Siswa SMKN 8 Batam Belajar di Koridor, Jumlah Rombel Membengkak

  • 30 Sep 2026 17:07 WIB
  •  Batam

RRI.CO.ID, Batam - Keterbatasan ruang kelas membuat sejumlah siswa SMK Negeri 8 Batam harus mengikuti pembelajaran di koridor sekolah. Kondisi itu terjadi setelah jumlah peserta didik pada tahun ajaran 2026/2027 meningkat cukup signifikan dibandingkan kapasitas ruang yang tersedia.

Kondisi tersebut diketahui saat Wakil Gubernur Kepulauan Riau Nyanyang Haris Pratamura melakukan inspeksi mendadak ke SMKN 8 Batam, Selasa (29/9/2026) pagi. Ia melihat langsung aktivitas belajar siswa yang berlangsung di area koridor depan ruang kelas.

Kepala SMKN 8 Batam Soleha Nurul Bahriyah mengatakan, terdapat enam kelas yang secara bergantian memanfaatkan koridor sebagai tempat belajar. Kondisi itu sudah berlangsung sejak Agustus 2026.

Menurut Soleha, persoalan muncul setelah jumlah rombongan belajar (rombel) di sekolah meningkat dari sekitar 13 menjadi 23 rombel pada tahun ajaran ini. Penambahan tersebut tidak diikuti ketersediaan ruang kelas dan tenaga pengajar yang memadai.

“Yang tadinya kita hanya terima 13 kelas, tapi tahun ini menjadi 23. Jadi beriring dengan kekurangan kelas, kemudian kekurangan guru. Jadi solusi sementara sembari menunggu adanya guru baru, kita belajar di luar, kita manfaatkan koridor,” kata Soleha.

Setiap kelas di SMKN 8 Batam rata-rata berisi 38 hingga 40 siswa. Namun, pembelajaran di koridor tidak dilakukan secara bersamaan karena penggunaannya diatur bergantian sesuai jadwal.

Sekolah sebelumnya sempat menerapkan pembelajaran daring sebagai alternatif. Namun, kebijakan tersebut mendapat keluhan dari sebagian orang tua karena aktivitas belajar anak dinilai lebih sulit dipantau.

“Karena daring, keluhan dari orang tua tidak terkontrol, dan anak tidak maksimal, jadi lebih bagus di koridor,” ujarnya.

Selain ruang kelas, keterbatasan juga terjadi pada fasilitas praktik. Tiga konsentrasi keahlian di sekolah tersebut belum memiliki ruang praktik sendiri sehingga siswa harus menunggu giliran untuk menggunakan fasilitas yang tersedia.

Wakil Gubernur Kepri Nyanyang Haris Pratamura mengatakan peningkatan jumlah siswa di SMKN 8 Batam salah satunya berkaitan dengan limpahan peserta didik dari SMKN 5 dan SMKN 1 Batam.

“Yang dulunya 400 sekarang menjadi 900. Maka harusnya kita mempunyai 32 kelas, tapi kita sekarang hanya 23 kelas, minus kita sembilan,” kata Nyanyang.

Menurut Nyanyang, penerapan sistem pembelajaran dua shift dapat menjadi solusi jangka pendek untuk mengatasi keterbatasan ruang. Dengan pembagian waktu belajar, kebutuhan ruang kelas dapat ditekan tanpa harus langsung menambah seluruh ruang yang masih kurang.

“Kalau kita dua shift cukup hanya enam kelas saja,” ujarnya.

Nyanyang juga melihat kondisi fasilitas praktik, termasuk siswa jurusan pengelasan dan otomotif yang harus menunggu giliran menggunakan ruang praktik. Ia menyebut bidang pengelasan menjadi salah satu kompetensi yang relevan dengan kebutuhan tenaga kerja di Batam dan Kepulauan Riau.

Kepala Dinas Pendidikan Kepri Andi Agung mengatakan peningkatan jumlah peserta didik tersebut menunjukkan tingginya animo masyarakat terhadap pendidikan vokasi. Pemerintah, kata dia, akan mengatur kembali jumlah rombel sesuai kapasitas sekolah sekaligus mendorong penerapan sistem dua shift.

“Kalau sudah dua shift, insyaAllah ini selesai sebenarnya,” kata Andi Agung.

Di sisi lain, pemerintah tetap menyiapkan solusi jangka panjang melalui pembangunan dan penambahan fasilitas pendidikan. Pemprov Kepri sebelumnya telah menjalankan revitalisasi sejumlah SMA dan SMK di Batam, termasuk penambahan empat ruang kelas baru di SMKN 8 melalui program revitalisasi 2025.

Pada 2026, pemerintah pusat juga mengalokasikan program revitalisasi untuk satuan pendidikan di Kepri. Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu’ti sebelumnya menyebut 107 satuan pendidikan di Kepri menerima bantuan revitalisasi dengan total anggaran sekitar Rp97 miliar.

Pemprov Kepri juga mulai membangun dua SMK negeri baru di Batam, yakni SMKN 13 di Tanjung Buntung dan SMKN 14 di Tanjunguncang. Pembangunan tersebut diarahkan untuk menambah daya tampung pendidikan vokasi seiring meningkatnya kebutuhan masyarakat.

Nyanyang mengatakan Pemprov Kepri juga terus berkoordinasi dengan pemerintah pusat untuk mempercepat penambahan ruang kelas baru, termasuk untuk sekolah yang menjadi prioritas di Batam.

“Tahun ini kita mendapatkan 100 miliar untuk ruang kelas baru. Mudah-mudahan kita bisa terbangun di SMK yang menjadi prioritas di Kota Batam dan Provinsi Kepulauan Riau,” ujarnya.

Untuk SMKN 8 Batam, penerapan dua shift menjadi salah satu opsi yang dapat dilakukan dalam jangka pendek untuk mengurangi penggunaan koridor sebagai ruang belajar. Sementara penambahan ruang kelas dan fasilitas praktik disiapkan sebagai solusi jangka panjang agar kapasitas sekolah dapat menyesuaikan pertumbuhan jumlah peserta didik.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....