UMKM Didorong Berani Produksi Konten, Baca Tren, untuk Tingkatkan Penjualan

  • 31 Agt 2026 09:10 WIB
  •  Cirebon

RRI.CO.ID, Cirebon – Pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) didorong lebih berani memanfaatkan media digital untuk memperluas pemasaran dan meningkatkan penjualan. Penggunaan teknologi tidak harus dimulai dengan perangkat mahal, tetapi dapat dilakukan melalui telepon seluler dan produksi konten secara konsisten.

Sementara itu, Business Assistant Kementerian Koperasi RI sekaligus fasilitator dan asesor manajer SPPI Kemenkop RI, Rahmadi, SE., M.M mengatakan keberanian untuk mencoba menjadi salah satu modal penting dalam transformasi digital UMKM. Pelaku usaha juga perlu mengubah kebiasaan dari sekadar menjadi konsumen konten menjadi pihak yang mampu memproduksi konten dan melakukan transaksi.

Menurutnya, media sosial saat ini membuka peluang bagi pelaku usaha untuk memasarkan produk tanpa harus memiliki toko fisik atau lokasi usaha yang strategis. Bahkan, pemasaran dapat dilakukan dari rumah dengan memanfaatkan telepon seluler.

“Sekarang momen-momen kita saat ini mudah cari cuan dengan transformasi digital. Budaya kita harus diubah dari budaya konsumsi jadi produksi, produksi itu memproduksi suatu konten atau apa, kemudian menjadi transaksi dan menghasilkan cuan,” ujarnya dalam program Beranda Asta Cita - Ekonomi Digital RRI pada Jum'at, 28 Agustus 2026.

Ia juga mendorong UMKM memanfaatkan berbagai sumber informasi digital untuk membaca tren pasar. Salah satunya melalui Google Trends yang dapat digunakan untuk melihat produk atau topik yang sedang banyak dicari masyarakat.

Menurutnya, kemampuan membaca tren dapat membantu pelaku UMKM menentukan produk yang berpotensi diminati pasar. Dengan informasi tersebut, pelaku usaha dapat menyesuaikan strategi pemasaran dan produk yang ditawarkan.

“Kalau kita belajar Google Trend, kita bisa lihat tren ini, baju ini dijual di mana, jepitan rambut di mana. Itu sudah muncul di Google dan gratis,” katanya.

Selain membaca tren, Rahmadi menekankan pentingnya konsistensi dalam membuat dan mengunggah konten. Pelaku UMKM tidak seharusnya berhenti hanya karena konten yang dibuat belum langsung mendapatkan respons dari pasar.

Ia mencontohkan seorang pelaku usaha di Cirebon yang menurutnya berhasil meningkatkan omzet setelah konsisten membuat konten. Konten yang dibuat bahkan sangat sederhana, tetapi kemudian mendapatkan perhatian setelah masuk dalam rekomendasi atau FYP.

“Pertama mereka harus punya kemauan, punya niat yang baik, kemudian action. Kalau sudah action, sering-sering posting dan bikin konten sebanyak-banyaknya, dan kalau konsisten serta persisten, insyaallah cuan akan mengikuti,” ujarnya.

Sementara itu, Kabiro Humas dan Kerja Sama Universitas Gunung Jati (UGJ) sekaligus Dosen Fakultas Ekonomi Bisnis UGJ Cirebon, Dr.H. Editya Nurdiana, SE.MM menilai kemampuan membaca tren digital harus diimbangi dengan literasi yang memadai. Pelaku UMKM perlu memahami produk, pasar, serta informasi digital agar tidak sekadar mengikuti tren tanpa mempertimbangkan manfaat dan risikonya.

Ia mengatakan perkembangan digital memungkinkan pelaku usaha menjual berbagai jenis produk sesuai kebutuhan pasar. Namun, peluang tersebut harus diikuti kemampuan membuat narasi produk dan memahami informasi yang diterima dari dunia digital.

“Dengan literasi yang tinggi akan memiliki pengetahuan yang luas. Dengan pengetahuan yang luas kita mampu memenuhi apa yang diinginkan oleh pasar,” katanya.

Ia juga mendorong kolaborasi antara UMKM dengan penyedia jasa konten digital. Pelaku usaha yang tidak memiliki kemampuan fotografi, copywriting, atau pembuatan konten dapat bekerja sama dengan pihak yang memiliki kompetensi tersebut.

Menurutnya, kolaborasi menjadi bagian penting dalam membangun ekosistem bisnis yang saling mendukung. Setiap pihak memiliki peran berbeda sehingga mata rantai bisnis perlu dijaga agar tetap terhubung.

“Kalau saya punya produk tetapi tidak memiliki kompetensi dalam bidang foto, tidak memiliki kompetensi membuat hook, atau kompetensi lain yang dibutuhkan digital, saya bisa berkolaborasi dengan orang-orang yang memiliki kompetensi itu. Bisnis itu adalah circle, ketika salah satu terputus, bisnis itu tidak akan berjalan,” ujarnya.

Dengan keberanian memproduksi konten, kemampuan membaca tren, peningkatan literasi digital, dan kolaborasi, transformasi digital diharapkan tidak berhenti pada kehadiran UMKM di platform digital. Pemanfaatan teknologi diharapkan benar-benar bermuara pada peningkatan pasar dan pendapatan pelaku usaha.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....