Mengenal Sri Ayu, Barista Low Vision, Meracik Inspirasi hingga Bangku Poltekesos

  • 04 Agt 2026 10:53 WIB
  •  Bandung

RRI.CO.ID, Bandung - Pagi baru saja merambat di kawasan Wyata Guna, Bandung. Udara dingin khas Priangan masih menyisa di selasar jalan ketika aroma biji kopi arabika yang baru digiling menyeruak melintasi pintu kaca Cafe More. Di balik meja bar berbahan kayu, seorang wanita berdiri tegak. Jemarinya bergerak dengan kelembutan yang presisi, meraba tepi portafilter, merapikan bubuk kopi dengan perabaan naluri yang halus, lalu menguncinya pada mesin espresso dengan satu hentakan pasti.

Ia tidak bekerja dalam kegelapan total, melainkan di antara bayangan-bayangan kabur dan pendar cahaya yang samar.

Dialah Sri Ayu, atau yang akrab dan hangat disapa Cici. Di usianya yang menginjak 29 tahun, Cici merajut takdirnya di dua dunia yang sama-sama menuntut ketajaman rasa dan pikiran: menjadi seorang barista profesional di Cafe More Wyata Guna, sekaligus mengarungi dalamnya samudra pengetahuan akademis sebagai mahasiswi semester 5 Jurusan Kesejahteraan Sosial di Politeknik Kesejahteraan Sosial (Poltekesos) Bandung.

Lahir sebagai penyandang disabilitas netra dengan kondisi low vision, Cici menjalani hidupnya dengan sisa penglihatan yang sangat terbatas sejak kali pertama menghirup udara dunia. Bagi Cici, dunia menyajikan wujud fisik yang serba remang dan samar. Namun melalui racikan kopi dan lembar-lembar buku kuliah, ia melukis dunianya sendiri dengan warna yang jauh lebih mendalam: warna ketangguhan.

Menjadi penyandang low vision sejak lahir menghadirkan tantangan tersendiri yang unik. Sisa penglihatan yang ada acap kali tak cukup untuk menangkap detail garis, angka, atau kontras warna secara tajam. Karena itu, ketika ia memutuskan menyeberang ke dunia barista sebuah profesi yang sarat dengan presisi visual,Cici menggabungkan sisa penglihatannya dengan intuisi serta sensitivitas indra peraba dan pendengaran. Di tengah desis uap panas dari steamer susu dan denting cangkir porselen, Cici menavigasi area bar dengan kepekaan yang terasah bertahun-tahun.

"Sisa penglihatan membantu saya mengenali bayangan siluet benda atau pendar cahaya, tetapi untuk detail ukuran air, suhu, atau takaran, kebenaran itu ditemukan lewat imajinasi jemari dan ketajaman pendengaran yang jadi penuntun utama," cerita Cici seraya tersenyum tipis.

Awalnya, tidak ada yang mudah. Menyiram air panas pada suhu tertentu, menghitung detik ekstraksi kopi, hingga mengocok susu sampai mencapai tekstur microfoam yang halus memerlukan ratusan kali eksperimen yang tak jarang diwarnai luka bakar kecil atau tumpahan air.

Namun, Cici menolak menyerah. Ia membangun peta mental di dalam benaknya, menghafal tata letak setiap botol sirup, letak sendok, hingga jarak antar-peralatan di area bar secara presisi. Ketelitian yang tak bisa lagi ditangkap oleh indra penglihatannya, kini diresapi melalui kepekaan jemari yang penuh kasih. Ketika suara aliran air berubah nada, ia tahu takaran air sudah cukup. Ketika hawa panas dari poci susu menjalar ke telapak tangannya pada derajat tertentu, ia tahu susu tersebut siap dituangkan.

Kopi yang disajikan Cici bukan hanya komoditas pemuas dahaga penikmat kafein. Setiap cangkir adalah manifestasi dari proses panjang penerimaan diri dan pembuktian bahwa batas fisik hanyalah sebuah garis buatan yang diciptakan oleh ketakutan manusia itu sendiri.

Cafe More tempat Cici bekerja bukan sekadar tempat minum kopi biasa. Sebagai ruang inklusif yang digagas di lingkungan Wyata Guna, kafe ini menjadi jembatan diplomasi sosial antara masyarakat umum dan para penyandang disabilitas. Di sinilah Cici kerap menemukan momen-momen reflektif yang mengetuk kesadaran para pengunjungnya.

Tidak jarang, pelanggan yang datang pertama kali menunjukkan gestur ragu atau canggung saat memperhatikan bagaimana Cici mendekatkan jarak pandangnya ke cangkir atau peralatan bar. Ada jeda hening yang menggantung di udara. Namun, keheningan itu lumer seketika saat Cici menyapa dengan ramah, meracik pesanan dengan cekatan, dan menyajikannya dengan rasa yang tak kalah bersaing dari kafe-kafe komersial ternama di pusat Kota Bandung.

