Ketika Kemerdekaan Diuji oleh Sebuah Penutup Mata

  • 16 Agt 2026 12:12 WIB
  •  Bandung

RRI CO.ID, Bandung - Suasana langit pagi itu nampak cerah tanpa awan yang menutupi sang mentari, sementara udara memeluk sejuk area kampus biru Poltekesos. Angin dingin genit mencubit setiap insan yang berkumpul di halaman depan rektorat. Di bawah cerahnya langit pagi, suara gelak tawa dan sorak-sorai perlahan membumbung dari halaman kampus Politeknik Kesejahteraan Sosial (Poltekesos) Bandung. Merah putih berkibar anggun, membawa semangat kemerdekaan yang merayap halus di setiap sudut kampus. Peringatan HUT ke-81 Republik Indonesia pagi itu menjadi momentum berharga bagi seluruh sivitas akademika untuk sejenak melepaskan diri dari beban rutinitas perkuliahan dan tumpukan pekerjaan.

Namun, di antara berbagai riuh perlombaan yang menghadirkan keceriaan sederhana, ada satu kegiatan yang menggoreskan kesan dan kedalaman berbeda: berjalan mengikuti utas tali rafia dengan mata tertutup rapat.

Sekilas, permainan itu nampak begitu sederhana. Peserta hanya diminta melangkah mengikuti petunjuk garis yang telah dibentuk. Tetapi ketika kain hitam menutup rapat penglihatan, sesuatu yang semula tampak sepele perlahan menjelma menjadi sebuah ruang pengalaman yang jauh dari kata sederhana.

Langkah kaki yang biasanya mantap dan tanpa ragu mendadak tertahan. Tubuh seketika kehilangan orientasi arah. Jemari tangan mulai panik mencari pengangan. Kaki bergerak perlahan dan hati-hati. Bahkan bentangan jarak yang hanya beberapa meter mendadak terasa bagaikan sebuah penjelajahan yang panjang dan sunyi.

Sebelumnya, riuh perlombaan makan kerupuk dengan mata tertutup sempat mengundang gelak tawa. Para peserta berjuang menemukan posisi kerupuk hanya berbekal suara dan perkiraan. Demikian pula kemeriahan lomba sambung lagu yang menghadirkan kehangatan tersendiri.

Tetapi ketika tiba pada lomba meniti tali rafia, pergeseran suasana mulai terasa mendalam. Para dosen dan karyawan berdiri memakai penutup mata. Di hadapan mereka, terbentang utas tali sederhana yang menjadi satu-satunya kompas petunjuk arah. Mereka ditantang untuk melangkah tanpa memiliki kemampuan melihat.

Beberapa peserta berjalan begitu lambat. Sebagian tak sadar telah menyimpang jauh dari jalur. Ada yang goyah kehilangan keseimbangan. Ada pula yang melangkah penuh kehati-hatian karena ketakutan membentur sesuatu.

Salah seorang peserta bahkan menyuarakan refleksi singkatnya: setelah matanya tertutup rapat, rasa percaya dirinya seolah menguap begitu saja. Untuk menempuh jarak yang hanya beberapa meter, melangkah terasa begitu menakutkan dan membingungkan.

Pengalaman singkat itu mungkin hanya berlangsung dalam rentang hitungan menit. Setelah garis akhir tersentuh, kain penutup mata dilepaskan. Cahaya terang kembali menyapa netra. Jalur yang sebelumnya terasa amat menakutkan ternyata hanyalah seutas tali rafia sederhana yang terbentang di atas rumput lapangan.

Namun, dari pengalaman sesaat itu, terpantik sebuah pertanyaan filosofis yang mendalam: Bagaimana jika kegelapan itu bukanlah sebuah permainan sementara?

Bagi seseorang yang tidak memiliki hambatan penglihatan, menutup mata selama beberapa menit tentu sekadar menjadi simulasi singkat tentang kehilangan arah dan ketergantungan pada indera lain. Pengalaman tersebut tentu tak akan pernah bisa disepadankan dengan jalan hidup yang dilalui seorang penyandang disabilitas netra setiap harinya.

