Ketua Difabel Lemahabang Harapkan Dukungan UMKM Setara Kelompok Lain

  • 05 Jul 2026 16:01 WIB
  •  Cirebon

RRI.CO.ID, Cirebon – Kelompok Difabel Kecamatan Lemahabang, Kabupaten Cirebon, berharap mendapat dukungan yang setara dengan organisasi kemasyarakatan lainnya dalam pengembangan usaha dan pemberdayaan anggotanya. Harapan tersebut disampaikan agar kelompok difabel dapat semakin mandiri melalui berbagai program UMKM yang tengah dikembangkan.

Ketua Kelompok Difabel Kecamatan Lemahabang, Kabupaten Cirebon, Dading Syarifudin, mengatakan pembentukan kelompok difabel berawal dari pengalaman pribadinya sebagai penyandang disabilitas. Ia ingin mendorong penyandang disabilitas yang masih menutup diri agar berani beraktivitas dan berpartisipasi di tengah masyarakat.

"Saya ingin berbagi pengalaman kepada teman-teman yang masih diam di rumah dan belum berdaya. Harapannya mereka bisa setara, bisa bermasyarakat, dan bisa bersosialisasi," ujarnya dalam program Ruang Disabilitas dan Inklusi edisi Sabtu, 4 Juli 2026.

Menurut Dading, kelompok difabel awalnya hanya dibentuk melalui struktur organisasi sederhana sebelum dilakukan pendataan anggota. Setelah proses pendataan selesai, jumlah anggota terus bertambah dan kelompok mulai berkembang di sejumlah desa.

Ia menyebutkan, hingga kini pendampingan Forum Komunikasi Difabel Cirebon telah menjangkau sembilan desa yang tersebar di empat kecamatan di Kabupaten Cirebon. Setiap bulan, forum juga menggelar pertemuan rutin untuk meningkatkan kapasitas anggota sekaligus memperkuat organisasi melalui pengelolaan kas bersama.

Dading menjelaskan, kelompok difabel di desa-desa tersebut diharapkan dapat menjadi percontohan bagi wilayah lain dalam mewujudkan desa inklusif. Menurutnya, keterbatasan program pendampingan membuat pengembangan kelompok difabel perlu mendapat dukungan lebih luas dari pemerintah daerah.

"Harapan kami sederhana, kelompok difabel bisa diperlakukan sama seperti Karang Taruna atau PKK karena sudah masuk dalam Peraturan Desa. Dengan begitu kebutuhan teman-teman, termasuk pengembangan UMKM, bisa mendapat dukungan anggaran,"katanya.

Di bidang pemasaran, Dading mengakui anggota kelompok difabel masih membutuhkan pendampingan yang lebih intensif, terutama dalam pemasaran digital. Meski pernah mengikuti pelatihan dari Dinas Koperasi dan rutin dilibatkan dalam berbagai bazar, kemampuan anggota untuk menerapkan materi pelatihan masih perlu ditingkatkan melalui pembinaan yang berkelanjutan.

Sementara itu, produk UMKM yang dihasilkan kelompok difabel telah mendapat respons positif dari masyarakat. Salah satu produk yang paling diminati adalah minuman jahe instan yang mulai dipasarkan sejak masa pandemi COVID-19, meski pengembangan kemasan dan inovasi produk hingga kini masih dilakukan secara mandiri oleh para anggota kelompok.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....