Koni Jabar 2026: Saatnya Memilih yang Tahu Medan, Bukan yang Baru Belajar Peta

  • 11 Sep 2026 10:19 WIB
  •  Bandung

RRI.CO.ID, Bandung - Ketua Umum Modern Pentathlon Indonesia Provinsi Jawa Barat,Dalam tulisan sebelumnya, “Mencari Nakhoda KONI Jawa Barat: Bukan Soal Modal, Bukan Soal Kedekatan Kekuasaan,” saya menegaskan bahwa KONI Jawa Barat tidak membutuhkan pemilik kapital yang menjadikan organisasi sebagai kendaraan kepentingan, tidak pula membutuhkan figur yang hanya dekat dengan penguasa tetapi tak berani memperjuangkan kebutuhan riil atlet melainkan sosok pemersatu yang sungguh mencintai olahraga dan berani menghadirkan terobosan pendanaan, termasuk menggalang CSR dunia usaha. Tulisan itu sengaja berhenti pada kriteria. Tulisan ini hendak melangkah satu tahap lebih jauh: dari kriteria menuju jawaban.

Dan langkah pertama menuju jawaban itu adalah membaca kondisi hari ini dengan jujur bacaannya tidak menyenangkan, tetapi harus diucapkan. Olahraga Jawa Barat sedang berjalan dengan dukungan anggaran yang jauh dari memadai. Di saat DKI Jakarta dan Jawa Timur menopang pembinaan prestasinya dengan keberpihakan fiskal yang serius dari kesejahteraan atlet, honor pelatih, hingga kesiapan menghadapi multievent Jawa Barat membiarkan mesin prestasinya bekerja dengan bahan bakar seadanya.

Akibatnya nyata: provinsi yang selama ini ditakuti sebagai raksasa olahraga nasional kini mundur selangkah dari para pesaingnya. Bukan karena atletnya kalah berbakat, bukan karena pelatihnya kalah kompeten, tetapi karena di atas kertas anggaran, olahraga diperlakukan sebagai pelengkap. Prestasi dituntut penuh, dukungan diberikan setengah.




Dalam kondisi normal, pergantian pemimpin bisa diperdebatkan sebagai penyegaran. Dalam kondisi darurat anggaran seperti sekarang, pergantian pemimpin adalah kemewahan yang tidak mampu dibayar oleh atlet Jawa Barat.

Tahu Medan Itu Tidak Bisa Dipelajari dari Balik Meja,Inilah kenyataan pertama yang harus jujur diakui para pemilik suara: memimpin KONI Jawa Barat bukan pekerjaan yang bisa dipelajari dari laporan dan paparan. Organisasi ini membawahi puluhan cabang olahraga dengan karakter dan persoalan yang berbeda-beda, berkoordinasi dengan KONI kabupaten/kota se-Jawa Barat yang kondisinya tidak seragam, dan mengelola ribuan atlet serta pelatih yang nasibnya bergantung pada ketepatan setiap keputusan.

Memahami medan seluas itu membutuhkan waktu bertahun-tahun dan waktu adalah barang yang paling tidak dimiliki Jawa Barat saat ini.

Kepengurusan yang hari ini menjabat sudah melewati masa belajar itu. Ia mengetahui kondisi organisasi apa adanya, bukan dari kertas melainkan dari pergulatan sehari-hari: tahu cabor mana yang sedang tumbuh dan mana yang butuh diselamatkan, tahu persis posisi dan kebutuhan atlet binaan, tahu denyut KONI kabupaten/kota sampai ke persoalan teknisnya, dan tahu di mana letak sumbatan anggaran yang selama ini mencekik pembinaan.

Modal pemahaman semacam ini tidak bisa diwariskan lewat serah terima jabatan. Ketua baru , sehebat apa pun harus memulai dari halaman pertama, dan setiap halaman yang ia pelajari dibayar langsung oleh atlet dalam bentuk program yang tertunda dan momentum yang hilang. Sementara para pesaing tidak menunggu: Jakarta dan Jawa Timur terus berlari ketika kita sibuk memperkenalkan peta kepada nakhoda baru.




