Kemerdekaan Hakiki dalam Islam Dimulai dari Kemampuan Mengendalikan Diri
- 22 Agt 2026 20:55 WIB
- Cirebon
RRI.CO.ID, Cirebon – Kemerdekaan dalam Islam tidak hanya dimaknai sebagai terbebas dari penjajahan secara fisik, tetapi juga kemampuan manusia mengendalikan diri dari hawa nafsu. Hal tersebut disampaikan Ustadz Ikhsan Tobi’i, S.Pd dalam program Mutiara Pagi RRI Cirebon, Kamis, 20 Agustus 2026.
Ustadz Ikhsan menjelaskan, Islam memandang terbebas dari penindasan sebagai karunia besar dari Allah SWT. Menurutnya, Al-Qur'an menggambarkan perjuangan manusia yang tertindas melalui kisah Bani Israil di bawah kekuasaan Firaun.
Ia mengatakan, kemerdekaan hakiki dalam Islam setidaknya memiliki dua pengertian, yakni kemerdekaan secara fisik dan nonfisik. Kemerdekaan fisik berarti seseorang memiliki kebebasan menentukan sikap dan tindakan tanpa paksaan maupun penindasan dari pihak lain.
Menurutnya, kemerdekaan secara fisik memungkinkan seseorang menentukan tempat tinggal, pekerjaan, masa depan, hingga menyampaikan pendapat tanpa intimidasi. Selain itu, kemerdekaan juga mencakup hak dasar masyarakat seperti pendidikan, keamanan, dan perlindungan hukum.
Sementara itu, kemerdekaan nonfisik berkaitan dengan kemampuan manusia mengendalikan dirinya sendiri. Ia menyebut seseorang perlu menyelaraskan keputusan akal dengan keinginan jiwa agar tidak dikendalikan hawa nafsu.
“Kemerdekaan nonfisik ini mencakup kemampuan seseorang untuk mengendalikan hawa nafsunya, menahan amarahnya, mengendalikan keserakahan, tamak, dan sebagainya. Serta yang paling penting merdeka secara nonfisik adalah mengendalikan ego ketika berhadapan dengan orang lain,” ujarnya.
Ia menambahkan, seseorang dapat saja telah terbebas dari penjajahan manusia, tetapi belum benar-benar merdeka apabila masih dikuasai amarah, keserakahan, iri hati, dengki, dan hawa nafsu. Karena itu, kemerdekaan juga harus diwujudkan melalui kemampuan mengendalikan keinginan diri.
Ustadz Ikhsan mengajak masyarakat menjadikan momentum kemerdekaan sebagai sarana introspeksi. Menurutnya, masyarakat perlu mempertanyakan apakah telah terbebas dari penindasan orang lain sekaligus dari berbagai bentuk belenggu yang berasal dari dalam diri sendiri.
| Baca juga: Hidung, Gerbang Udara dan Aroma |
Ia menegaskan, kemerdekaan seharusnya tidak hanya dinikmati sebagai sebuah bangsa, tetapi juga diwujudkan dalam kehidupan pribadi. Dengan demikian, setiap individu dapat hidup bermartabat dan menjalankan kehidupan sesuai nilai-nilai agama Islam.
Lebih lanjut, ia mengatakan, pengisian kemerdekaan juga dapat dilakukan melalui pekerjaan yang diniatkan sebagai ibadah. Menurutnya, bekerja bukan sekadar menjalankan tugas untuk mencapai kepuasan duniawi, tetapi dapat menjadi sarana menghadirkan perubahan dan memberikan manfaat bagi lingkungan.
Ia mencontohkan, seorang pedagang yang bekerja dengan niat ibadah akan terdorong untuk bersikap jujur. Begitu pula seorang pekerja maupun pemimpin dapat menjadikan profesi dan jabatannya sebagai sarana memberikan teladan, memperbaiki lingkungan, serta memperjuangkan kesejahteraan masyarakat.
Ia kemudian menekankan pentingnya masyarakat bersikap kritis terhadap kepemimpinan. Menurutnya, pemimpin tidak cukup dinilai dari penampilan atau pemberitaan di media sosial, tetapi juga dari dampak kebijakan terhadap kesejahteraan masyarakat, termasuk pendidikan, kesehatan, dan lapangan pekerjaan.
Ia juga mengingatkan masyarakat agar tidak menjadi budak hawa nafsu dalam menjalani kehidupan. Menurutnya, kemampuan mengendalikan amarah, keserakahan, iri hati, dan ego merupakan bagian penting dari kemerdekaan yang sesungguhnya.
“Kemerdekaan yang kita lakukan baru saja kemerdekaan yang fisik, secara nonfisik kita masih terus bergelut untuk selalu berusaha menjadi manusia yang merdeka, manusia yang mampu meredam amarahnya sendiri,” katanya.
Ia berharap momentum peringatan kemerdekaan ke-81 Republik Indonesia dapat menjadi renungan sekaligus mendorong perubahan menuju kehidupan yang lebih baik. Kemerdekaan, menurutnya, harus diiringi upaya membangun masyarakat yang beriman, bertakwa, dan menjunjung nilai-nilai kebaikan.
Dengan demikian, makna kemerdekaan dalam Islam tidak berhenti pada terbebasnya bangsa dari penjajahan. Kemerdekaan juga menjadi proses panjang bagi setiap individu untuk membebaskan diri dari berbagai belenggu hawa nafsu, sehingga mampu menjalani kehidupan dengan bermartabat serta membawa manfaat bagi sesama.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....