Transaksi LCT Indonesia Tembus USD42,07 Miliar pada Semester Pertama 2026
- 28 Sep 2026 17:46 WIB
- Batam
RRI.CO.ID, Jakarta, Nilai transaksi perdagangan dan investasi Indonesia dengan negara mitra menggunakan mata uang lokal atau Local Currency Transaction (LCT) melonjak 259 persen secara tahunan pada semester pertama 2026.
Bank Indonesia mencatat nilai transaksi LCT mencapai USD42,07 miliar hingga semester I 2026, naik dari USD11,72 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya. Angka tersebut bahkan telah melampaui total transaksi LCT sepanjang 2025 yang mencapai USD25,74 miliar.
Indonesia saat ini menerapkan kerja sama LCT dengan tujuh negara, yakni Malaysia, Thailand, Tiongkok, Jepang, Korea Selatan, Uni Emirat Arab, dan Singapura. Bank Indonesia menyatakan kerja sama tersebut akan terus diperluas dengan negara mitra lainnya.
Deputi Gubernur Bank Indonesia Thomas A. M. Djiwandono mengatakan meningkatnya aktivitas ekonomi dan keuangan lintas negara membutuhkan dukungan layanan kebanksentralan yang andal, efisien, dan aman.
“Kredibilitas kebijakan perlu didukung oleh kredibilitas operasional,” kata Thomas saat membuka Central Banking Services Festival (CB Fest) 2026 di Hotel Kempinski, Jakarta, Senin, 28 September 2026.
Menurut Thomas, kebutuhan tersebut mencakup penyelesaian transaksi operasi moneter, pengelolaan cadangan devisa dan emas, kerja sama keuangan internasional, hingga layanan kepada pemerintah dan industri keuangan.
Dalam layanan kepada pemerintah, Bank Indonesia antara lain menangani penatausahaan rekening pemerintah, transfer dana dan penyelesaian transaksi, serta penatausahaan utang luar negeri pemerintah. Sementara bagi industri keuangan, Bank Indonesia melakukan penyelesaian transaksi surat berharga dalam rupiah maupun valuta asing.
Kerja sama LCT menjadi salah satu bentuk perluasan konektivitas keuangan lintas negara. Penggunaan mata uang lokal dalam transaksi bilateral dinilai dapat mendukung ketahanan eksternal dan stabilitas nilai tukar sekaligus memfasilitasi perdagangan dan investasi dengan negara mitra.
Wakil Menteri Keuangan Juda Agung mengatakan ketahanan ekonomi tidak hanya berkaitan dengan kemampuan menghadapi krisis, tetapi juga kemampuan beradaptasi dan mempertahankan kepercayaan publik. Menurutnya, ketahanan perlu dibangun sebelum krisis melalui kebijakan kredibel, institusi yang kuat, tata kelola yang baik, adaptasi berkelanjutan, dan kerja sama.
“Untuk itu, sinergi kebijakan fiskal, moneter, dan sektor keuangan diperlukan untuk merespons perubahan ekonomi dan perkembangan teknologi,” ujar Juda.
CB Fest 2026 mengangkat tema Strengthening Financial Services Resilience Amid Escalating Geopolitical Risk to Support Economic Growth. Forum tahunan tersebut mempertemukan bank sentral, otoritas sektor keuangan, kementerian/lembaga, industri perbankan, serta asosiasi internasional.
Pembahasan tahun ini menyoroti dampak perubahan geopolitik terhadap ekonomi dan stabilitas keuangan, termasuk respons yang perlu disiapkan otoritas dan industri. Forum juga membahas pemanfaatan kecerdasan artifisial dan generative AI untuk meningkatkan efisiensi serta mendorong transformasi menuju intelligent reporting, dengan tetap memperhatikan transparansi, akuntabilitas, dan kompetensi fungsi keuangan.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....