Singapura Kurangi Konsumsi Listrik di Fasilitas Pemerintah

  • 09 Apr 2026 10:04 WIB
  •  Batam

RRI.CO.ID, Batam - Pemerintah Singapura mulai menerapkan kebijakan penghematan energi di berbagai fasilitas milik negara sebagai respons terhadap tekanan pasokan energi global akibat konflik di Timur Tengah.

Melalui arahan resmi, seluruh kementerian, lembaga pemerintahan, serta badan statutor diminta menjalankan langkah efisiensi energi tanpa mengganggu kebutuhan operasional utama. Kebijakan ini diumumkan oleh Ministry of Sustainability and Environment (MSE) bersama National Environment Agency (NEA).

Sejumlah langkah langsung diberlakukan, seperti menaikkan suhu pendingin ruangan menjadi minimal 25 derajat Celsius, mengatur waktu penggunaan AC, lampu, dan lift, serta memastikan perangkat yang tidak diperlukan dimatikan atau dicabut dari sumber listrik.

“Instansi juga akan mempercepat pemasangan sistem hemat energi seperti lampu LED dan sensor pintar serta mengganti peralatan listrik dengan alternatif yang lebih efisien, seperti yang memiliki peringkat energi tertinggi,” kata MSE dan NEA.

Selain itu, aparatur sipil negara juga diminta membiasakan diri dengan pola penggunaan energi yang lebih hemat dalam aktivitas harian.

Upaya ini disebut sebagai langkah nyata pemerintah dalam memimpin gerakan efisiensi energi secara nasional.

Dalam pernyataan di parlemen, Wakil Perdana Menteri Gan Kim Yong menyoroti bahwa konflik di Timur Tengah turut memengaruhi stabilitas pasokan energi dan perdagangan dunia.

Meski pertumbuhan ekonomi pada awal tahun masih terjaga, ia mengingatkan bahwa tekanan kemungkinan akan meningkat pada kuartal berikutnya.

Lonjakan harga minyak dan gas juga diperkirakan akan berdampak pada kenaikan tarif listrik dalam waktu dekat.

Sementara itu, Perdana Menteri Lawrence Wong mengajak seluruh lapisan masyarakat, termasuk pelaku usaha dan rumah tangga, untuk ikut berkontribusi dalam penghematan energi.

“Bagi dunia usaha, ini berarti meninjau operasional dan meningkatkan efisiensi energi. Bagi rumah tangga, ini berarti lebih memperhatikan penggunaan energi sehari-hari,” ujarnya.

“Langkah-langkah ini mungkin terlihat kecil, tetapi jika dilakukan bersama-sama, akan memberikan dampak nyata. Pemerintah akan mendukung Anda. Namun respons kolektif kita akan jauh lebih kuat jika setiap dari kita turut berperan.”

Sebagai bentuk dukungan, pemerintah menyediakan berbagai program seperti bantuan voucher melalui program rumah tangga ramah iklim, serta skema hibah bagi pelaku usaha untuk meningkatkan efisiensi energi.

“Pemerintah memimpin upaya penghematan energi nasional ini dan akan terus memberikan dukungan untuk membantu penghematan energi,” kata MSE dan NEA.

“Setiap pihak memiliki peran dalam memperkuat ketahanan energi negara. Melalui aksi bersama, kita dapat memastikan Singapura tetap siap menghadapi tantangan energi global sekaligus membangun masa depan yang lebih berkelanjutan.”

Di tengah situasi tersebut, Amerika Serikat dan Iran sempat menyepakati gencatan senjata sementara selama dua minggu, dengan jaminan keamanan jalur pelayaran di Selat Hormuz. Namun, pihak Iran menegaskan konflik belum benar-benar berakhir hingga tercapai kesepakatan resmi.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....