GSIH Batam Buka Ruang Kolaborasi Teknologi, Startup dan UMKM

  • 26 Agt 2026 18:15 WIB
  •  Batam

RRI.CO.ID, Batam - Peluncuran Garuda Spark Innovation Hub (GSIH) di Kota Batam membuka ruang lebih luas bagi komunitas, startup, industri, akademisi dan pelaku usaha untuk membangun kolaborasi di bidang digital.

Aktivasi GSIH Batam yang berlangsung di Nongsa Digital Park, Rabu, 26 Agustus 2026, menjadi bagian dari peluncuran nasional GSIH di 10 kota. Di tingkat lokal, kegiatan tersebut diisi dengan diskusi interaktif yang mempertemukan berbagai aktor dalam ekosistem digital Batam.

Ketua Kadin Kepulauan Riau, Mustava, menilai keberadaan GSIH dapat menjadi momentum untuk memperkuat talenta baru di bidang teknologi. Ia menyebut Kadin Kepri juga telah memberikan perhatian terhadap perkembangan industri 4.0, robotik dan teknologi informasi.

“Kami di Kadin Provinsi Kepri sangat menyambut baik dengan adanya Garuda Spark ini. Kita berharap nantinya akan muncul talenta-talenta baru di industri digital,” ujar Mustava.

Menurutnya, perkembangan industri digital dan investasi pusat data di Batam harus diikuti dengan kemampuan masyarakat lokal untuk memanfaatkan peluang tersebut. Ia juga mendorong generasi muda agar tidak hanya menjadi pekerja, tetapi mulai membangun usaha sendiri.

Mustava mengatakan, pelaku UMKM juga perlu didorong untuk semakin memahami teknologi digital. Menurutnya, pertumbuhan ekonomi dan investasi yang berlangsung di Batam dapat menjadi peluang apabila pelaku usaha lokal mampu mengikuti perubahan kebutuhan pasar.

Di sisi lain, Head of Advisory and Program Instellar, Rizky Anugrah, menekankan bahwa pengembangan ekosistem digital tidak cukup dilakukan melalui banyaknya kegiatan atau pertemuan. Menurutnya, kolaborasi harus berangkat dari kebutuhan nyata yang ingin diselesaikan bersama.

“Start with needs, not activities. Kalau tidak ada kebutuhan yang real dan tidak menyelesaikan suatu problem, akhirnya jadi kongkow-kongkow saja,” kata Rizky dalam sesi interaktif GSIH Batam.

Rizky menjelaskan, ekosistem yang kuat juga membutuhkan pertukaran nilai antarpihak. Artinya, setiap organisasi yang terlibat perlu memahami kebutuhan dan kontribusi masing-masing sehingga kolaborasi tidak berhenti pada pertukaran kontak atau kegiatan seremonial.

Ia mencontohkan pengembangan ekosistem startup di sejumlah daerah yang menunjukkan bahwa keberadaan pelaku usaha digital saja belum cukup. Diperlukan penggerak ekosistem yang aktif untuk membantu startup, komunitas dan talenta agar dapat berkembang secara berkelanjutan.

Dalam sesi tersebut, sejumlah pelaku ekosistem Batam juga menyampaikan kebutuhan untuk memperluas akses terhadap teknologi dan keahlian. Salah satunya Komunitas AI Batam yang mendorong pemanfaatan kecerdasan buatan untuk pendidikan, UMKM dan berbagai bidang lainnya.

Kolaborasi juga berpeluang diperluas dengan industri teknologi yang telah memiliki tenaga ahli di Batam. Berbagai keahlian seperti Internet of Things, microcontroller, teknologi otomotif, battery management system dan efisiensi energi dinilai dapat menjadi sumber pengetahuan yang lebih luas bagi ekosistem lokal.

Melalui GSIH, ruang pertemuan tersebut diarahkan untuk menghasilkan tindak lanjut yang lebih konkret. Pemerintah, industri, akademisi dan komunitas diharapkan dapat menyatukan kebutuhan, keahlian dan sumber daya sehingga ekosistem digital Batam tidak hanya berkembang dari sisi jumlah pelaku, tetapi juga menghasilkan inovasi dan peluang ekonomi baru.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....