Dari Lapangan: ketika Perhatian terhadap Atlet Menjadi Alasan Mendukung Gianto

  • 22 Sep 2026 09:12 WIB
  •  Bandung

RRI.CO.ID, Bandung - Saya mengenal Wushu bukan hanya sebagai sebuah cabang olahraga.

Bagi keluarga kami, Wushu adalah bagian dari perjalanan hidup. Di dalamnya ada mimpi yang diwariskan, perjuangan yang diteruskan, dan kehormatan keluarga yang dijaga melalui kerja keras, disiplin, serta tanggung jawab.

Anak-anak saya mengenal Wushu sejak usia sangat dini. Mereka mulai berlatih sejak usia tiga tahun.

Bukan semata-mata karena kami ingin menjadikan mereka juara. Sejak awal, kami ingin mereka belajar bahwa olahraga adalah tentang proses: tentang disiplin, keberanian, tanggung jawab, kemampuan menerima kekalahan, dan keberanian untuk kembali berdiri setelah jatuh.

Bagi seorang atlet, latihan bukan sekadar persiapan menuju pertandingan.

Di balik setiap latihan ada mimpi. Ada harapan keluarga. Ada pengorbanan waktu, tenaga, pikiran, bahkan biaya yang tidak sedikit.

Dan pada akhirnya, ada sebuah perjalanan panjang yang tidak selalu terlihat dari atas podium.

Perjalanan keluarga kami juga tidak dapat dilepaskan dari sosok Gogi Nebulana, paman sekaligus pelatih yang menjadi bagian penting dalam perjalanan Wushu keluarga kami.

Pada 2007, Gogi Nebulana meraih gelar juara dunia Wushu. Bagi keluarga kami, pencapaian tersebut bukan hanya sebuah gelar yang tercatat dalam sejarah prestasi olahraga.

Ia menjadi contoh nyata bahwa sebuah mimpi dapat diwujudkan melalui latihan panjang, kedisiplinan, keberanian, dan pengorbanan.

Warisan itulah yang kemudian berusaha kami teruskan kepada anak-anak.

Zoura, Zhealix, dan Zeela tumbuh dengan memahami bahwa menjadi atlet bukan hanya tentang mengejar medali. Ada nama keluarga yang dibawa, ada pelatih yang dipercaya, ada daerah yang diwakili, dan ada Indonesia yang suatu saat ingin mereka banggakan di arena internasional.

Zoura kemudian meraih berbagai prestasi, antara lain gelar juara dunia Wushu Junior pada 2012, 2014, dan 2016, juara Asia Wushu Junior pada 2013 dan 2015, serta juara PON 2021.

Zhealix meraih juara PON Beladiri Kudus 2025, juara nasional Wushu Junior 2015–2023, serta juara Babak Kualifikasi PON 2023.Sementara Zeela melalui perjalanan panjang sebagai atlet dengan prestasi juara nasional Wushu Junior 2012–2020 serta juara BK Porda Jawa Barat 2025.. Namun sebagai ayah, saya selalu mengingatkan mereka:

Jangan pernah menjadikan medali sebagai satu-satunya alasan untuk berlatih.

Medali bisa hilang. Rekor bisa dipecahkan. Gelar bisa berganti.Tetapi karakter, disiplin, kehormatan, dan nama baik yang dibangun melalui perjalanan seorang atlet akan jauh lebih lama bertahan.

Atlet Bukan Sekadar Angka dalam Statistik.

Pengalaman bertahun-tahun sebagai atlet dan pelatih membuat saya memahami satu hal sederhana:

Dibalik setiap atlet selalu ada manusia.

Ada anak yang mempunyai mimpi.

Ada orang tua yang memberikan dukungan.

Ada pelatih yang mendampingi.

Ada daerah yang berharap.

Dan ada proses panjang yang sering kali tidak terlihat ketika orang hanya melihat hasil akhirnya.

Karena itu, perhatian terhadap persoalan yang dihadapi atlet menurut saya bukan persoalan kecil.

Bagi organisasi olahraga, sebuah persoalan mungkin terlihat sebagai bagian dari administrasi.Tetapi bagi seorang atlet, satu dokumen bisa menentukan apakah ia dapat bertanding atau tidak.

Satu keputusan bisa menentukan apakah perjuangan bertahun-tahun mendapatkan kesempatan untuk dilanjutkan.

Dan bagi orang tua, kepastian tersebut berarti memastikan bahwa perjuangan anaknya tidak berhenti hanya karena persoalan yang sebenarnya dapat diselesaikan.

