Taraju dan Masa Depan Ekonomi Pariwisata Priangan Timur

  • 17 Sep 2026 10:53 WIB
  •  Bandung

RRI.CO.ID, Bandung - Pariwisata sering dipandang sebagai urusan perjalanan, hotel, atau tempat rekreasi. Padahal pariwisata dapat menjadi sumber pertumbuhan yang menyentuh banyak lapisan ekonomi bagi daerah. Ketika wisatawan datang yang bergerak bukan hanya tiket masuk, warung makan memperoleh pembeli, homestay terisi, produk UMKM terjual, pemandu wisata bekerja, petani mendapat pasar, dan aktivitas kreatif menemukan panggungnya.

Besarnya efek tersebut cukup menjanjikan. Setiap Rp1 investasi di sektor pariwisata disebut mampu menghasilkan sekitar Rp7 dampak ekonomi turunan. Setiap 100.000 wisatawan juga berpotensi menciptakan 1.200–1.300 lapangan kerja baru (Kemenparekraf -Tourism Satellite Account Report, 2024). Angka ini memberi pesan sederhana bahwa pariwisata bukan sekadar sektor pelengkap. Ia dapat menjadi mesin pertumbuhan baru ketika dikelola sebagai sebuah ekosistem.

Peluang itu terlihat di Kabupaten Tasikmalaya. Jumlah kunjungan wisatawan meningkat dari sekitar 540 ribu orang pada 2021 menjadi lebih dari 1,03 juta orang pada 2024 atau tumbuh rata-rata 22,4 persen per tahun. Perkembangan tersebut membuka ruang bagi daerah untuk tidak hanya mengejar jumlah kunjungan, tetapi juga memperbesar nilai ekonomi yang tertinggal di masyarakat.

Di sinilah Desa Wisata Taraju menarik untuk dibaca. Desa yang ditetapkan sebagai desa wisata pada 2022 ini memiliki kombinasi yang relatif lengkap. Hamparan kebun teh, persawahan, aliran sungai, air terjun, hutan pinus, kerajinan, budaya Sunda, hingga aktivitas pengolahan kopi membentuk pengalaman yang tidak mudah digantikan destinasi lain. Namun, kekuatan Taraju bukan hanya pada pemandangannya. Hal yang lebih penting adalah bagaimana pariwisata dihubungkan dengan masyarakat.

Pendekatan berbasis komunitas menempatkan warga bukan sebagai penonton, melainkan sebagai pelaku utama. Petani, UMKM, pengelola homestay, komunitas budaya, dan kelembagaan desa masuk ke dalam rantai ekonomi yang sama. Dengan pola seperti ini, belanja wisatawan memiliki peluang lebih besar untuk berputar di desa.

Taraju juga menunjukkan bahwa desa wisata tidak harus identik dengan cara lama. Penghargaan Juara 1 Anugerah Desa Wisata Indonesia 2023 kategori Digital dan Kreatif memperlihatkan pentingnya kemampuan menggabungkan kekuatan lokal dengan teknologi. Promosi digital, transaksi nontunai, penguatan UMKM, dan penciptaan pengalaman wisata menjadi bagian dari daya saing baru.

Bank Indonesia Tasikmalaya turut mengambil peran sebagai enabler melalui penguatan pendekatan 3A2P yang mencakup atraksi, aksesibilitas, amenitas, promosi, dan partisipasi masyarakat. Melalui Ngalanglang Taraju 2024, pengembangan ekosistem diarahkan pada digitalisasi transaksi, literasi keuangan, serta penguatan UMKM. Transaksi QRIS lintas pelaku UMKM wisata tercatat meningkat 68 persen dalam satu tahun.

Indeks literasi keuangan masyarakat desa meningkat dari 37 persen pada 2022 menjadi 49 persen pada 2024, sementara business matching dan penguatan UMKM kreatif menghasilkan transaksi Rp1,4 miliar. Angka-angka tersebut penting, tetapi ada pelajaran yang lebih besar. Pariwisata daerah akan semakin kuat jika tidak berhenti pada promosi destinasi. Tantangannya adalah mengubah kunjungan menjadi nilai tambah.

Wisatawan perlu memiliki alasan untuk tinggal lebih lama, membelanjakan lebih banyak, mencoba produk lokal, menggunakan jasa masyarakat, dan kembali berkunjung. Karena itu, masa depan Taraju terletak pada kemampuannya membangun ekosistem yang saling terhubung.

Agro-ecotourism dapat mempertemukan wisata dengan kopi, teh, dan edukasi pertanian. Wisata budaya dapat menghidupkan kuliner, kerajinan, seni, dan cerita lokal. Digitalisasi dapat memperluas pasar sekaligus mempermudah transaksi, sedangkan homestay berbasis masyarakat dapat membantu memastikan manfaat ekonomi lebih banyak dirasakan warga.

Bagi Priangan Timur, Taraju memberikan satu pesan penting. Sumber pertumbuhan baru tidak selalu harus lahir dari proyek besar. Ia dapat tumbuh dari desa yang mampu mengolah kekayaan alam, budaya, kreativitas, dan teknologi menjadi pengalaman yang bernilai ekonomi.

Pesan pentingnya adalah ukuran keberhasilan pariwisata bukan hanya berapa banyak orang yang datang, melainkan berapa banyak kesempatan kerja yang tercipta, seberapa kuat UMKM berkembang, seberapa besar pendapatan masyarakat bertambah, dan seberapa banyak nilai ekonomi yang tetap berputar di daerah. Jika itu yang dibangun, pariwisata bukan lagi sekadar tempat orang datang untuk melihat. Pariwisata menjadi jalan bagi desa untuk tumbuh, masyarakat memperoleh kesempatan ekonomi, dan daerah menemukan sumber pertumbuhan baru.

Penulis: Adhy Ramawan Putra (Bank Indonesia Tasikmalaya dan Alumni Postgraduate The Ohio State University)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....