IWAPI Kuningan Ungkap Kendala Digitalisasi UMKM Perempuan

  • 02 Sep 2026 15:15 WIB
  •  Cirebon

RRI.CO.ID, Cirebon – Keterbatasan biaya, penyebaran anggota di wilayah pedesaan, serta keterbatasan pelatihan masih menjadi tantangan utama digitalisasi UMKM perempuan di Kabupaten Kuningan. Meskipun demikian, Ikatan Wanita Pengusaha Indonesia (IWAPI) terus berupaya menjalankan program pelatihan teknologi bagi para anggotanya.

Upaya penguatan ekonomi berbasis potensi lokal tersebut menjadi salah satu fokus pembahasan dalam Dialog Cirebon Menyapa Pro 1 RRI Cirebon. Dialog interaktif tersebut disiarkan pada Selasa, 1 September 2026, bertepatan dengan momentum peringatan Hari Jadi ke-528 Kabupaten Kuningan.

Ketua DPC IWAPI Kabupaten Kuningan, Hj. Nurhayati, BA., menyampaikan organisasinya telah mengikuti program pelatihan digital nasional gubahan IWAPI. Kegiatan tersebut diikuti oleh anggota dari Kuningan sebagai tahap awal peningkatan kemampuan digital bagi pengusaha perempuan.

“Khususnya IWAPI, kami itu memang ada program untuk pelatihan digital untuk para anggota IWAPI se-Indonesia, dan untuk Kuningan sudah pernah dilaksanakan baru katakanlah babak satu,” ujar Nurhayati.

Menurutnya, pelatihan tersebut menghadirkan narasumber yang memiliki kompetensi di bidang digitalisasi dan dilaksanakan melalui pertemuan yang diikuti sejumlah anggota IWAPI, sementara program lanjutan masih menunggu agenda dari kepengurusan pusat. Selain kegiatan tatap muka, anggota juga memperoleh kesempatan mengikuti pembekalan melalui pertemuan daring yang secara berkala diselenggarakan oleh organisasi di tingkat pusat.

Namun, Nurhayati mengatakan sebagian besar anggota IWAPI Kabupaten Kuningan merupakan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah. Kondisi tersebut membuat mereka memiliki kemampuan pembiayaan yang terbatas untuk mengikuti kegiatan maupun mengembangkan pemasaran secara lebih luas.

“Salah satu kendalanya karena anggota IWAPI kami itu kebanyakan UMKM, jadi yang memang masih pengusaha kecil, jadi untuk biaya itu sangat minim,” kata Nurhayati.

Kendala lain juga muncul karena anggota organisasi tidak seluruhnya berada di pusat Kabupaten Kuningan, melainkan tersebar di berbagai daerah, sehingga keikutsertaan dalam kegiatan pelatihan dan pengembangan kapasitas membutuhkan waktu serta biaya tambahan. Kondisi tersebut membuat pemerataan literasi digital masih perlu terus didorong agar pelaku usaha perempuan di wilayah pedesaan memiliki kesempatan yang sama dalam memanfaatkan platform digital.

Untuk meningkatkan motivasi anggotanya, IWAPI Kuningan berupaya mengajak pengusaha perempuan mengikuti berbagai kegiatan organisasi, termasuk agenda yang diselenggarakan di tingkat pusat agar mereka dapat melihat perkembangan dunia usaha secara lebih luas. Nurhayati mengatakan langkah tersebut juga menjadi sarana untuk memperkenalkan pentingnya digitalisasi sebagai bagian dari kebutuhan pengembangan usaha di tengah perubahan zaman.

“Kami usahakan untuk banyak yang ikut biar mereka itu termotivasi melihat pengusaha-pengusaha di kota, dan memberi pengertian kepada mereka bahwa pentingnya digitalisasi di zaman sekarang ini,” ucap Nurhayati. Melalui dorongan tersebut, IWAPI berharap semakin banyak pengusaha perempuan di Kuningan yang mampu meningkatkan keterampilan digital dan memanfaatkannya untuk memperluas pemasaran produk.

Penguatan kemampuan digital tersebut dinilai sejalan dengan semangat Hari Jadi ke-528 Kabupaten Kuningan yang mengusung tema Melesat Ngudag Zaman, Ngakar Kuat Purwadaksi, yakni mendorong masyarakat agar mampu beradaptasi terhadap perkembangan zaman tanpa meninggalkan potensi dan karakter lokal. Digitalisasi UMKM pun diharapkan dapat menjadi salah satu jalan untuk memperkuat daya saing produk lokal sekaligus membuka peluang ekonomi yang lebih luas bagi perempuan pelaku usaha di Kabupaten Kuningan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....