Kondisi disabilitas bukan sebatas perkara ketidakmampuan fisik untuk melihat. Di baliknya, ada persoalan kompleks tentang aksesibilitas, mobilitas, ketersediaan informasi, keramahan lingkungan, kesetaraan kesempatan, hingga dinding sikap sosial yang harus diurai setiap hari.

Permainan meniti tali ini pada akhirnya tak berhenti sebagai atraksi hiburan semata, melainkan menjelma menjadi pintu refleksi berkesan untuk menumbuhkan kepedulian mendalam terhadap lingkungan sekitar, khususnya bagi rekan-rekan penyandang disabilitas netra.

Ia mengajak kita untuk bertanya lebih jauh pada ruang hidup yang lebih luas:

Apakah trotoar jalanan kita benar-benar telah aman untuk dilalui?

Apakah fasilitas publik telah menyediakan aksesibilitas yang memadai?

Apakah arus informasi telah disajikan dalam format yang inklusif?

Apakah lingkungan pendidikan, dunia kerja, moda transportasi, dan ruang publik benar-benar telah membuka kesempatan yang setara?

Dan yang tak kalah mendasar, sudahkah kita merancang lingkungan yang memungkinkan penyandang disabilitas untuk melangkah dan bergerak secara mandiri?

Deretan pertanyaan inilah yang jauh lebih esensial ketimbang sekadar menentukan siapa yang menjuarai lomba berjalan meniti tali dengan mata tertutup.

Empati Tidak Cukup Hanya Dirasakan.

Sebagai perguruan tinggi yang mengemban amanah dalam pendidikan pekerjaan sosial, Poltekesos memegang posisi strategis untuk membentuk perspektif dan cara pandang masyarakat terhadap disabilitas. Aktivitas sederhana seperti permainan meniti tali dan lomba mata tertutup menjadi medium efektif untuk mengasah empati dan memicu kedalaman refleksi.

Pengalaman melangkah dalam kegelapan mengajarkan satu kebenaran sederhana: bahwa apa yang terasa mudah bagi sebagian orang, belum tentu sama mudahnya bagi orang lain.

Kita acap kali menganggap kemampuan melihat sebagai kelaziman yang biasa. Kita melangkah tanpa perlu memikirkan rintangan di depan jalan. Kita membaca papan petunjuk tanpa pernah mempertanyakan apakah pesan itu dapat diakses oleh semua orang. Kita memasuki sebuah bangunan tanpa perlu memikirkan apakah setiap insan mampu menemukan akses masuk dan beraktivitas di dalamnya secara mandiri.

Bagi sebagian besar kita, itu hanyalah hal biasa. Namun bagi sebagian yang lain, hal-hal biasa itu bisa menjadi tembok penghalang yang amat tebal.

Oleh sebab itu, empati tidak boleh berhenti sebagai gejolak kasihan semata. Empati harus menjelma menjadi kesadaran kritis. Kesadaran harus mengkristal menjadi gerakan tindakan. Dan tindakan nyata itu wajib diwujudkan melalui kebijakan, penyediaan fasilitas, kualitas pelayanan, serta pembentukan lingkungan yang benar-benar inklusif.

Kemerdekaan Bukan Hanya Tentang Melihat

Peringatan kemerdekaan saban tahun selalu dipenuhi oleh narasi tentang kebebasan. Namun timbul pertanyaan: Kebebasan itu sesungguhnya milik siapa?

Pertanyaan ini krusial saat kita membicarakan hak-hak penyandang disabilitas.

Secara yuridis formal, seseorang mungkin telah dijamin memiliki hak yang setara. Namun, jikalau trotoar di jalanan masih membahayakan, transportasi publik sulit diakses, informasi tak ramah disabilitas, atau stigma masyarakat masih melekat kuat, maka makna kebebasan itu sebetulnya belum hadir secara nyata dalam keseharian mereka.

Kemerdekaan sejati tidak hanya diartikan sebagai kebebasan dari belenggu penjajahan. Kemerdekaan adalah kemampuan untuk menentukan arah hidup sendiri, bergerak secara mandiri, menggapai pendidikan, meraih pekerjaan, menikmati fasilitas umum, berpartisipasi penuh dalam bermasyarakat, serta mendapatkan kesempatan yang setara.