Beberapa waktu lalu, SKM atlet Wushu Zhealix, Zoura, dan Zeela telah terbit dan ketiganya dinyatakan lolos DRM di Kota Bekasi.

Sebagai pelatih sekaligus orang tua, tentu saya bersyukur.Saya juga menyampaikan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu proses tersebut.

Secara khusus, saya memberikan apresiasi kepada Gianto Hartono atas perhatian yang kami rasakan terhadap persoalan tersebut.

Bagi saya, perhatian seperti itu penting bukan semata karena persoalan yang sedang kami hadapi akhirnya memperoleh jalan keluar, tetapi karena dari sana saya dapat melihat bagaimana seorang pengurus olahraga memandang atlet.

Apakah atlet hanya dilihat ketika sudah membawa medali?

Atau apakah atlet juga diperhatikan ketika mereka masih berjuang untuk mendapatkan kesempatan bertanding?

Bagi saya, jawabannya sangat penting.

Kepemimpinan yang Dekat dengan Lapangan.Saya telah merasakan olahraga dari beberapa sisi.

Saya pernah menjadi atlet.

Saya menjalani proses sebagai pelatih.Dan sekarang saya menjadi seorang ayah yang melihat anak-anaknya menjalani perjalanan yang sama.

Dari ketiga pengalaman tersebut, saya belajar bahwa olahraga membutuhkan kepemimpinan yang memahami realitas di lapangan.

Kita tentu membutuhkan target prestasi.

Kita membutuhkan pembinaan yang terukur.Kita membutuhkan sistem yang profesional.

Tetapi semua itu pada akhirnya harus kembali kepada satu tujuan: memberikan ruang dan kesempatan yang lebih baik bagi atlet untuk berkembang dan berprestasi.

KONI Jawa Barat tidak hanya membutuhkan kepemimpinan yang mampu berbicara tentang prestasi.

KONI Jawa Barat membutuhkan kepemimpinan yang mau mendengarkan persoalan cabang olahraga, memahami kebutuhan atlet, dan memastikan bahwa sistem pembinaan tidak berhenti pada perencanaan di atas kertas.

Atas dasar pengalaman tersebut, dalam proses pemilihan Ketua Umum KONI Jawa Barat periode 2026–2030, saya menyatakan dukungan kepada Gianto Hartono.

Dukungan ini saya berikan sebagai pelatih dan orang tua atlet, berdasarkan apa yang saya lihat dan rasakan dalam perjalanan olahraga.

Saya berharap ke depan KONI Jawa Barat semakin dekat dengan atlet dan cabang olahraga.

Bukan hanya hadir ketika medali sudah diperoleh, tetapi juga hadir ketika perjuangan masih berlangsung. Bukan hanya menghitung jumlah medali, tetapi memahami proses panjang di balik setiap medali.Dan bukan hanya berbicara tentang prestasi, tetapi membangun sistem yang memungkinkan anak-anak Jawa Barat memiliki kesempatan untuk mengejar prestasi tersebut.

Menjaga Mimpi Tetap Hidup,saya tahu bagaimana rasanya menjadi atlet.Saya tahu bagaimana rasanya menjadi pelatih.

Dan sekarang saya tahu bagaimana rasanya menjadi orang tua yang melihat anaknya berjuang di dunia olahraga.

Karena itu, bagi keluarga kami, Wushu bukan sekadar olahraga.

Ia adalah mimpi yang diwariskan.

Ia adalah kehormatan yang dijaga.

Ia adalah kebanggaan yang diperjuangkan.

Ketika seorang atlet berdiri di podium membawa nama Indonesia atau Jawa Barat, sesungguhnya yang berdiri bersamanya bukan hanya dirinya sendiri. Ada keluarga.Ada pelatih.Ada teman-teman latihan.Ada daerah.Dan ada perjalanan panjang yang telah membawanya sampai ke sana.

Maka saya percaya, pemimpin olahraga yang baik bukan hanya mereka yang melihat hasil di podium. Pemimpin olahraga juga harus mampu memahami perjalanan panjang seorang atlet untuk sampai ke podium tersebut.

Itulah alasan saya memberikan dukungan kepada Gianto Hartono untuk memimpin KONI Jawa Barat periode 2026–2030.

Saya berharap ke depan semakin banyak anak Jawa Barat yang memiliki kesempatan untuk bermimpi, berlatih, bertanding, dan suatu hari mengibarkan Merah Putih di panggung dunia.

Karena setiap juara selalu bermula dari sebuah mimpi.Dan tugas kita bersama adalah memastikan mimpi itu tidak berhenti di tengah jalan.

Penulis : Gora Nebulana

Pelatih Wushu dan Orang Tua Atlet

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....