Tahu Itu Salah, tapi Tetap Dilakukan? Ini yang Disebut Cognitive Dissonance

  • 15 Mei 2026 16:38 WIB
  •  Cirebon
Poin Utama
  • Cognitive Dissonance

RRI.CO.ID, Cirebon - Pernahkah Anda merasa tidak nyaman karena melakukan sesuatu yang sebenarnya bertentangan dengan apa yang Anda yakini? Misalnya seseorang tahu bahwa merokok berbahaya bagi kesehatan, tetapi tetap merokok setiap hari atau seseorang percaya pentingnya hidup hemat, namun tetap sering berbelanja secara impulsif.

Kondisi psikologis seperti ini dikenal sebagai cognitive dissonance. Dilansir dari verywellmind, cognitive dissonance adalah keadaan ketika seseorang memiliki dua pikiran, keyakinan, atau perilaku yang saling bertentangan.

Ketidaksesuaian ini menimbulkan rasa tidak nyaman secara psikologis. Untuk mengurangi rasa tidak nyaman tersebut, seseorang biasanya mencoba mencari alasan atau pembenaran terhadap perilakunya.

Istilah ini pertama kali diperkenalkan oleh psikolog Leon Festinger pada tahun 1957. Menurut Festinger, manusia memiliki dorongan alami untuk menjaga konsistensi antara pikiran dan tindakan.

Ketika keduanya tidak selaras, muncul tekanan psikologis yang membuat seseorang ingin “memperbaiki” ketidaksesuaian tersebut. Ada beberapa cara yang biasanya dilakukan seseorang untuk mengurangi cognitive dissonance.

Cara pertama adalah dengan mengubah perilaku. Misalnya seseorang yang menyadari bahaya merokok akhirnya memutuskan untuk berhenti merokok.

Cara kedua adalah dengan mengubah cara berpikir. Contohnya seseorang yang tetap merokok mungkin berkata, “Banyak orang merokok tetapi tetap sehat.” Dengan cara ini ia mencoba mengurangi ketidaknyamanan dalam pikirannya.

Cara lain adalah dengan menambahkan pembenaran baru. Misalnya seseorang mengatakan bahwa merokok membantu mengurangi stres.

Alasan ini membuat perilaku merokok terasa lebih dapat diterima. Fenomena cognitive dissonance sebenarnya sangat sering terjadi dalam kehidupan sehari-hari.

Misalnya ketika seseorang membeli barang mahal yang sebenarnya tidak terlalu dibutuhkan. Setelah membeli, ia mungkin akan meyakinkan dirinya bahwa barang tersebut memang penting.

Hal ini menunjukkan bahwa manusia tidak selalu bersikap sepenuhnya rasional. Terkadang pikiran kita justru menyesuaikan keyakinan agar terasa cocok dengan keputusan yang sudah diambil.

Memahami cognitive dissonance dapat membantu seseorang mengenali pola pikirnya sendiri. Ketika seseorang menyadari adanya konflik antara pikiran dan tindakan, ia memiliki kesempatan untuk mengevaluasi keputusan yang dibuat.

Pada akhirnya, fenomena ini menunjukkan bahwa pikiran manusia selalu berusaha mencari keseimbangan antara apa yang diyakini dan apa yang dilakukan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....