Orbit Bumi Kian Padat, BRIN Ingatkan Risiko Tabrakan Satelit Meningkat
- 31 Jul 2026 18:10 WIB
- Batam
RRI.CO.ID, Batam - Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) memperingatkan meningkatnya kepadatan satelit di orbit rendah Bumi (Low Earth Orbit/LEO) berpotensi memicu risiko tabrakan yang lebih besar dan mengancam keberlanjutan operasi satelit di masa depan.
Mengutip data ESA Space Environment Report 2025, UCS Satellite Database, dan CelesTrak Active Satellites, peneliti Pusat Riset Teknologi Satelit (PRTS) BRIN, Ery Fitrianingsih, mengatakan jumlah satelit aktif di LEO diperkirakan mencapai sekitar 14.500 unit pada 2026 dan dapat melonjak hingga sekitar 100.000 satelit pada 2030.
"Kondisi tersebut menyebabkan jumlah satelit aktif di orbit terus meningkat. Hingga 2026 tercatat sekitar 14.500 satelit aktif, dan jumlah itu diproyeksikan mencapai sekitar 100.000 satelit pada 2030," kata Ery dalam Kolokium Series-7 PRTS BRIN.
Menurut Ery, meningkatnya kepadatan orbit tidak hanya memperbesar potensi tabrakan antarsatelit, tetapi juga meningkatkan ancaman dari jutaan serpihan space debris yang sebagian besar belum dapat dipantau radar berbasis darat.
Ia mengingatkan risiko terjadinya Kessler Syndrome, yaitu efek domino ketika tabrakan antarsatelit atau serpihan antariksa menghasilkan debris baru yang kemudian memicu tabrakan berikutnya. Dalam kondisi ekstrem, kepadatan tersebut dapat membuat bagian tertentu dari orbit tidak lagi layak digunakan untuk peluncuran satelit baru.
Ery menjelaskan tantangan tersebut semakin besar dengan hadirnya megakonstelasi satelit seperti Starlink, OneWeb, dan proyek serupa yang terus menambah jumlah satelit di orbit rendah Bumi.
Menurutnya, sistem operasi satelit yang selama ini mengandalkan pemantauan dari stasiun bumi dan pengambilan keputusan oleh operator manusia mulai menghadapi keterbatasan karena waktu untuk merespons potensi tabrakan semakin sempit.
Sebagai contoh, ia mengungkapkan insiden antara satelit Aeolus milik European Space Agency (ESA) dan satelit Starlink, ketika keterlambatan komunikasi antaroperator memaksa ESA melakukan manuver penghindaran secara sepihak.
Kasus lain terjadi pada 2022 ketika 38 satelit Starlink gagal mencapai orbit operasional akibat badai geomagnetik yang meningkatkan hambatan atmosfer sehingga sistem otonom satelit tidak mampu mengantisipasi perubahan kondisi tersebut.
Belajar dari berbagai kejadian tersebut, Ery menilai desain operasi satelit di masa depan harus bergeser menuju sistem yang lebih otonom. Satelit perlu mampu menilai risiko tabrakan dan merencanakan manuver penghindaran secara mandiri tanpa selalu menunggu instruksi dari operator di Bumi.
Menurutnya, kemampuan otonom bukan lagi sekadar fitur tambahan, melainkan kebutuhan agar satelit dapat beroperasi dengan aman di lingkungan antariksa yang semakin padat.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....