Papeda dan Ikan Kuah Kuning, Warisan Rasa dari Bumi Cenderawasih
- 17 Feb 2026 12:52 WIB
- Biak
RRI.CO.ID, Biak - Papeda kini dikenal sebagai salah satu kuliner favorit dari Papua yang semakin populer di berbagai daerah di Indonesia. Namun di balik kepopulerannya, papeda sesungguhnya merupakan warisan kuliner asli Tanah Papua yang telah mengakar kuat dalam kehidupan masyarakat setempat sejak lama. Berdasarkan informasi dari Indonesia.go.id, papeda memiliki sejarah panjang dan telah menjadi bagian penting dalam tradisi masyarakat adat Sentani dan komunitas Arab di wilayah Danau Sentani, Arso, hingga Manokwari.
Sebagai makanan pokok, papeda tidak hanya dikenal di Papua, tetapi juga di Maluku dan beberapa wilayah Sulawesi. Terbuat dari sagu, papeda berbentuk seperti bubur kental atau gel berwarna bening. Kandungan gizinya pun cukup baik karena rendah gula dan kolesterol, serta kaya serat, sehingga menjadi sumber energi yang menyehatkan.
Dalam kajian berjudul “Sagu Sebagai Makanan Rakyat dan Sumber Informasi Budaya Masyarakat Inanwatan: Kajian Folklor Non-Lisan” karya Quin D. Tulalessy, dijelaskan bahwa proses pembuatan papeda memerlukan ketelitian. Aci sagu dipanaskan terlebih dahulu, lalu dicampur dengan sedikit air dingin hingga mengental. Setelah itu, adonan disiram air mendidih sambil terus diaduk satu arah hingga warnanya berubah dari putih menjadi bening dan teksturnya semakin kenyal. Teknik mengaduk yang konsisten sangat penting agar hasilnya merata dan sempurna.
Papeda yang matang memiliki ciri khas tampilan transparan serta tekstur yang elastis, menyerupai tali dan tidak mudah putus—dikenal dengan istilah batali. Jika papeda mudah terputus, biasanya proses pengolahannya kurang tepat, misalnya karena sagu terlalu bersih sehingga sari halusnya ikut terbuang.
Sekilas terlihat sederhana, tetapi membuat papeda membutuhkan ketepatan takaran dan suhu air. Air yang terlalu banyak akan membuat teksturnya terlalu cair, sementara air yang terlalu sedikit menghasilkan papeda yang keras. Suhu air pun harus pas—tidak terlalu panas dan tidak terlalu dingin. Karena itulah, tidak semua orang dapat menghasilkan papeda dengan kualitas yang sempurna.
Melansir indonesiakaya.com, dalam tradisi masyarakat Papua, papeda kerap dihidangkan pada momen-momen penting. Di Raja Ampat, misalnya, papeda disajikan dalam Upacara Watani Kame sebagai penanda berakhirnya siklus kematian seseorang. Sementara di Inanwatan, Sorong Selatan, papeda hadir dalam perayaan kelahiran anak pertama. Sajian yang paling populer adalah papeda dengan ikan kuah kuning yang kaya rempah dan cita rasa segar. Namun papeda juga dapat dinikmati bersama sayur ganemo, daging, kelapa, maupun lauk lainnya.
Cara penyajiannya pun unik. Papeda biasanya digulung menggunakan alat khusus berbentuk sumpit besar yang disebut gata-gata, dengan gerakan cepat agar adonan tidak terputus. Setelah diletakkan di piring dan disiram kuah kuning, papeda dinikmati dengan cara diseruput bersama kuahnya yang hangat dan gurih.
Sebagai bagian dari kekayaan kuliner Nusantara, papeda bukan sekadar makanan, melainkan juga simbol budaya dan identitas masyarakat Papua. Setelah mengenal kisah dan prosesnya, apakah kamu tertarik mencicipi kelezatannya?
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....