Pemkot Bandung Perkuat Sinergi PMI dan Posyandu
- 18 Sep 2026 10:45 WIB
- Bandung
RRI.CO.ID, Bandung – Pemerintah Kota (Pemkot) Bandung mendorong penguatan kolaborasi antara Palang Merah Indonesia (PMI) dan Tim Pembina Posyandu Kota Bandung melalui peluncuran Kesatuan Relawan Posyandu (Keswandu).
Program tersebut diarahkan untuk memperkuat peran relawan dan kader Posyandu dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat, khususnya di bidang kesehatan, sosial, serta penanganan kedaruratan.
Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan mengatakan, kolaborasi PMI dan Posyandu merupakan salah satu bentuk nyata dalam membangun masyarakat yang tangguh terhadap bencana.
Menurutnya, ketangguhan masyarakat tidak hanya diukur dari kemampuan menghadapi bencana besar seperti gempa bumi, banjir, atau longsor. Ketangguhan juga terlihat dari kemampuan masyarakat merespons berbagai gangguan dalam kehidupan sehari-hari, termasuk kecelakaan lalu lintas dan kebakaran.
“Ketahanan sebuah masyarakat terhadap bencana itu justru dilihat bagaimana respons kita terhadap berbagai macam gangguan rutinitas kehidupan sehari-hari. Bahkan kecelakaan lalu lintas pun bisa dikategorikan sebagai sebuah bencana,” Peluncuran Keswandu ditandai dengan penandatanganan kerja sama antara PMI Kota Bandung dan Tim Pembina Posyandu Kota Bandung di Pendopo Kota Bandung, jumat 18 September 2026.
Ia mencontohkan penanganan kecelakaan lalu lintas yang melibatkan banyak orang. Kondisi tersebut membutuhkan keterlibatan dan koordinasi berbagai unsur, mulai dari kepolisian, TNI, relawan, tenaga kesehatan hingga unsur lainnya.
Farhan menyebut, sistem respons kedaruratan di Kota Bandung saat ini mampu memberikan respons kurang dari 15 menit. Bahkan, dalam sejumlah kondisi, waktu respons disebut telah mencapai sekitar delapan menit.
“Artinya kemampuan kita untuk menjadi masyarakat yang tangguh bencana sudah baik. Kita tinggal berharap kepada Tuhan Yang Maha Esa jangan sampai terjadi bencana besar di Kota Bandung. Namun bukan berarti kita tidak waspada,” ucapnya.
Menurut Farhan, keberadaan Keswandu menjadi penting karena mempertemukan kekuatan PMI dan Posyandu yang selama ini memiliki jejaring relawan serta kader hingga tingkat kewilayahan.
Ia berharap kerja sama tersebut tidak berhenti pada kegiatan seremonial, tetapi menghasilkan program yang konkret dan terukur.
“Khusus untuk Posyandu, saya minta agar betul-betul fokus belajar memanfaatkan keilmuan dan keahlian serta pengalaman Palang Merah Indonesia dalam memberikan transfer pengetahuan dan keahlian tentang penanganan kesehatan,” katanya.
Farhan menilai, PMI memiliki pengalaman dan kapasitas dalam penanganan kemanusiaan, sementara Posyandu memiliki kedekatan langsung dengan masyarakat. Kolaborasi keduanya diharapkan dapat memperkuat pelayanan mulai dari tingkat kota hingga lingkungan masyarakat.
Farhan juga menyoroti peran Posyandu dalam mendukung pemenuhan enam Standar Pelayanan Minimal (SPM), yang meliputi kesehatan, pendidikan, pekerjaan umum, perumahan rakyat, ketenteraman dan ketertiban umum, serta sosial.
Salah satu persoalan yang menjadi perhatian adalah sanitasi lingkungan. Menurut Farhan, persoalan sanitasi tidak hanya berkaitan dengan kebersihan, tetapi juga menyangkut perubahan perilaku, infrastruktur, sistem permukiman hingga kondisi sosial masyarakat.
