Dari Bidak Catur ke Meja Organisasi

  • 13 Jul 2026 12:45 WIB
  •  Bandung

RRI.CO.ID, Bandung - Tidak semua pemimpin memulai perjalanan dari ruang rapat atau kursi organisasi. Ada yang memulainya dari sebuah papan catur braille. Di atas papan itulah Yadi Sofian seorang penyandang disabilitas netra, belajar menyusun strategi, mengambil keputusan, membaca peluang, dan menghadapi setiap tantangan dengan ketenangan. Pengalaman panjang sebagai atlet kemudian mengantarkannya menjadi seorang pemimpin yang dipercaya

menahkodai National Paralympic Committee Indonesia (NPCI) Kota Bandung periode 2024–2029.

Kisah inspiratif ini berawal di Sentra Wyata Guna Bandung. Di tempat rehabilitasi sosial

tersebut, Yadi pertama kali mengenal olahraga catur bagi penyandang disabilitas netra.

Sentra Wyata Guna menjadi saksi bisu tumbuhnya semangat, disiplin, dan kepercayaan dirinya. Dari sana, ia mulai menapaki jalan panjang sebagai atlet yang kelak mengharumkan

nama Kota Bandung dan Indonesia.

Bakat yang dimilikinya semakin berkembang ketika bergabung dengan NPCI Kota Bandung.

Melalui pembinaan yang berkesinambungan, kemampuan analisis dan strategi Yadi terus

terasah hingga mampu bersaing di berbagai kejuaraan bergengsi.

Dedikasi dan kerja keras tersebut berbuah manis. Yadi berhasil meraih berbagai medali emas pada ajang Pekan Paralimpik Daerah (Peparda), Pekan Paralimpik Nasional (Peparnas), ASEAN Para Games, hingga tampil membanggakan Indonesia pada Asian Para Games di China. Rekam jejak prestasi itulah yang kemudian melahirkan kepercayaan dari

keluarga besar NPCI Kota Bandung untuk memilihnya secara demokratis sebagai Ketua Umum NPCI Kota Bandung masa bakti 2024–2029.

Di luar dunia olahraga, Yadi juga dikenal sebagai seorang wiraswasta yang mengelola sebuah klinik massage. Aktivitas tersebut menjadi bukti bahwa penyandang disabilitas tidak hanya mampu berprestasi di arena olahraga, tetapi juga mandiri secara ekonomi serta

mampu menciptakan lapangan usaha. Baginya, olahraga, kemandirian, dan pengabdian kepada organisasi merupakan satu kesatuan yang saling menguatkan.

Saat ditemui di Sekretariat NPCI Kota Bandung, Yadi menyampaikan bahwa kepemimpinannya akan berlandaskan semangat kebersamaan, transparansi, profesionalisme, dan integritas. Menurutnya, organisasi yang sehat merupakan fondasi utama bagi lahirnya atlet-atlet berprestasi.

"Roda organisasi harus berjalan dengan solid, transparan, dan penuh integritas. Mari kita kesampingkan ego dan berbagai perbedaan. Kemudian fokus pada tujuan utama."

"Yaitu fokus melayani serta meningkatkan mutu pembinaan atlet. Pengurus harus terus berinovasi dan proaktif membangun kemitraan agar kesejahteraan atlet serta kualitas pembinaan semakin baik,"ujar Yadi.

Kepada para pelatih, ia menitipkan pesan agar proses pembinaan dilakukan secara objektif dan profesional.

"Pelatih adalah arsitek di balik lahirnya seorang juara. Saya berharap proses seleksi

dilakukan secara objektif. Tidak hanya membentuk kemampuan teknik dan fisik, tetapi juga membangun karakter, moral, dan mental bertanding atlet agar tetap tangguh dalam setiap kompetisi,"tuturnya.

Yadi juga menyampaikan apresiasi kepada Pemerintah Kota Bandung dan DPRD Kota

Bandung atas dukungan anggaran pembinaan serta pemberian bonus kadeudeuh kepada atlet berprestasi. Menurutnya, perhatian pemerintah telah memberikan motivasi besar bagi

perkembangan olahraga disabilitas di Kota Bandung.

