Hygge: Rahasia Kebahagiaan Sederhana dari Denmark yang Mulai Mendunia

  • 16 Jun 2026 12:59 WIB
  •  Cirebon
Poin Utama
  • Hygge: Rahasia Kebahagiaan Sederhana dari Denmark yang Mulai Mendunia

RRI.CO.ID, Cirebon - Ketika cuaca dingin datang, banyak orang memilih menikmati secangkir minuman hangat, membaca buku favorit, atau berkumpul bersama keluarga di rumah. Aktivitas sederhana tersebut ternyata memiliki sebuah nama khusus dalam budaya Denmark, yaitu hygge.

Meski belum begitu dikenal di Indonesia, hygge merupakan salah satu istilah yang sangat populer di negara-negara Skandinavia. Bahkan, konsep ini sering dikaitkan dengan tingginya tingkat kebahagiaan masyarakat Denmark yang secara konsisten menempati peringkat atas dalam berbagai survei kebahagiaan dunia.

Secara umum, hygge diartikan sebagai suasana nyaman, hangat, aman, dan menyenangkan yang tercipta melalui hal-hal sederhana dalam kehidupan sehari-hari. Namun bagi masyarakat Denmark, hygge bukan sekadar aktivitas, melainkan cara pandang terhadap kehidupan.

Menurut Meik Wiking, hygge adalah tentang menciptakan suasana yang membuat seseorang merasa nyaman secara fisik maupun emosional. "Hygge bukan tentang kemewahan, tetapi tentang menikmati momen sederhana bersama orang-orang yang berarti," tulis Wiking dalam bukunya The Little Book of Hygge.

Konsep ini telah menjadi bagian dari budaya Denmark selama berabad-abad. Di negara yang memiliki musim dingin panjang dan malam yang berlangsung lebih lama, masyarakat terbiasa menciptakan suasana hangat di dalam rumah melalui cahaya lilin, makanan rumahan, percakapan santai, dan kebersamaan keluarga.

Menariknya, hygge tidak selalu membutuhkan biaya besar. Duduk bersama teman sambil menikmati kopi, berbincang tanpa gangguan gawai, atau menghabiskan waktu bersama keluarga juga dianggap sebagai bentuk hygge.

Menurut penelitian dari University of Copenhagen, hubungan sosial yang kuat merupakan salah satu faktor penting yang berkontribusi terhadap kesejahteraan psikologis masyarakat Denmark. Hygge menjadi salah satu cara untuk mempererat hubungan tersebut.

Psikolog sosial Ilona Boniwell menjelaskan bahwa manusia pada dasarnya membutuhkan rasa aman dan koneksi sosial. Aktivitas yang menciptakan kehangatan emosional dapat membantu mengurangi stres serta meningkatkan perasaan bahagia.

Di era modern, banyak orang menjalani kehidupan yang serba cepat. Jadwal padat, tuntutan pekerjaan, dan penggunaan teknologi yang berlebihan sering kali membuat seseorang kehilangan waktu untuk menikmati momen sederhana.

Di sinilah konsep hygge menjadi relevan. Filosofi ini mengajak masyarakat untuk melambat sejenak dan menghargai pengalaman sehari-hari yang sering terlewatkan.

Contohnya, menikmati hujan dari teras rumah, memasak bersama keluarga, membaca buku tanpa tergesa-gesa, atau mengobrol santai dengan sahabat dapat menjadi bentuk hygge yang mudah dilakukan.

Meski berasal dari Denmark, prinsip hygge sebenarnya dapat diterapkan di mana saja, termasuk di Indonesia. Budaya berkumpul bersama keluarga, menikmati hidangan rumahan, hingga tradisi gotong royong yang masih hidup di berbagai daerah memiliki nilai-nilai yang sejalan dengan konsep tersebut.

Para ahli menilai bahwa kebahagiaan tidak selalu berasal dari pencapaian besar atau kepemilikan materi. Dalam banyak kasus, perasaan bahagia justru muncul dari hubungan yang hangat, rasa syukur, dan kemampuan menikmati hal-hal sederhana.

Karena itu, hygge bukan hanya istilah unik dari luar negeri. Ia merupakan pengingat bahwa di tengah kesibukan hidup, manusia tetap membutuhkan ruang untuk merasa nyaman, dekat dengan orang-orang tercinta, dan menikmati momen yang sederhana namun bermakna.

Pada akhirnya, kebahagiaan sering kali tidak ditemukan dalam sesuatu yang luar biasa. Seperti yang diajarkan hygge, kebahagiaan dapat hadir melalui secangkir teh hangat, percakapan yang tulus, dan waktu berkualitas bersama orang-orang yang kita sayangi.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....