Masyarakat Diingatkan Tidak Mudah Percaya Informasi Hanya dari Judul

  • 30 Sep 2026 16:07 WIB
  •  Cirebon

RRI.CO.ID, Cirebon – Masyarakat diminta tidak langsung mempercayai informasi hanya karena judulnya menarik atau banyak dibagikan di media sosial. Kaprodi S1 Ilmu Komunikasi UMC Cirebon sekaligus anggota Jaringan Pegiat Literasi Digital (JAPELIDI), Ida Ri'aeni, S.Sos, M.I.Kom, C.I.QaR mengatakan kebiasaan membaca informasi berdasarkan judul dapat membuat masyarakat kehilangan konteks dari informasi yang sebenarnya.

Kondisi tersebut semakin kuat ketika masyarakat terbiasa mengejar informasi yang cepat dan sedang menjadi tren. “Kadang-kadang kita berbagi informasi berdasarkan judul. Judulnya menarik, jadi saya langsung membagikannya,” ujarnya pada Program Literasi Digital RRI Cirebon pada Selasa, 29 September 2026.

Ia menjelaskan, judul yang menarik atau bersifat clickbait dapat membuat masyarakat terdorong untuk segera mengakses dan menyebarkan informasi. Padahal, informasi yang lengkap perlu dilihat berdasarkan konteks serta unsur informasi yang ada di dalamnya.

Menurut Ida, kecepatan mendapatkan informasi tidak selalu menunjukkan bahwa informasi tersebut memiliki kualitas yang lebih baik. Informasi yang diterima lebih lambat tetapi telah diverifikasi justru dapat lebih dapat diandalkan dibandingkan informasi yang cepat namun belum diperiksa.

Ia juga menyoroti kecenderungan masyarakat mengikuti informasi karena adanya FOMO atau fear of missing out. Dorongan untuk tidak tertinggal dari tren dapat membuat seseorang ikut memberikan komentar atau membagikan informasi tanpa memahami isi dan konteksnya.

“Kadang-kadang kita terlambat menginformasikan sesuatu, tetapi informasinya jauh lebih andal dan benar, yang sebenarnya lebih baik daripada jika kita cepat tapi ternyata tidak diverifikasi,” ujarnya.

Ia juga mengingatkan masyarakat agar tidak menjadikan jumlah komentar, tanda suka, atau penonton sebagai ukuran kebenaran suatu informasi. Menurutnya, tingginya keterlibatan pengguna lebih menunjukkan ketertarikan masyarakat terhadap konten, bukan otomatis membuktikan kebenarannya.

“Jumlah likes atau penonton tidak selalu berarti informasi tersebut dapat dipercaya,” katanya.

Ia mendorong masyarakat melakukan pemeriksaan silang sebelum menyebarkan informasi. Kebiasaan tersebut diperlukan agar masyarakat tidak menjadi bagian dari penyebaran informasi yang belum terverifikasi hanya karena tertarik pada judul, tren, atau banyaknya respons pengguna.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....