BRIN Kembangkan Bawang Merah untuk Dataran Rendah, Klaim Tembus 15 Ton per Hektare
- 31 Jul 2026 18:10 WIB
- Batam
RRI.CO.ID, Batam - Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) bersama Universitas Gadjah Mada (UGM) mengembangkan calon varietas bawang merah yang dirancang mampu tumbuh optimal di dataran rendah. Inovasi tersebut diharapkan dapat memperluas areal tanam sekaligus menjaga pasokan bawang merah nasional yang selama ini masih terkendala keterbatasan varietas.
Calon varietas yang diberi nama Gamaba itu saat ini tengah diperbanyak di lahan petani kooperator di Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, sebagai bagian dari tahapan menuju pelepasan varietas.
Peneliti Pusat Riset Hortikultura BRIN, Retno Pangestuti, mengatakan pengembangan varietas adaptif dataran rendah menjadi penting karena membuka peluang pemanfaatan lahan sawah setelah panen padi maupun lahan kering beririgasi yang selama ini belum dimanfaatkan secara optimal untuk budidaya bawang merah.
"Pengembangan bawang merah adaptif dataran rendah penting dilakukan karena membuka peluang optimalisasi lahan sawah setelah panen padi dan lahan kering beririgasi," katanya, Kamis, 30 Juli 2026.
Berdasarkan hasil pengamatan awal, Gamaba memiliki potensi produktivitas lebih dari 15 ton per hektare dengan hasil yang relatif stabil pada musim kemarau maupun musim hujan. Calon varietas tersebut juga memiliki ukuran umbi yang relatif besar, umur panen sekitar 50 hingga 55 hari setelah tanam, serta potensi daya simpan mencapai lima bulan.
Meski demikian, Retno mengatakan seluruh karakter unggul tersebut masih harus dibuktikan melalui serangkaian pengujian sebagai syarat pelepasan varietas.
Saat ini, penelitian difokuskan pada peningkatan stok umbi benih yang berasal dari true seed of shallot (TSS), serta karakterisasi genetik dan profil metabolit untuk memperkuat identitas dan keunggulan Gamaba.
"Kami sedang menyiapkan bahan tanam dalam jumlah dan mutu yang memadai untuk mendukung pengujian calon varietas. Selain karakter agronomis, penelitian juga akan mencakup karakterisasi genetik dan profil metabolit untuk memperkuat identitas serta informasi keunggulan Gamaba," ujar Retno.
Kepala Pusat Riset Hortikultura BRIN, Dwinita Wikan Utami, mengatakan penguatan data ilmiah dan sistem perbenihan menjadi langkah penting agar hasil riset dapat segera dimanfaatkan petani.
Menurutnya, BRIN menargetkan pengembangan Gamaba tidak berhenti pada tahap penelitian, tetapi berlanjut hingga produksi benih secara berkelanjutan.
Pada 2027, tim peneliti merencanakan uji keunggulan sebagai syarat pengusulan pelepasan varietas. Jika seluruh tahapan selesai, proses hilirisasi dan perbanyakan benih bersama mitra produsen ditargetkan dimulai pada 2028.
BRIN menilai ketersediaan varietas bawang merah yang adaptif di dataran rendah dapat memperluas musim dan wilayah tanam, sehingga membantu menjaga kesinambungan pasokan bawang merah nasional.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....