Meningkatkan Kapasitas Perekonomian Ditengah Ketidakpastian

  • 11 Okt 2025 14:45 WIB
  •  Bandung

KBRN, Tasikmalaya : Organisasi untuk Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi atau Organization for Ecinomic Co- operation and Development (OECD), baru-baru ini merevisi proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia dengan prediksi yang lebih baik dibandingkan perkiraan sebelumnya. Optimisme ini tidak terlepas dari sinergi kebijakan yang tengah ditempuh, terutama melalui pelonggaran moneter dan langkah ekspansi fiskal pemerintah.

Di sisi lain, peran konsumsi rumah tangga masih dominan dan diproyeksi tetap mampu menopang perekonomian, tercermin dari Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) yang masih menunjukkan optimisme. Nilai IKK pada Agustus 2025 berada pada level 117,2 yang menandakan konsumsi Rumah Tangga memiliki prospek yang positif ke depan.

Terjaganya inflasi pada level yang terkendali turut memperkuat keyakinan tersebut bahwa daya beli masyarakat terus terjaga dan mendukung aktivitas konsumsi.

Perkembangan terkini menunjukkan inflasi masih dalam sasaran, tercatat rendah pada September 2025 sebesar 0,21 persen (mtm) atau 2,65 persen (yoy) yang menandakan keberhasilan berbagai kebijakan pengendalian harga. Titik terang berikutnya terletak pada optimisme investasi, yang dapat dijelaskan melalui teori akselerator oleh Dale Jorgenson (1967).

Sang pionir dari Harvard menekankan bahwa investasi tidak hanya dipengaruhi oleh biaya modal yang rendah seperti turunnya BI-Rate, tetapi juga ditentukan oleh prospek pertumbuhan output. Dengan kata lain, jika perekonomian menunjukkan potensi ekspansi, maka kebutuhan kapasitas produksi baru akan mendorong pelaku usaha berinvestasi. Bak gayung bersambut, terdapat kepercayaan dunia internasional terhadap fundamental ekonomi Indonesia. Japan Credit Rating Agency (JCR) kembali menyematkan investment grade (BBB+) bagi Indonesia dengan outlook yang stabil dan diyakini akan membentuk persepsi positif investor bagi prospek perekonomian nasional.

Momentum inilah yang tengah dinanti. Penurunan BI-Rate memberi ruang likuiditas, sementara stabilitas inflasi menjaga daya beli. Dukungan fiskal juga menjadi stimulus penting bagi permintaan. Kombinasi faktor tersebut diharapkan dapat menciptakan siklus positif antara konsumsi, output, dan investasi yang pada akhirnya memperkuat kapasitas ekonomi nasional.Rangkaian kebijakan tersebut membentuk suatu kepercayaan yang lebih solid, sekaligus mengirimkan sinyal positif kepada masyarakat maupun dunia internasional atas prospek ekonomi Indonesia yang semakin menjanjikan.

Fundamental Ekonomi yang Kuat

Meskipun ketidakpastian global akibat tarik-menarik tarif perdagangan dan dinamika geopolitik masih berlangsung, roda ekonomi Indonesia tetap bergerak konsisten di jalur pemulihan. Dari sisi domestik, fundamental ekonomi relatif terjaga.

Baca juga:Rencana Pemkab Tasikmalaya Mengambil Dana Pinjaman Ditolak F-PKB

Kepercayaan pelaku ekonomi tetap positif, sementara indikator makro menunjukkan ketahanan yang kuat. Kuatnya fundamental ekonomi terlihat dari cadangan devisa yang pada akhir Agustus 2025 mencapai USD150,7 miliar, cukup untuk membiayai lebih dari enam bulan impor dan membayar utang luar negeri. Nilai tukar rupiah juga stabil, ditopang surplus neraca perdagangan yang meningkat menjadi USD5,49 miliar pada Agustus 2025, naik dari USD4,17 miliar pada bulan sebelumnya.

Ketahanan sektor perbankan Indonesia juga tetap solid dan menjadi penopang utama stabilitas sistem keuangan. Ketahanan tersebut tercermin pada rasio kecukupan modal (CAR) yang pada Juli 2025 masih tinggi di level 25,88 persen. Artinya, perbankan memiliki bantalan yang cukup besar untuk menghadapi risiko.

Sementara itu, rasio kredit bermasalah (NPL) juga tetap rendah, yakni hanya 2,28 persen secara bruto dan 0,86 persen secara neto. Kondisi ini memperlihatkan bahwa kualitas pembiayaan perbankan tetap terjaga dengan baik, sehingga memberi ruang lebih pelonggaran moneter. Namun, di balik capaian tersebut terdapat tantangan penyaluran kredit perbankan masih perlu dijawab.

Pertumbuhan kredit perbankan masih perlu ditingkatkan, sehingga fungsi penyaluran dana bagi dunia usaha dapat lebih maksimal. Padahal di tengah momentum pemulihan, akses pembiayaan produktif sangat krusial untuk mendorong investasi, membuka lapangan kerja, dan memperkuat daya saing.

Untuk itu, perkembangan penurunan BI-Rate saat ini perlu diseimbangkan dengan penurunan suku bunga kredit perbankan agar menjadi akselerator serta memberikan multiplier effect yang besar bagi perekonomian.

Sinergi untuk Akselerasi Pertumbuhan

Mencermati dinamika global, ketidakpastian masih terus membayangi perekonomian dunia. Hal ini tercermin dari Indeks Ketidakpastian Perdagangan dan Indeks Ketidakpastian Kebijakan Global yang terus meningkat hingga Agustus 2025 (UN Trade and Development, 2025). Situasi tersebut menjadi pengingat bahwa Indonesia perlu tetap waspada.

Menjawab tantangan ini, koordinasi fiskal dan moneter semakin krusial untuk menjaga momentum pertumbuhan. Sinergi pelonggaran moneter dan stimulus fiskal menjadi strategi yang saling melengkapi.

Pada sisi kebijakan moneter diharapkan mendukung permintaan agregat melalui penurunan suku bunga dan dorongan kredit produktif, dan di sisi fiskal diharapkan kualitas belanja pemerintah tetap terjaga agar mampu memberikan daya ungkit optimal bagi perekonomian.

Pendekatan ini mencerminkan komitmen Indonesia dalam menjaga keseimbangan antara stabilitas jangka pendek dan fondasi pertumbuhan jangka panjang. Lebih lanjut, reformasi fiskal menjadi langkah strategis untuk memperkuat fondasi penerimaan negara dan memastikan keberlanjutan pembangunan.

Di sisi lain, pelonggaran kebijakan moneter yang ditempuh tetap dijalankan dengan kewaspadaan dan kehati-hatian untuk menjaga stabilitas harga. Seperti dikatakan Milton Friedman, “Inflation is always and everywhere a monetary phenomenon.” Namun, dengan tata kelola kebijakan yang kredibel serta sinergi fiskal dan moneter yang solid, Indonesia memiliki ruang yang luas untuk menjaga stabilitas sekaligus memperkuat momentum pertumbuhan ekonomi.

Terakhir, kebijakan tidak harus sempurna, tetapi tepat arah. Seperti wejangan Keynes, ”It is better to be roughly right than precisely wrong”. Dalam situasi bayang-bayang ketidakpastian global, maka sinergi kebijakan menjadi kunci. Semoga hal ini dapat menjadi game changer dalam mencapai target pertumbuhan ekonomi ke depan.

Penulis: Adhy Ramawan Putra & Lupita Ramdhaina Yusuf (Bank Indonesia Tasikmalaya – Unit Data Statistik & Kehumasan) BI Tasikmalaya

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....