Ini Kondisi Otak saat Sedang 'Fly'

  • 07 Apr 2026 10:45 WIB
  •  Cirebon

RRI.CO.ID, Cirebon - Penelitian terbaru dalam jurnal Nature Medicine berhasil mengungkap fenomena komunikasi antarwilayah otak yang terjadi saat seseorang berada di bawah pengaruh zat psikedelik (halusinogen). Analisis komprehensif ini menggabungkan data pencitraan otak dari berbagai benua untuk memahami kondisi sementara yang sering disebut sebagai "kematian ego".

Dilansir dari Nationalgeographic.com, Manesh Girn, ahli neurosains yang memimpin riset ini di University of California, menjelaskan bahwa zat tersebut menutup jarak antara cara kita berpikir dan cara kita mempersepsi dunia. Biasanya, persepsi dunia luar sangat terpisah dari memori dan pemikiran abstrak, namun psikedelik membuat wilayah-wilayah tersebut saling bercakap-cakap dengan sangat intens.

Pemahaman mengenai fungsi psikedelik menjadi krusial seiring dengan meningkatnya minat penggunaan zat ini untuk mengobati kondisi kesehatan mental seperti kecemasan dan depresi. Matthew Johnson dari Johns Hopkins University menegaskan bahwa mengetahui cara kerja zat ini secara teoretis dapat membantu mengoptimalkan potensi penyembuhan bagi pasien.

Para ilmuwan kini berupaya mengejar ketertinggalan teknologi pemindaian otak MRI yang belum tersedia saat penelitian awal psikedelik dilakukan lima puluh tahun silam. Visualisasi otak sangat penting untuk memastikan bahwa perbaikan kesehatan mental benar-benar berasal dari zat tersebut, bukan sekadar ekspektasi atau efek plasebo dari pengguna.

Tim riset yang melibatkan ilmuwan dari tujuh institusi di lima negara ini berhasil menganalisis lebih dari 500 pemindaian otak dari 267 subjek yang berbeda. Amy Kuceyeski dari Weill Cornell Medicine memuji standarisasi kerangka kerja penelitian ini sebagai pencapaian besar dalam memahami perubahan sinyal otak pada tingkat populasi.

Data yang dianalisis mencakup efek dari psikedelik klasik seperti psilosibin, LSD, mescaline, DMT, hingga ramuan tradisional Ayahuasca dari Amerika Selatan. Girn mengungkapkan bahwa senyawa-senyawa ini secara mendasar mengubah cara otak memproses informasi dan berhubungan dengan dunia luar secara keseluruhan.

Christopher Pittenger dari Yale University menambahkan bahwa peningkatan integrasi informasi di otak dapat memecah pola kognitif yang kaku pada penderita gangguan obsesif-kompulsif. Selain masalah suasana hati, aktivitas unik juga muncul pada wilayah otak yang mengatur gerakan dasar, yang berpotensi membantu penyembuhan gejala fisik penyakit Parkinson.

Meskipun memberikan bukti kuat, para ilmuwan menekankan bahwa penelitian ini masih berada pada tahap awal dan belum mempertimbangkan faktor usia serta jenis kelamin secara mendalam. Perjalanan panjang masih dibutuhkan untuk memetakan rentang penuh pengalaman manusia, mulai dari halusinasi visual yang gila hingga pemrosesan emosi yang mendalam di masa depan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....