Loyalitas kepada Insan Olahraga Adalah Mata Uang yang Langka

Kenyataan kedua yang tidak kalah penting dan inilah jantung dari kriteria yang saya tulis sebelumnya: di dunia organisasi olahraga, loyalitas kepada insan olahraga adalah mata uang yang paling langka. Perhatikanlah setiap musim suksesi. Panggung mendadak ramai oleh figur yang mengaku mencintai olahraga: fasih menyebut kata prestasi dalam pidato, gemar berfoto dengan atlet berkalung medali, royal menebar janji di ruang deklarasi. Tetapi tanyakanlah kepada atlet yang cedera tanpa kepastian biaya pengobatan, kepada pelatih yang honornya tersendat berbulan-bulan, kepada pengurus cabor yang menomboki kegiatannya sendiri: di mana figur-figur itu ketika kamera sudah padam? Bagi mereka, olahraga bukan pengabdian ia batu loncatan politik, kendaraan citra, pelengkap kartu nama. Mereka mencintai panggungnya, bukan manusianya.

Loyalitas sejati bekerja dengan arah yang berlawanan. Ia tidak lahir di panggung deklarasi, melainkan di ruang-ruang sepi yang tidak pernah diliput media: mendampingi cabor yang nyaris mati suri, memperjuangkan hak atlet yang tertunda, menjaga komunikasi dengan KONI kabupaten/kota ketika tidak ada agenda pemilihan apa pun. Sosok yang loyal kepada atlet, pelatih, Pengprov cabor, dan KONI kabupaten/kota hadir justru ketika tidak ada yang menonton ketika anggaran seret, ketika prestasi sedang turun, ketika membela insan olahraga tidak mendatangkan keuntungan apa-apa. Loyalitas semacam ini tidak bisa diucapkan; ia hanya bisa dibuktikan oleh perjalanan panjang. Dan ujiannya sangat sederhana: berapa lama seseorang sudah berada di dalam rumah olahraga sebelum musim pencalonan tiba?

Kesinambungan kepemimpinan, dengan demikian, bukan sekadar kesinambungan program ia kesinambungan keberpihakan. Memutusnya di tengah jalan berarti memaksa seluruh insan olahraga menyerahkan nasibnya kepada orang yang baru datang, lalu berharap ia segera belajar mencintai. Padahal cinta kepada olahraga tidak pernah bisa dipelajari secepat masa jabatan dan atlet Jawa Barat tidak punya waktu untuk menunggu seseorang jatuh cinta.

Jejaring CSR: Jalan Keluar yang Hanya Bisa Ditempuh oleh yang Sudah Dikenal

Kenyataan ketiga menyangkut jalan keluar dari krisis anggaran itu sendiri. Jika keberpihakan APBD tak kunjung datang sesuai kebutuhan, Jawa Barat harus membangun kaki penopang kedua: dana dunia usaha melalui CSR.

Potensinya luar biasa dan selama ini dibiarkan tertutup. Jawa Barat adalah jantung industri nasional , ribuan perusahaan besar beroperasi di tanahnya dan setiap tahun menyalurkan dana tanggung jawab sosial dalam jumlah tidak kecil. Tetapi dana itu lebih mudah ditemukan di seremoni dan spanduk kegiatan sesaat ketimbang di program latihan atlet. Bukan karena dunia usaha pelit, melainkan karena menggalang dana korporasi membutuhkan satu hal yang tidak bisa diciptakan dalam semalam: kepercayaan.

Dan kepercayaan dunia usaha bekerja dengan hukum yang sederhana ,ia hanya diberikan kepada yang sudah dikenal, yang rekam jejaknya bisa dilacak, yang jejaringnya sudah hidup. Kepengurusan yang hari ini menjabat sudah memegang peta itu: tahu pintu mana yang bisa diketuk, relasi mana yang sudah terbangun, dan program apa yang layak ditawarkan kepada dunia usaha lengkap dengan pertanggungjawabannya. Modal jejaring semacam ini adalah hasil tanam bertahun-tahun. Mengganti nakhoda di titik ini berarti memutus jejaring yang mulai hidup dan memulai perkenalan dari nol sementara dunia usaha tidak pernah menunggu siapa-siapa.

