Panjang Jimat Jadi Pengingat Pentingnya Merawat Tradisi Cirebon
- 31 Agt 2026 18:01 WIB
- Cirebon
RRI.CO.ID, Cirebon – Tradisi Panjang Jimat yang digelar di sejumlah keraton Cirebon dinilai menjadi bagian penting dari identitas budaya masyarakat. Di tengah perubahan zaman dan pergantian generasi, tradisi tersebut masih mampu menarik masyarakat untuk berkumpul, bersilaturahmi, dan mengikuti rangkaian peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW.
Budayawan dan Seniman Cirebon, Akbarudin Sucipto, mengatakan keberlangsungan Muludan menunjukkan masih kuatnya ikatan masyarakat dengan tradisi budaya yang diwariskan para pendahulu. Menurutnya, momentum tersebut bahkan mampu menjadi semacam sinyal bagi masyarakat Cirebon bahwa memasuki Rabiul Awal berarti waktunya kembali berkumpul dalam suasana Muludan.
“Dan ini memang butuh pelestarian, butuh semangat untuk menjaga tradisi ini. Dan tentunya kalau sudah bicara tradisi pilihannya satu. Kalau tradisi itu baik maka teruskanlah. Kalau tradisi itu buruk ya aja coba-coba melestarikan.” ujarnya dalam program Macapat RRI Cirebon, Kamis 27 Agustus 2026.
Ia menilai perubahan zaman tidak serta-merta menghilangkan tradisi Muludan. Justru, keberadaan keraton, situs sejarah, serta kebiasaan masyarakat untuk berkumpul menjadi magnet yang membuat tradisi tersebut terus hidup.
Menurutnya keraton-keraton Cirebon saat ini memiliki peran penting sebagai pemangku budaya. Meskipun tidak lagi memegang otoritas politik seperti pada masa lalu, keraton tetap memiliki tanggung jawab besar dalam menjaga warisan budaya.
Ia mengatakan, tantangan pelestarian tradisi tidak hanya berkaitan dengan mempertahankan prosesi, tetapi juga menjaga keberadaan fisik keraton sebagai ruang budaya. Berbagai kebutuhan infrastruktur harus tetap dipenuhi meskipun keraton memiliki keterbatasan sumber daya ekonomi.
Ia juga menilai tradisi Cirebon menyimpan nilai toleransi dan kemanusiaan yang relevan dengan kehidupan masyarakat saat ini. Salah satu contoh yang disebutnya adalah peninggalan Sunan Gunung Jati yang menunjukkan adanya hubungan harmonis dengan masyarakat berbeda keyakinan.
“Nah, itu pelajaran yang luar biasa. Nah, jadi para penziarah itu berkah. Jadi berarti kan bahasanya bukan bahasa akal. Bahasa keimanan.” katanya.
Menurutnya, masyarakat perlu memahami Panjang Jimat secara lebih mendalam agar tidak terjebak pada pemaknaan sebatas benda pusaka atau keramaian. Nilai yang terkandung di dalamnya perlu diterjemahkan ke dalam kehidupan sehari-hari, termasuk menjaga persaudaraan, kemanusiaan, dan keimanan.
Ia berharap masyarakat dan pengelola keraton dapat memperkuat penyebaran informasi mengenai agenda Muludan agar generasi muda dan masyarakat luas dapat memahami rangkaian tradisi tersebut. Ia juga mengajak masyarakat meningkatkan minat membaca dan menggali informasi mengenai warisan budaya Cirebon.
“Semoga pasca panjang jimat, pasca pelal ini iman Islam kita semakin baik ya. Amal-amal kita semakin bagus dan semakin rapi, ekonomi kita semakin baik,” katanya.
Pelestarian Panjang Jimat, pada akhirnya bukan hanya mempertahankan sebuah prosesi tahunan. Lebih dari itu, tradisi tersebut menjadi sarana untuk menjaga ingatan kolektif masyarakat Cirebon terhadap sejarah, keagamaan, persaudaraan, dan nilai-nilai budaya yang diwariskan lintas generasi.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....