Karena itu, berbagai persoalan tersebut membutuhkan kolaborasi banyak pihak. “Tidak ada satu pun aktor termasuk wali kota, yang bisa melakukan segalanya. Saya bukan Superman. Kolaborasi ini yang menjadi kunci bagaimana Kota Bandung bisa mengatasi berbagai macam masalah,” katanya.
Sementara itu, Sekretaris TP Posyandu Kota Bandung, Momon Ahmad Imron Sutisna mengatakan, PMI dan TP Posyandu sama-sama merupakan lembaga mitra pemerintah yang memiliki jejaring relawan dan kader di tingkat kewilayahan.
Menurutnya, terdapat irisan tugas antara relawan PMI dan kader Posyandu, terutama dalam pelayanan kesehatan dan sosial. Karena itu, sinergi keduanya diharapkan dapat membuat pelayanan kepada masyarakat semakin optimal.
“Kehadiran relawan PMI di Posyandu akan membantu Posyandu khususnya bidang kesehatan dan sosial di dalam penyediaan data pendonor darah untuk ibu hamil yang berisiko melahirkan, rekrutmen calon pendonor darah dan sosialisasi perawatan keluarga serta meningkatkan kemampuan kader Posyandu di dalam melakukan pertolongan pertama,” katanya.
Ia menjelaskan, pelaksanaan Keswandu akan melibatkan berbagai unsur di tingkat kewilayahan, mulai dari kecamatan, kelurahan, puskesmas, petugas lapangan TPPKB, TP PKK, TP Posyandu, PMI kecamatan, ketua RW dan RT hingga kader Posyandu.
Relawan PMI yang tergabung dalam Siaga, Korps Sukarela (KSR), Palang Merah Remaja (PMR), serta keluarga donor darah juga diharapkan ikut terlibat dalam program tersebut.
Karena Keswandu merupakan inovasi yang masih baru di Kota Bandung, Momon mengatakan sosialisasi perlu dilakukan secara berkelanjutan dan berjenjang.
“Mudah-mudahan dengan kerja sama ini akan semakin mempercepat pemahaman semua pihak tentang Keswandu serta meningkatkan kemampuan teknis relawan PMI dan kader Posyandu di dalam mendukung kegiatan Keswandu di lapangan,” uvapnya.
Ketua PMI Kota Bandung, Ade Koesjanto mengatakan, kerja sama tersebut bukan sekadar penandatanganan dokumen, tetapi menjadi komitmen untuk memperluas pelayanan kemanusiaan hingga ke tengah masyarakat.
“Posyandu memiliki posisi yang sangat strategis karena berada dekat dengan keluarga dan masyarakat. Di sanalah kita dapat melakukan upaya pencegahan, edukasi, pendampingan, dan pelayanan kesehatan masyarakat sejak dari lingkungan yang dekat,” katanya.
Ia menjelaskan, PMI ingin memperluas perannya agar tidak hanya hadir ketika bencana atau keadaan darurat terjadi. Melalui Keswandu, PMI berharap dapat ikut melakukan upaya pencegahan sekaligus meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat sebelum keadaan darurat terjadi.
“Kami berharap Keswandu dapat menjadi bagian dari gerakan bersama untuk membangun masyarakat Kota Bandung yang lebih sehat, lebih tangguh, dan lebih peduli,” ucapnya.
Ade menekankan, keberhasilan program tersebut membutuhkan keterlibatan banyak pihak. Pemerintah, PMI, kader Posyandu, relawan dan masyarakat harus bergerak bersama agar pelayanan kesehatan dan kemanusiaan dapat dilakukan secara lebih cepat dan luas.
“Setelah launching, harus ada program yang nyata, kader yang semakin kuat, pelayanan yang semakin dekat dan masyarakat yang semakin merasakan manfaatnya,” katanya.
Ia berharap Keswandu menjadi awal kolaborasi kemanusiaan yang berkelanjutan dari tingkat kota, kecamatan, kelurahan, RW hingga keluarga.
“Setetes darah, sejuta harapan bagi sesama. Satu langkah kepedulian, sejuta manfaat untuk masyarakat,” tandasnya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....