Singapura Sebut Risiko Kabut Asap Meningkat, Pencegahannya Pun Berpeluang Besar

  • 31 Jul 2026 21:57 WIB
  •  Batam

RRI.CO.ID, Batam - Singapura memperkirakan risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla) serta kabut asap lintas batas akan meningkat pada Agustus hingga September 2026 seiring pengaruh fenomena El Niño dan Indian Ocean Dipole. Namun, pemerintah Singapura menilai peluang mencegah terulangnya krisis kabut asap lebih besar dibanding tahun-tahun sebelumnya karena langkah mitigasi telah dilakukan lebih dini bersama Indonesia.

Menteri Negara Senior Singapura untuk Keberlanjutan dan Lingkungan, Janil Puthucheary, mengatakan pemerintah Indonesia telah memulai berbagai langkah pencegahan sebelum musim kemarau mencapai puncaknya. Upaya tersebut, menurutnya, menjadi faktor penting dalam menekan potensi kebakaran hutan yang dapat memicu pencemaran asap lintas batas.

"Kami memiliki hubungan antarlembaga yang lebih kuat, pengalaman yang lebih banyak, dan platform kerja sama yang lebih baik dibanding sebelumnya," kata Janil dalam sesi fireside chat pada 22nd Indonesian Journalists Visit Programme (IJVP) di Singapura, 16 Juli.

Pernyataan itu disampaikan menanggapi laporan Singapore Institute of International Affairs (SIIA) yang memperkirakan risiko kabut asap meningkat pada Agustus hingga September akibat kombinasi El Niño dan Indian Ocean Dipole. Janil mengakui kondisi cuaca tahun ini meningkatkan potensi kebakaran, namun menilai kesiapan pemerintah di kawasan kini jauh lebih baik dibanding saat krisis kabut asap melanda beberapa tahun lalu.

Menurut Janil, dalam pertemuannya dengan Menteri Lingkungan Hidup RI Jumhur Hidayat dan Wakil Menteri Lingkungan Hidup Diaz Hendropriyono di Bali, pemerintah Indonesia memaparkan berbagai langkah antisipasi. Di antaranya pembasahan kembali lahan gambut melalui penyekatan kanal (canal blocking), pengawasan kawasan rawan kebakaran, menjaga kelembapan gambut, memperkuat koordinasi dengan pelaku usaha, serta meningkatkan pengawasan dan penegakan hukum terhadap pembukaan lahan.

"Semoga tahun ini tidak mengulang kondisi ketika kawasan mengalami kabut asap yang cukup berat," ujarnya.

Janil mengatakan penanganan kabut asap kini tidak lagi hanya mengandalkan kerja sama bilateral Indonesia dan Singapura. Pembahasan juga dilakukan melalui Sub-Regional Ministerial Steering Committee yang melibatkan sejumlah negara ASEAN, termasuk Malaysia, Brunei Darussalam, Myanmar, dan Timor-Leste, untuk menyusun langkah bersama menghadapi pencemaran asap lintas batas.

Menurutnya, kabut asap merupakan persoalan lintas negara yang membutuhkan pertukaran informasi, koordinasi antarpemerintah, dan langkah mitigasi yang selaras. Ia menilai komitmen negara-negara ASEAN dalam mencegah kebakaran hutan dan lahan kini semakin kuat dibanding beberapa tahun lalu.

Meski demikian, Janil mengingatkan bahwa peringatan para ilmuwan dan lembaga kajian mengenai potensi meningkatnya risiko karhutla harus tetap menjadi perhatian. Ia menilai kerja sama regional perlu terus diperkuat karena fenomena El Niño merupakan siklus yang akan terus berulang.

"Semua peringatan itu harus kita tanggapi dengan serius," katanya, dilansir dari gokepri.

google-preference
Kata Kunci / Tags

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....