Menikmati Ikan Asar, Cita Rasa Papua dalam Kekayaan Kuliner Indonesia
- 31 Agt 2026 11:39 WIB
- Biak
RRI.CO.ID, Biak - Papua merupakan salah satu wilayah Indonesia yang memiliki kekayaan budaya dan tradisi yang begitu beragam. Keunikan tersebut tidak hanya terlihat dari geografis, kesenian, dan adat istiadat masyarakatnya, tetapi juga tercermin dalam kuliner khasnya. Salah satu sajian yang menarik perhatian adalah ikan asar, kuliner laut yang telah lama menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Papua, salah satunya di Jayapura. Dikutip dari indonesiakaya.com, selain disantap sebagai hidangan sehari-hari, ikan asar juga kerap menjadi pilihan oleh-oleh bagi wisatawan yang berkunjung ke wilayah tersebut.
Ikan asar merupakan olahan ikan yang diproses dengan teknik pengasapan hingga dagingnya matang dan cukup kering. Sajian ini banyak ditemukan di kawasan pasar tradisional Jayapura, termasuk Dok 9 yang mayoritas masyarakatnya berprofesi sebagai nelayan. Ikan menjadi salah satu bahan pangan yang mudah ditemukan di kawasan tersebut, sekaligus menjadi bagian penting dari aktivitas perdagangan masyarakat setempat. Tidak heran jika ikan asar kemudian dikenal sebagai salah satu kuliner yang menjadi kebanggaan Kota Jayapura dan turut memperkaya ragam kuliner Nusantara.
| Baca juga: Semangkuk Pindang, Sejuta Pesan tentang Alam |
Sekilas, ikan asar memang menyerupai ikan asap pada umumnya. Namun, teknik pengolahannya memiliki perbedaan, terutama pada posisi ikan ketika diasapi. Jika ikan asap biasanya diletakkan secara horizontal di atas sumber asap, ikan asar diposisikan secara diagonal di sisi bara yang menghasilkan asap. Cara tersebut dilakukan agar ikan matang secara merata dan kadar air di dalam daging berkurang. Jenis ikan yang umum digunakan antara lain cakalang, ekor kuning, dan tongkol karena memiliki tekstur daging yang padat. Ikan kakap, tuna, hingga barakuda juga dapat digunakan sebagai bahan dasar.
Proses pembuatan ikan asar terbilang sederhana, tetapi membutuhkan ikan yang benar-benar segar agar hasilnya tetap berkualitas. Setelah dibersihkan dan dikeluarkan bagian dalamnya, ikan kemudian diasapi menggunakan bara dan kayu bakar dalam ruangan tertutup. Proses pengasapan biasanya berlangsung sekitar dua hingga lima jam, bergantung pada jenis dan ukuran ikan serta kondisi kayu bakar. Pengasapan dalam waktu yang cukup membuat aroma asap meresap ke dalam daging sekaligus menghasilkan tekstur ikan yang matang dan lebih kering.
| Baca juga: Kopi, Kebiasaan, dan Gaya Hidup |
Tradisi mengolah ikan asar juga diwariskan secara turun-temurun oleh sejumlah masyarakat. Salah satunya dilakukan Mama Magdalena, pengolah ikan asar rumahan yang meneruskan usaha keluarganya dari sang kakek. Ikan yang telah diasap kemudian dijual di sejumlah pasar seperti Pasar Hamadi dan Pasar Youtefa Abepura. Harga ikan asar cukup beragam karena dipengaruhi ukuran ikan dan musim tangkapan. Saat ikan melimpah, harganya dapat berkisar Rp35.000 hingga Rp70.000 per ekor, sedangkan ketika hasil tangkapan berkurang, harganya dapat meningkat hingga sekitar Rp100.000-Rp200.000 untuk ukuran sedang. Dalam kondisi normal, ikan asar dapat bertahan sekitar tiga hingga empat hari dan lebih lama jika disimpan di dalam lemari es.
Bagi wisatawan yang ingin membawa pulang ikan asar sebagai oleh-oleh khas Jayapura, beberapa pasar dapat menjadi pilihan, seperti Pasar Mama-Mama Papua, Pasar Malam Cigombong, Pasar Youtefa Abepura, dan Pasar Hamadi. Cita rasanya yang gurih dengan aroma khas ikan asap membuat sajian ini nikmat disantap secara langsung maupun diolah kembali. Ikan asar dapat dimasak menjadi rica-rica, dipadukan dengan kuah santan, atau dinikmati secara sederhana bersama sambal kecap dan nasi panas. Dengan cita rasa yang autentik serta tradisi pengolahan yang diwariskan antargenerasi, ikan asar menjadi salah satu kekayaan kuliner Papua yang turut memperkaya warna kuliner Indonesia.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....