gizi, waktu terbaik untuk minum teh adalah sekitar satu hingga dua jam setelah makan.
Dengan jeda waktu tersebut, tubuh memiliki kesempatan untuk menyerap nutrisi dari makanan secara optimal tanpa terganggu oleh senyawa dalam teh. Alternatif lainnya, air putih tetap menjadi pilihan terbaik untuk dikonsumsi setelah makan karena tidak mengandung zat yang dapat menghambat penyerapan nutrisi.
Organisasi kesehatan dunia, World Health Organization (WHO), juga menekankan pentingnya menjaga pola makan seimbang dan membatasi konsumsi gula harian. Dalam panduannya, WHO menyarankan agar asupan gula tambahan tidak melebihi 10 persen dari total energi harian, hal ini menjadi relevan mengingat es teh manis sering kali mengandung gula dalam jumlah cukup tinggi.
Meski demikian, bukan berarti es teh harus dihindari sepenuhnya, minuman ini tetap dapat dinikmati, asalkan dikonsumsi dengan bijak dan tidak langsung setelah makan. Mengurangi kadar gula atau memilih teh tanpa pemanis juga dapat menjadi langkah yang lebih sehat.
Pada akhirnya, menjaga kesehatan tidak selalu membutuhkan perubahan besar, keebiasaan kecil seperti mengatur waktu minum teh dapat memberikan dampak positif bagi tubuh. Dengan memahami cara kerja tubuh dan memperhatikan asupan harian, setiap orang dapat membuat pilihan yang lebih baik demi kesehatan jangka panjang.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....