Maka wacana yang harus didorong ke depan sangat konkret: menjadikan penggalangan CSR sebagai program strategis kepengurusan, diarahkan menjadi dana pembinaan olahraga Jawa Barat yang dikelola transparan dan dilaporkan terbuka agar ketika politik anggaran pemerintah kembali tidak berpihak, atlet Jawa Barat tidak lagi menjadi korban pertama.

Jangan Berganti Sopir di Tengah Tanjakan.

Musorprov 2026 pada akhirnya adalah soal membaca keadaan dengan jernih. Jawa Barat hari ini sedang mendaki tanjakan berat: anggaran tidak berpihak, pesaing terus berlari, dan setiap tahun pembinaan menentukan nasib di multievent berikutnya. Di tanjakan seperti ini, akal sehat mengatakan satu hal: jangan berganti sopir, apalagi menggantinya dengan yang belum hafal jalannya.




Dan bicara soal sosok yang hafal jalannya, insan olahraga Jawa Barat sesungguhnya sudah tahu jawabannya. Siapa yang tidak mengenal sosok Gianto Hartono, SE di kalangan insan olahraga Jawa Barat? Tiga periode memimpin sebagai Ketua Umum FORKI Jawa Barat, tiga periode pula mengawal organisasi dari dalam sebagai Sekretaris Umum KONI Jawa Barat posisi yang membuat hampir tidak ada persoalan olahraga Jawa Barat yang tidak pernah melewati mejanya: denyut cabor satu per satu, kondisi KONI kabupaten/kota sampai ke akar, hingga letak persis sumbatan anggaran yang selama ini mencekik pembinaan. Dan inilah pembedanya dari figur musiman: beliau tidak datang menjelang musim pencalonan. Beliau sudah berada di dalam rumah ini jauh sebelum panggung dibangun di masa gemilang maupun di masa sulit.

Di sinilah kriteria dalam tulisan saya sebelumnya menemukan jawabannya secara tuntas. Bukan soal modal? Benar sebagai pengusaha, Gianto Hartono tidak pernah menawarkan tebalnya kantong pribadi. Yang beliau tawarkan jauh lebih bernilai: kemampuan yang sudah terbukti membawa rekan-rekan sesama pengusaha untuk turun tangan membantu KONI Jawa Barat membantu atlet, pelatih, KONI kabupaten/kota, dan Pengprov cabang olahraga.

Ukuran seorang pemimpin memang bukan isi dompetnya, melainkan luasnya kepercayaan yang mampu ia gerakkan dan beliau sudah menggerakkannya bahkan sebelum diminta. Bukan soal kedekatan kekuasaan? Benar kedekatan beliau bukan dengan pendopo, melainkan dengan atlet, pelatih, dan pengurus di lapangan; dibangun tiga periode dari dalam rumah olahraga, bukan diklaim dari luar pagar. Jejaring dunia usaha yang bagi orang lain masih berupa wacana, di tangan beliau sudah menjadi kerja nyata dan itulah persisnya kunci untuk membuka tambang CSR yang selama ini dibiarkan tertutup.

Tiga modal yang tidak bisa dibeli dan tidak bisa dipercepat pemahaman medan yang utuh, loyalitas yang teruji oleh waktu, dan jejaring dunia usaha yang sudah hidup hari ini berkumpul pada satu nama.

Maka mari kita berdiri bersama beliau: menyuarakan seperti apa seharusnya Jawa Barat ke depan dalam menghadapi kegiatan multievent Jawa Barat yang anggarannya diperjuangkan, atletnya disejahterakan, dan kejayaannya direbut kembali. Empat tahun ke depan terlalu berharga untuk dijadikan masa belajar seorang pemula, dan tanjakan di depan terlalu curam untuk dititipkan kepada yang baru membaca peta. Nakhoda yang hafal lautannya sudah lama berdiri di geladak. Yang ia butuhkan dari kita hanya satu: kepercayaan untuk menyelesaikan pelayaran.

Penulis: T. A.Sakut

Ketua Umum Modern Pentathlon Indonesia Provinsi Jawa Barat

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....