Meski demikian, ia berharap sinergi tersebut terus diperkuat, terutama dalam penyediaan fasilitas latihan yang aksesibel, peningkatan kualitas pembinaan, serta dukungan pendanaan yang berkelanjutan. Sehingga Kota Bandung mampu mempertahankan posisinya sebagai salah satu daerah penyumbang atlet paralimpik berprestasi di tingkat Nasional. Kepada para atlet, Yadi memberikan pesan yang sarat makna.

"Dengan prestasi olahraga, harkat dan martabat kita akan terangkat di mata masyarakat. Jangan pernah berkecil hati karena keterbatasan fisik. Berlatihlah dengan disiplin. Rebut prestasi setinggi-tingginya, dan buktikan bahwa penyandang disabilitas mampu

mengharumkan nama Kota Bandung bahkan Indonesia di panggung dunia,"sebut Yadi

Pesan tersebut sesungguhnya mencerminkan semangat olahraga disabilitas yang bukan hanya mengejar medali. Melainkan juga memperjuangkan kesetaraan, kemandirian, dan

penghormatan terhadap martabat manusia. Kepemimpinan penyandang disabilitas di organisasi olahraga menjadi representasi penting bahwa penyandang disabilitas bukan sekadar penerima kebijakan, tetapi juga mampu menjadi pengambil keputusan yang

menentukan arah organisasi.

Sebagaimana pernah dikatakan oleh ,

"Sport has the power to change the world.

" Olahraga memiliki kekuatan untuk mengubah dunia. Dalam konteks olahraga disabilitas, perubahan itu bukan hanya terlihat pada lahirnya para juara, tetapi juga pada tumbuhnya pemimpin-pemimpin baru yang memahami perjuangan atlet karena pernah menjalaninya sendiri.



Seni Melangkah Tanpa Harus Melihat

Perjalanan hidup Yadi Sofian dari bidak catur hingga meja organisasi mengantarkan kita

pada sebuah perenungan mendalam tentang makna "melihat" yang sesungguhnya. Bagi

seorang penyandang disabilitas netra, catur bukan sekadar permainan yang mengandalkan penglihatan, melainkan latihan berpikir, mengelola strategi, memperhitungkan risiko, dan

membaca peluang melalui ketajaman akal serta kepekaan rasa.

Kini, ketika ia memimpin NPCI Kota Bandung, filosofi catur itu tetap hidup dalam setiap langkah kepemimpinannya. Memimpin organisasi sama halnya dengan memainkan sebuah pertandingan catur. Seorang pemimpin harus mampu menyusun strategi, menggerakkan

setiap unsur organisasi sesuai perannya, membaca tantangan, sekaligus mengambil

keputusan yang berpihak pada kepentingan bersama.

Yadi Sofian membuktikan bahwa keterbatasan fisik tidak pernah membatasi keluasan visi.

Justru dari pengalaman hidup sebagai penyandang disabilitas netra lahir kepekaan, ketangguhan, empati, dan kemampuan memimpin dengan hati. Kepemimpinan seperti inilah yang dibutuhkan organisasi olahraga disabilitas. Sebuah kepemimpinan yang lahir dari pengalaman, dibangun di atas integritas, dan diarahkan untuk menciptakan kesetaraan.

Pada akhirnya, kisah Yadi Sofian bukan sekadar cerita tentang seorang juara catur yang menjadi ketua organisasi.

Ini adalah kisah tentang harapan bahwa setiap penyandang disabilitas memiliki kesempatan yang sama untuk berprestasi, memimpin, dan menginspirasi. Dari bidak catur yang dahulu gerakkannya dengan jemari, kini ia menggerakkan organisasi dengan visi. Dan dari meja catur itulah, ia mengajarkan kepada kita bahwa kepemimpinan sejati tidak ditentukan oleh apa yang mampu dilihat mata. Melainkan oleh keberanian melihat masa depan dengan rasa dan hati yang jernih.

Penulis: Suhendar

Aktivis Disabilitas

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....