Festival Tunas Bahasa Ibu Jadi Wadah Lestarikan Budaya untuk Generasi Muda Biak

  • 13 Mei 2026 10:59 WIB
  •  Biak

RRI.CO.ID,Biak – Menjawab tantangan nyata terancamnya kepunahan bahasa daerah, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Biak Numfor menggelar Festival Tunas Bahasa Ibu (FTBI) 2026 di Gedung Yasokabi, Selasa 12 Mei 2026. Mengusung tema “Masih Banggakah Kita Berbahasa Ibu?”, kegiatan ini berfokus utama pada upaya pelestarian budaya dan pewarisan nilai luhur kepada generasi muda sebagai penerus bangsa dan identitas daerah.

Kepala Bidang Kebudayaan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Biak Numfor, Noli Ayomi, menegaskan bahwa bahasa adalah jantung dari sebuah budaya. Ia menjelaskan, kegiatan ini merupakan replikasi program nasional yang kini diadopsi pemerintah daerah, mengingat data UNESCO 2010 dan data Kemendikbud 2023 mencatat sekitar 25 persen bahasa daerah di Indonesia berstatus rentan hingga kritis punah—termasuk sejumlah dialek Bahasa Biak.

Ancaman ini kian nyata karena dominasi bahasa nasional dan asing, serta kecenderungan generasi muda yang mulai meninggalkan bahasa ibu dalam pergaulan sehari-hari, baik di rumah maupun sekolah.

“Pelestarian budaya tidak bisa menunggu, harus dimulai dari generasi penerus. Mereka adalah pemegang kunci agar Bahasa Biak dan segala kearifan lokal di dalamnya tetap hidup. FTBI ini kami rancang bukan sekadar lomba, melainkan wadah edukasi dan laboratorium budaya agar anak-anak muda mencintai, menguasai, dan bangga menggunakan bahasa leluhur mereka,” ujarnya.

Menurutnya, meski seseorang berasal dari latar belakang suku apa pun, karena tinggal dan tumbuh di Biak Numfor, maka Bahasa Biak harus dijadikan bahasa ibu dan kebanggaan bersama. Tujuan utama kegiatan ini adalah menanamkan kesadaran kolektif bahwa bahasa daerah bukan sekadar alat bicara, melainkan identitas, sejarah, dan nilai moral yang membentuk karakter masyarakat Biak.

Agar lebih diterima oleh selera dan gaya anak muda masa kini, panitia menyusun kategori lomba yang relevan dan kekinian, namun tetap berakar pada budaya. Bagi jenjang SD, lomba meliputi pembacaan puisi, pidato, dan mendongeng dalam Bahasa Biak. Sementara jenjang SMP diisi dengan lomba nyanyi solo, penulisan cerita pendek, hingga stand-up comedy atau cerita MOB berbahasa daerah.

“Pendekatan ini dilakukan agar budaya dan bahasa daerah tidak dianggap kuno, melainkan dinamis dan relevan untuk diekspresikan dalam seni maupun komunikasi masa kini,”ucapnya.

Ia menambahkan, keberhasilan pelestarian budaya sangat bergantung pada kolaborasi antara sekolah, keluarga, dan masyarakat. Lewat FTBI, diharapkan lahir bibit-bibit muda yang tidak hanya berprestasi, tetapi juga menjadi agen pelestarian budaya, hingga nantinya Bahasa Biak dapat dikenal dan dibanggakan hingga ke tingkat provinsi, nasional, bahkan mancanegara.

“Jika generasi penerusnya tidak peduli, maka budaya dan bahasa kita akan hilang perlahan. Mari tanamkan rasa bangga ini sejak dini, agar warisan leluhur tetap lestari selamanya di bumi Biak Numfor,” ungkapnya.

Sebanyak 80 peserta dari 15 SD dan 15 SMP menjadi peserta dalam ajang ini, dengan pendampingan budayawan lokal sebagai dewan juri, yakni Demianus Merino, S.Pd., Hosea Merino, dan Imelda Rumbewas, S.Pd.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....