Singapura Sebut Biodiesel Bukan Penyebab Utama Kabut Asap

  • 31 Jul 2026 21:55 WIB
  •  Batam

RRI.CO.ID, Batam - Pemerintah Singapura menilai meningkatnya permintaan biodiesel tidak secara otomatis memicu kabut asap lintas batas. Ancaman terbesar tetap berasal dari praktik pembukaan lahan dengan cara membakar, sehingga pengawasan, penegakan hukum, dan pertukaran data menjadi fokus utama kerja sama Indonesia dan Singapura.

Senior Minister of State for Sustainability and the Environment Singapura, Janil Puthucheary, mengatakan hubungan antara biodiesel dan kabut asap tidak bersifat langsung. Menurutnya, risiko muncul ketika pembukaan lahan dilakukan dengan cara membakar, apa pun tujuan pemanfaatan lahannya.

"Risiko kabut asap bukan berasal dari biodiesel, melainkan dari pembukaan lahan, apa pun tujuan pembukaan lahan itu," kata Janil dalam sesi fireside chat Program 22nd Indonesian Journalists Visit Programme (IJVP) di Singapura, 16 Juli 2026.

Pernyataan itu disampaikan menanggapi laporan Singapore Institute of International Affairs (SIIA) yang menyebut meningkatnya permintaan biodiesel berpotensi mendorong pembukaan lahan dan meningkatkan risiko kebakaran hutan serta kabut asap.

Menurut Janil, pembukaan lahan untuk kehutanan, pertanian, biofuel, maupun kegiatan lain memiliki risiko yang sama apabila dilakukan dengan cara membakar. Karena itu, strategi pencegahan harus difokuskan pada tata kelola lahan, bukan pada komoditas tertentu.

Ia mengatakan langkah mitigasi perlu dilakukan jauh sebelum musim kemarau mencapai puncaknya. Indonesia, menurutnya, telah menjalankan berbagai upaya pencegahan, mulai dari pengawasan kawasan rawan kebakaran, pengelolaan lahan gambut, hingga penegakan hukum terhadap aktivitas yang berpotensi memicu kebakaran.

Pendekatan tersebut juga menjadi bagian dari kerja sama terbaru antara Indonesia dan Singapura. Kedua negara sepakat memperkuat pertukaran informasi, meningkatkan koordinasi teknis, dan mengembangkan kapasitas bersama untuk memantau potensi kebakaran hutan dan lahan.

Janil mengatakan sistem berbagi data akan menjadi fondasi penting dalam kerja sama jangka panjang. Saat ini, negara-negara ASEAN telah memanfaatkan data dari ASEAN Specialized Meteorological Centre (ASMC) untuk memantau kondisi cuaca dan potensi kabut asap di kawasan.

Selain itu, ASEAN juga tengah memperkuat peran ASEAN Transboundary Haze Coordinating Centre di Jakarta sebagai pusat koordinasi penanganan kabut asap lintas batas. Keberadaan pusat tersebut diharapkan mempercepat pertukaran informasi dan koordinasi antarnegara ketika risiko kebakaran meningkat.

Menurut Janil, Indonesia dan Singapura juga akan memperluas kerja sama melalui pertukaran pengetahuan antara ilmuwan, tenaga teknis, dan pelaksana operasi lapangan untuk memperkuat kemampuan mitigasi kebakaran.

Ia menegaskan kerja sama tersebut tidak hanya ditujukan menghadapi musim kering tahun ini. Fenomena iklim seperti El Nino maupun Indian Ocean Dipole akan terus berulang sehingga kedua negara memerlukan sistem pencegahan yang berkelanjutan.

"El Nino akan datang lagi. Indian Ocean Dipole juga akan kembali. Karena itu, kerja sama ini harus terus dilanjutkan," kata Janil, dilansir dari gokepri.

Menurutnya, penguatan kolaborasi tersebut merupakan bagian dari upaya negara-negara ASEAN membangun sistem pencegahan kabut asap yang lebih terintegrasi sehingga penanganan kebakaran hutan tidak lagi bersifat reaktif, melainkan dimulai sebelum musim kemarau tiba.

google-preference
Kata Kunci / Tags

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....