Teladan Rasulullah Dinilai Penting di tengah Budaya Citra Media Sosial
- 31 Agt 2026 21:57 WIB
- Cirebon
RRI.CO.ID, Cirebon – Bulan Maulid Nabi Muhammad SAW dinilai menjadi momentum bagi umat Islam untuk mengevaluasi perilaku, termasuk dalam cara berkomunikasi dan memperlakukan orang lain di tengah kehidupan yang semakin dekat dengan media sosial. Ustadz Ihsan Tobi, S.Pd., dalam program Mutiara Pagi RRI Cirebon, Kamis (27/8/2026), mengatakan keteladanan Rasulullah dapat diterapkan melalui hal-hal sederhana, mulai dari cara berbicara, memberikan perhatian, hingga menjaga hubungan dengan sesama.
Menurutnya, Rasulullah menunjukkan penghormatan kepada orang lain bahkan dalam interaksi sederhana. Ketika berjabat tangan, Nabi disebut tidak terburu-buru melepaskan genggaman sebelum orang yang diajak bersalaman melepaskannya terlebih dahulu.
“Begitulah Rasulullah sallallahu alaihi wasallam memperlakukan orang lain. Dia tidak membuat siapa pun merasa kecil. Dia tidak terburu-buru saat berurusan dengan orang lain,” ujarnya.
Ia mengatakan penghormatan terhadap orang lain tidak selalu membutuhkan sesuatu yang besar. Memberikan perhatian ketika seseorang berbicara, tidak sibuk dengan urusan sendiri, serta tidak memalingkan wajah dapat menjadi bentuk sederhana dalam menghargai sesama.
“Maka di bulan Maulid ini, mari kita bertanya kepada diri kita sendiri. Sudahkah akhlak Rasulullah sallallahu alaihi wasallam terlihat dalam kehidupan kita? Sudahkah lisan ini ee kita menggunakannya dengan santun?,” ujarnya.
Ia juga menyoroti kebiasaan sebagian masyarakat yang gemar mencari-cari kesalahan orang lain. Menurutnya, perilaku tersebut bertentangan dengan ajaran Islam karena dapat memicu kegaduhan, perselisihan, hingga pertengkaran.
“Jangan kita sibuk menilai orang lain dengan mencari-cari kesalahannya. sibuklah menilai diri sendiri, memperbaiki diri sendiri karena masih banyak kekurangan yang kita harus benahi,” katanya.
Selain dalam interaksi langsung, keteladanan Rasulullah juga dinilai penting diterapkan dalam penggunaan media sosial. Menanggapi pertanyaan mengenai kebiasaan membangun citra diri di media sosial, Ustadz Ihsan mengatakan personal branding pada dasarnya tidak dilarang selama digunakan untuk tujuan yang baik.
Namun, persoalan muncul apabila citra yang dibangun di media sosial justru bertentangan dengan perilaku seseorang dalam kehidupan nyata. “Yang perlu diingatkan bagaimana ketika kita berusaha untuk ee membangun citra diri atau personal branding tetapi dalam hal kehidupan nyatanya bertentangan atau bahkan kontradiksi dengan apa yang ditampilkan dalam media sosial,” katanya.
Ia menilai seseorang tidak seharusnya hanya berusaha terlihat sempurna di hadapan publik, sementara perilakunya dalam kehidupan sehari-hari berbeda jauh dengan apa yang ditampilkan melalui media sosial. “Dalam Islam juga tidak ada larangan, silakan saja. Tapi kalau memang personal brandingnya ini bertentangan dengan kehidupan nyatanya yang ditampilkan terlihat di media di balik lensanya itu bagus semua, tapi dalam kehidupan nyata tidak. Nah, ini bertentangan juga dengan akhlak cerminan Rasulullah sallallahu alaihi wasallam,” ujarnya.
Ia berharap momentum Maulid dapat mendorong umat Islam untuk membangun keselarasan antara apa yang diucapkan, ditampilkan, dan dilakukan. Dengan demikian, kecintaan kepada Rasulullah tidak berhenti pada simbol, tetapi tercermin dalam akhlak sehari-hari.
“Semoga Allah SWT menjadikan kita umat yang benar-benar mencintai Rasulullah. Cinta yang tidak hanya cukup melalui ucapan, tetapi juga terlihat dalam akhlak dan perbuatan,” katanya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....