"Sering ada pelanggan yang awalnya canggung atau kasihan. Tapi begitu kopi selesai dibuat dan mereka mencicipinya, rasa iba itu berubah menjadi rasa hormat," ungkap Cici.

Bagi Cici, proses mengubah sudut pandang orang lain adalah kemenangan-kemenangan kecil yang ia rayakan setiap hari. Melalui segelas kopi, ia meruntuhkan tembok stigma yang kerap memisahkan dunia disabilitas dengan masyarakat awam.

Jika pagi hingga sore harinya diwarnai aroma biji kopi dan obrolan pelanggan, maka hari-hari selanjutnya didedikasikan Cici untuk mengasah intelektualitasnya di Politeknik Kesejahteraan Sosial (Poltekesos) Bandung. Memasuki semester 5, dinamika perkuliahan di jurusan Kesejahteraan Sosial menuntut Cici bergulat lebih dalam dengan materi perkuliahan, praktik pekerjaan sosial, dan strategi pemberdayaan masyarakat.

Membagi waktu antara jam kerja shift di kafe dan tenggat waktu tugas perkuliahan tingkat menengah yang makin padat bukanlah hal yang ringan. Di ruang-ruang kelas dan diskusi kelompok, Cici memadukan sisa penglihatannya dengan teknologi asistif berupa aplikasi pembaca layar (screen reader) serta pembesar tampilan (magnifier) pada ponsel pintar dan laptopnya. Suara mesin buatan yang membacakan deretan teks modul perkuliahan dengan kecepatan tinggi menjadi teman setianya saban malam.

Pilihan Cici untuk mendalami ilmu Kesejahteraan Sosial terasa seperti sebuah takdir yang berkelindan rapat dengan garis hidupnya. Menjadi seseorang yang menjalani hidup sebagai low vision sejak lahir, ia paham betul dinamika dan gejolak menjadi bagian dari kelompok disabilitas di tengah fasilitas publik yang belum sepenuhnya inklusif.

"Saya mempelajari Kesejahteraan Sosial karena saya hidup di dalam realitas itu sendiri sejak lahir," tutur Cici dengan nada mantap. "Selama ini penyandang disabilitas sering kali hanya dipandang sebagai 'objek' penderitaan atau 'penerima bantuan' belaka. Saya ingin mengubah paradigma itu. Kami punya potensi, kami punya hak, dan kami bisa menjadi 'subjek' atau pelaku utama yang menggerakkan perubahan sosial."

Pengalaman lapangannya di kafe serta pendidikannya yang kian matang di semester 5 Poltekesos memberi Cici fondasi berpikir yang makin kritis mengenai pentingnya aksesibilitas, kesetaraan kesempatan kerja, dan keadilan sosial bagi seluruh lapisan masyarakat tanpa terkecuali.

Perjalanan Sri Ayu "Cici" mengajarkan satu hal mendasar tentang arti menjadi manusia: bahwa keterbatasan fisik tidak pernah sungguh-sungguh bisa memadamkan daya cipta seseorang yang memiliki tekad kuat. Di balik kesederhanaan senyumnya saat mengelap meja bar, ada daya juang luar biasa yang terus menyala

Bagi Cici, masa depan bukanlah sesuatu yang harus ditakuti meski ia hanya bisa melihatnya dalam gambaran yang samar. Ia bermimpi kelak, setelah menyelesaikan studinya di Poltekesos, ia bisa terlibat lebih jauh dalam pembuatan program-program pemberdayaan bagi kelompok disabilitas di Indonesia, baik di bidang ekonomi kreatif maupun akses pendidikan. Ia juga menggebu ingin memiliki sebuah usaha ruang inklusif sendiri yang sepenuhnya dikelola oleh teman-teman difabel.

Matahari mulai meninggi di langit Bandung. Sinar surya menembus celah-celah jendela Cafe More, memantulkan bayangan jemari Cici yang sedang menuangkan adonan kopi ke dalam cangkir terakhir siang itu.

Setiap tegukan kopi yang diracik oleh Cici menyisakan rasa pahit yang pas dan manis yang tertinggal hangat di tenggorokan sebuah rasa yang persis menggambarkan perjalanan hidupnya. Cici telah membuktikan bahwa keindahan hidup tidak selalu harus dilihat dengan mata yang sempurna, melainkan bisa dirasakan, diresapi, dan dibagikan melalui ketulusan hati serta karya nyata.

Penulis: Suhendar (Aktivis Disabilitas)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....