Festival Tunas Bahasa Ibu Biak Numfor, Semangat Lestarikan Bahasa Daerah

  • 12 Mei 2026 14:05 WIB
  •  Biak

RRI.CO.ID,Biak – Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Biak Numfor menggelar kegiatan Festival Tunas Bahasa Ibu (FTBI) tahun 2026, berlangsung di Gedung Yasokabi, Selasa 12 Mei 2026. Mengusung tema “Masih Banggakah Kita Berbahasa Ibu?”, kegiatan ini menjadi wujud nyata komitmen pemerintah daerah dalam menjaga dan merevitalisasi Bahasa Biak sebagai identitas budaya dan warisan leluhur.

Dalam sambutan Bupati Biak Numfor yang dibacakan oleh PLH Sekretaris Daerah, Semuel Rumakeuw, ditegaskan bahwa bahasa daerah bukan sekadar alat komunikasi, tetapi jati diri yang menyimpan kearifan lokal, sejarah, serta nilai moral pembentuk karakter masyarakat Biak. Di tengah derasnya arus modernization dan globalisasi, Bahasa Biak menghadapi tantangan serius: semakin berkurangnya penutur di kalangan generasi muda.

“Kegiatan ini bukan sekadar ajang perlombaan, melainkan wujud revitalisasi bahasa daerah. Ini komitmen kita agar Bahasa Biak tetap hidup, eksis, dan digunakan dalam kehidupan sehari-hari,” ujarnya.

Ia juga mengapresiasi pencapaian membanggakan Kabupaten Biak Numfor, yang pada Mei 2025 lalu meraih penghargaan tingkat nasional dari Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi. Penghargaan tersebut diterima karena keberhasilan pemerintah daerah dalam upaya pelestarian Bahasa Biak, menjadikan Biak satu dari 44 kabupaten/kota se-Indonesia yang dinilai paling berkomitmen merawat bahasa ibu dan meningkatkan jumlah penutur muda.

Kepada para peserta yang merupakan tunas muda daerah, Ia berpesan agar tidak malu menggunakan Bahasa Biak. Ia juga mendorong para peserta untuk berprestasi hingga ke tingkat provinsi maupun nasional guna mengharumkan nama daerah.

“Kalian adalah pewaris kebudayaan Biak Numfor. Jangan malu bertutur kata dengan bahasa ibu kalian. Panggung ini tempat kalian mendongeng, berpidato, bernyanyi, dan berkarya dalam Bahasa Biak,” ucapnya.

Dalam kesempatan ini, Ia menyampaikan terima kasih dan apresiasi tinggi kepada para guru serta pendidik budaya yang menjadi garda terdepan dalam mengajarkan muatan lokal Bahasa Biak di sekolah. Ia menekankan pentingnya kolaborasi erat antara sekolah, keluarga, dan komunitas agar upaya pelestarian bahasa ini berjalan sukses dan berkelanjutan.

Sementara itu, Kepala Bidang Kebudayaan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Biak Numfor, Noli Ayomi, dalam laporannya menjelaskan bahwa FTBI 2026 merupakan replikasi kegiatan serupa yang diinisiasi Kemendikdasmen pada 2025, dan kini diadopsi Kementerian Kebudayaan. Kegiatan ini diselenggarakan karena bahasa daerah menjadi pilar utama menjaga identitas budaya, namun kondisinya semakin terancam punah.

Data UNESCO tahun 2010 menunjukkan ancaman kepunahan bahasa semakin nyata akibat dominasi bahasa nasional maupun asing. Sementara data Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan tahun 2023 mencatat, sekitar 25% bahasa daerah di Indonesia berada dalam status rentan hingga kritis—termasuk beberapa dialek lokal Bahasa Biak. Kondisi ini diperparahkarena generasi muda cenderung meninggalkan bahasa ibu dalam interaksi sehari-hari, baik di rumah maupun sekolah.

“FTBI hadir bukan hanya sebagai ajang kompetisi, tapi juga laboratorium budaya untuk menghidupkan kembali vitalitas Bahasa Biak di tengah arus zaman,” ujarnya.

Kegiatan ini memiliki tujuan utama, yaitu mempertahankan keberadaan Bahasa Biak di tengah tantangan global, membangun kesadaran kolektif agar bahasa ini menjadi media ekspresi budaya yang relevan dan dikenal dunia luar, serta merumuskan strategi penguatan pelestarian bahasa di masa depan.

Penyelenggaraan FTBI 2026 menggunakan pendekatan edukatif dan interaktif yang disusun secara terstruktur. Panitia juga didukung para budayawan sebagai dewan juri, yakni Demianus Merino, S.Pd., Hosea Merino, dan Imelda Rumbewas, S.Pd.

Beragam kategori lomba disajikan dan disesuaikan dengan selera kekinian agar lebih diterima generasi muda. Untuk jenjang SD, lomba meliputi pembacaan puisi, pidato, dan mendongeng dalam Bahasa Biak. Sementara jenjang SMP diisi lomba nyanyi solo, penulisan cerita pendek (cerpen), hingga stand-up comedy atau cerita MOB dalam Bahasa Biak.

Sebanyak 80 peserta dari 15 SD dan 15 SMP di wilayah Biak Numfor menjadi sasaran kegiatan ini. Harapannya, melalui FTBI, Bahasa Biak tidak hanya menjadi warisan masa lalu, tetapi tetap menjadi bahasa ibu yang hidup, bangga digunakan, dan lestari di tangan generasi penerus.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....