Dalam bingkai pemikiran itulah, seutas tali rafia di halaman Poltekesos menjelma menjadi simbolis yang amat menarik. Tali itu memang amat sederhana. Namun ia berhasil merepresentasikan gambaran realitas hidup yang tidak selalu mudah ketika ruang dan lingkungan tempat tinggal tidak dirancang untuk semua orang.

Ketika kain hitam penutup mata akhirnya dilepaskan, cahaya kembali menerangi penglihatan. Para peserta kembali tersenyum dan tertawa. Sebagian merasa lega, sebagian lain saling melempar cerita tentang pengalaman singkat mereka. Perlombaan pun resmi berakhir.

Namun, semestinya ada satu hal yang tidak boleh ikut usai bersamaan dengan selesainya perlombaan itu: yakni kesadaran.

Sebab bagi para peserta, kegelapan itu hanya berlangsung selama kurun beberapa menit. Sementara bagi penyandang disabilitas netra, perjuangannya bukan sekadar perkara tidak dapat melihat. Tantangan terbesarnya adalah sejauh mana dunia di sekeliling mereka bersedia memberikan ruang yang adil agar mereka dapat hidup secara mandiri dan bermartabat.

Maka, makna terdalam dari permainan pagi itu bukanlah mencari siapa yang paling tangkas menyentuh garis akhir. Melainkan tentang siapa yang setelah membuka penutup matanya, mampu melihat jauh lebih dalam dan luas.

Melihat bahwa ketersediaan aksesibilitas bukanlah bonus atau fasilitas tambahan.

Melihat bahwa kemandirian bukanlah buah dari belas kasihan.

Melihat bahwa penyandang disabilitas bukanlah objek yang patut dikasihani, melainkan warga negara berdaulat yang memiliki hak, potensi, dan kesempatan yang setara.Dan melihat bahwa kemerdekaan belum tuntas diperjuangkan selama masih ada saudara kita yang harus bertarung menghadapi pelbagai hambatan hanya untuk melakukan hal-hal yang bagi orang lain dianggap sepele.

Tali rafia itu kini telah dilepaskan. Riuh perlombaan telah usai. Halaman kampus kembali tenang seperti sedia kala.

Namun, pengalaman meniti tali dalam keterbatasan penglihatan semestinya tidak ikut memudar. Ia hadir membawa pesan bahwa untuk benar-benar memahami jalan hidup orang lain, kita perlu sejenak keluar dan melepaskan zona kenyamanan diri.

Bukan untuk menyombongkan diri bahwa beberapa menit dalam kegelapan membuat kita mendadak paham akan seluruh beban hidup disabilitas. Bukan pula untuk menyepadankan sebuah permainan seru dengan realitas perjuangan hidup yang sesungguhnya. Melainkan untuk membuka ruang perenungan bahwa dunia yang kita bangun hari ini ternyata belum sepenuhnya ramah bagi setiap anak bangsa.

Di tengah suasana peringatan kemerdekaan ini, saatnya kita bertanya kembali pada diri kita masing-masing: Sudahkah Indonesia benar-benar merdeka bagi seluruh rakyatnya?

Mungkin jawabannya belum sepenuhnya.

Sebab kemerdekaan yang sejati bukan sekadar saat kita bebas melangkah ke mana saja kita suka. Kemerdekaan adalah ketika setiap individu, tanpa terkecuali penyandang disabilitas, memiliki kesetaraan kesempatan untuk menentukan ke mana arah langkah yang ingin ia tempuh.

Tugas kita bukanlah menuntun langkah mereka di sepanjang jalan. Tugas utama kita adalah memastikan bahwa jalan itu ada, aman, aksesibel, dan terbuka lebar untuk dilalui bersama.

Sebab Indonesia yang merdeka bukanlah Indonesia yang hanya mampu melihat secara jelas, melainkan Indonesia yang mampu merangkul dan melihat mereka yang selama ini kerap terabaikan DIRGAHAYU Ke-81 Republik Indonesia.jayalah NEGRIKU,sejahtra rakyatnya.

Penulis: Suhendar.Aktivis Disabilitas.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....