Jejak Sejarah Masjid Agung Sang Cipta Rasa Cirebon Jadi Pusat Syiar Islam
- 28 Mei 2026 10:47 WIB
- Cirebon
RRI.CO.ID, Cirebon - Masjid Agung Sang Cipta Rasa di Kompleks Keraton Kasepuhan Cirebon menjadi salah satu bukti penting penyebaran Islam di tanah Jawa karena sejak awal berdiri difungsikan sebagai pusat syiar, musyawarah ulama, hingga kegiatan sosial masyarakat pada masa Kesultanan Cirebon. Masjid yang berada di Jalan Kasepuhan Nomor 43, Kelurahan Kesepuhan, Kecamatan Lemahwungkuk, Kota Cirebon itu masih digunakan hingga kini sebagai pusat ibadah sekaligus wisata sejarah religi.
Keberadaan masjid tertua di Cirebon tersebut berkaitan erat dengan perkembangan Islam pada masa Sunan Gunung Jati dan Wali Songo, yang menjadikan wilayah Cirebon sebagai salah satu titik penting penyebaran agama Islam di Pulau Jawa. Selain Masjid Sang Cipta Rasa, kawasan sekitar Keraton Kasepuhan juga memiliki sejumlah masjid tua yang dibangun pada masa awal perkembangan Islam.
Wakil Kepala Pemandu Keraton Kasepuhan Cirebon, Raden Nanung Muhammad Suradi, mengatakan Cirebon merupakan salah satu daerah penting dalam sejarah penyebaran Islam di Jawa karena memiliki sejumlah peninggalan masjid tua yang masih bertahan hingga saat ini. “Di Cirebon banyak yang bersejarah karena era syiar Islam, bahkan masjid tua sebelum era Wali Songo juga ada, seperti Masjid Kejaksan yang dibangun oleh Raden Walangsungsang,” ujar Nanung kepada RRI, Kamis, 14 Mei 2026.
Masjid Agung Sang Cipta Rasa disebut didirikan sekitar abad ke-15 hingga awal abad ke-16 oleh Sunan Gunung Jati bersama para Wali Songo, dengan keterlibatan Sunan Kalijaga dalam proses pembangunan dan perancang bangunan dari Majapahit. Kehadiran masjid tersebut menjadi simbol akulturasi budaya Jawa, Islam, hingga pengaruh arsitektur Nusantara masa lampau.
Menurut Nanung, pada masa awal berdirinya masjid digunakan bukan hanya untuk salat berjamaah, melainkan juga sebagai tempat musyawarah antara ulama, pemimpin kerajaan, dan masyarakat. “Masjid Agung Sang Cipta Rasa dahulu digunakan untuk syiar Islam dan kegiatan lain, seperti pertemuan para ulama, masyarakat, bahkan sidang-sidang juga diselenggarakan di sana,” ucap Nanung.
Masjid tersebut juga mengalami perluasan setelah masa kolonial Belanda memasuki wilayah Cirebon karena jumlah jamaah yang terus meningkat dari waktu ke waktu. Area tambahan kemudian digunakan untuk menampung jamaah dalam berbagai kegiatan keagamaan, terutama saat salat berjamaah dalam jumlah besar.
Hingga saat ini, Masjid Agung Sang Cipta Rasa tetap menjadi bagian penting identitas sejarah Kota Cirebon. Tempat suci ini mempertahankan fungsi utamanya sebagai pusat ibadah sekaligus pengingat perjalanan panjang syiar Islam pesisir.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....