Transformasi Digital UMKM Dinilai Tak Boleh Tinggalkan Pelaku Usaha Senior

  • 31 Agt 2026 09:13 WIB
  •  Cirebon

RRI.CO.ID, Cirebon – Transformasi digital UMKM dinilai tidak boleh hanya menyasar pelaku usaha dari kalangan generasi muda. Pelaku UMKM berusia di atas 40 tahun juga perlu mendapatkan pendampingan agar mampu beradaptasi dengan perkembangan teknologi dan memanfaatkan dunia digital untuk mengembangkan usaha.

Kabiro Humas dan Kerja Sama Universitas Gunung Jati (UGJ) sekaligus Dosen Fakultas Ekonomi Bisnis UGJ Cirebon, Dr.H. Editya Nurdiana, SE.MM, menilai pembatasan pendampingan berdasarkan usia dapat menimbulkan ketidakadilan. Menurutnya, kemampuan beradaptasi dengan teknologi merupakan persoalan teknis yang dapat dipelajari.

Ia mengatakan pelaku UMKM senior tetap memiliki pengalaman dan potensi bisnis yang perlu dikembangkan. Karena itu, pendekatan pendampingan harus disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing pelaku usaha, bukan mengesampingkan mereka karena faktor usia.

“Bicara ekonomi itu kan bicara keadilan. Kalau kementerian tidak mau menggarap atau membina yang usianya di atas 40 tahun, ini sudah sungguh tidak berkeadilan,” ujarnya dalam program Beranda Asta Cita - Ekonomi Digital RRI pada Jum'at, 28 Agustus 2026.

Menurutnya kesenjangan kemampuan teknologi antara generasi muda dan senior bukan persoalan yang tidak dapat diatasi. Pelaku usaha yang lebih tua dapat memperoleh pendampingan untuk memahami pemanfaatan teknologi sesuai kebutuhan bisnis mereka.

Ia juga menekankan pentingnya kehadiran fasilitator secara langsung di lingkungan usaha. Pendampingan dinilai akan lebih efektif apabila fasilitator mendatangi tempat produksi UMKM, bukan sekadar mengumpulkan pelaku usaha dalam kegiatan yang bersifat seremonial.

“Kalau pelaku usaha itu, dia tidak akan mau meninggalkan dapur produksinya. Fasilitator yang ditugaskan pemerintah harus hadir di dapurnya dan memberikan edukasi bagaimana membuat tahapan pemasaran produknya melalui digital,” katanya.

Ia menambahkan, perkembangan teknologi telah membuat dunia digital menjadi kebutuhan bagi hampir seluruh kelompok usia. Tantangannya adalah mengubah pemanfaatan media sosial dari sekadar hiburan menjadi aktivitas yang menghasilkan nilai ekonomi.

Menurutnya, pelaku usaha senior tidak perlu menjadi ahli teknologi untuk dapat bertransformasi. Mereka membutuhkan pendampingan agar penggunaan media digital dapat diarahkan pada promosi, transaksi, dan peningkatan keuntungan usaha.

“Digital hari ini merupakan sebuah kebutuhan, tidak muda dan tua. Tinggal bagaimana kita mengarahkan teman-teman yang usianya mungkin tidak lagi muda agar kesukaannya dalam dunia digital diubah orientasinya, tidak lagi sekadar hobi atau hiburan, tetapi berorientasi pada profit,” katanya.

Sementara itu, Business Assistant Kementerian Koperasi RI sekaligus fasilitator dan asesor manajer SPPI Kemenkop RI, Rahmadi, SE., M.M mengatakan salah satu pendekatan yang dapat dilakukan adalah melibatkan anggota keluarga yang lebih muda untuk membantu pelaku UMKM senior. Anak atau anggota keluarga yang lebih memahami teknologi dapat berperan dalam pengelolaan konten, promosi, maupun operasional digital.

Menurutnya, pendekatan tersebut memungkinkan pelaku UMKM senior tetap menjalankan produksi, sementara anggota keluarga yang lebih muda membantu aspek digital. Dengan demikian, proses transformasi dapat berlangsung tanpa harus menghilangkan peran pelaku usaha utama.

Ia menjelaskan, pelaku UMKM senior yang telah memiliki usaha sebenarnya dapat tetap diberdayakan melalui pola tandem dengan generasi muda. Pola tersebut dinilai menjadi salah satu cara agar persyaratan program dapat tetap dijalankan tanpa meninggalkan pelaku usaha yang sudah berpengalaman.

“Yang sudah maju tetapi tidak bisa mengerti konten, bagaimana membuat Facebook Ads atau landing page, akhirnya kita bantu dengan anak-anak mereka. Tandemnya atas nama orang tua, tetapi anaknya sebagai operation,” ujarnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....