UPI Kembangkan Bionut untuk Tekan Biaya Produksi Petani

  • 28 Agt 2026 21:14 WIB
  •  Bandung

RRI.CO.ID, Bandung - Upaya mengurangi biaya produksi menjadi salah satu tantangan yang terus dihadapi petani dalam menjalankan usaha pertanian. Kondisi tersebut mendorong berbagai pihak, termasuk perguruan tinggi, untuk menghadirkan inovasi yang dapat membantu meningkatkan efisiensi sekaligus produktivitas tanaman.

Pada 2026, pemerintah juga mengambil langkah untuk mendukung efisiensi usaha tani dengan menurunkan harga pupuk bersubsidi sekitar 20 persen. Selain penyesuaian harga, pemerintah melakukan pembenahan tata kelola penyaluran pupuk agar akses petani terhadap kebutuhan produksi tersebut semakin mudah dan tepat sasaran.

Di tengah upaya tersebut, Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) mengembangkan inovasi bernama Bionut. Produk berbasis hayati ini memanfaatkan ekstrak tumbuhan tropis dan mulai diterapkan secara langsung pada lahan petani hortikultura di kawasan Sindangpalay, Desa Cugugur, Kecamatan Parongpong, Kabupaten Bandung Barat.

Bionut telah digunakan untuk sejumlah komoditas hortikultura, di antaranya cabai, tomat, buncis, selada, hingga kailan. Penerapan langsung di lahan petani dilakukan untuk melihat sejauh mana inovasi hasil penelitian perguruan tinggi tersebut mampu memberikan manfaat ketika digunakan dalam kondisi budidaya sebenarnya.

Salah seorang petani yang telah menggunakan Bionut, Iib, mengungkapkan penggunaan inovasi tersebut memberikan perubahan terhadap pertumbuhan tanaman sekaligus membantu menekan pengeluaran selama proses produksi. Berdasarkan pengalamannya selama sekitar satu tahun, biaya produksi yang dikeluarkan dapat berkurang cukup signifikan.

“Biaya produksi bisa berkurang sekitar tiga puluh persen,” ujar Iib saat ditemui di lahan pertaniannya di Sindangpalay, Kamis, 27 Agustus 2026.

Menurut Iib, penghematan biaya tersebut salah satunya dipengaruhi oleh berkurangnya penggunaan sejumlah pupuk kimia. Selain persoalan biaya, ia juga melihat adanya perubahan pada kondisi tanaman yang dibudidayakan, seperti ukuran daun yang lebih lebar serta bobot tanaman yang dinilai lebih tinggi.

Sementara itu, inovator Bionut, Drs. Yaya Sonjaya, M.Si., mengatakan penerapan inovasi tersebut merupakan bagian dari upaya membawa hasil penelitian perguruan tinggi agar tidak hanya berhenti di lingkungan akademik. Menurutnya, riset harus dapat diuji secara langsung dan memberikan manfaat bagi masyarakat.

“Tujuannya yang utama bagaimana petani bisa merasakan hasil riset, hasil inovasi dari perguruan tinggi agar mereka dapat memperoleh manfaatnya. Hasil-hasil riset perguruan tinggi jangan jadi menara gading, tetapi harus terasa oleh masyarakat luas,” kata Yaya.

Penerapan Bionut sendiri dilakukan secara bertahap. Pada tahap awal, inovasi tersebut diuji melalui satu petani dan sejumlah demplot. Setelah mendapatkan hasil awal, penerapannya kemudian diperluas dengan melibatkan sekitar 10 petani untuk melihat efektivitasnya, termasuk dari sisi produktivitas tanaman.

Dalam pengembangan tersebut, sejumlah komoditas turut menjadi objek pengujian, seperti cabai rawit, tomat, buncis, kailan, sawi, brokoli, dan selada. Keterlibatan lebih banyak petani dinilai penting untuk mendapatkan data yang lebih beragam mengenai penggunaan Bionut di lapangan.

Tim peneliti UPI juga menjadikan hasil penerapan di lahan petani sebagai bahan evaluasi. Data yang diperoleh tidak hanya digunakan untuk melihat manfaat Bionut, tetapi juga untuk mengetahui berbagai kendala yang masih ditemukan sehingga dapat menjadi dasar pengembangan inovasi berikutnya.

Ketua Pengabdian kepada Masyarakat sekaligus Guru Besar Departemen Pendidikan Kimia FPMIPA UPI, Prof. Dr. Hendrawan, M.Si., mengatakan hasil pengamatan sementara menunjukkan Bionut memiliki potensi terhadap pertumbuhan vegetatif tanaman. Namun, ia menyebut masih terdapat pekerjaan rumah yang harus diselesaikan, terutama berkaitan dengan serangan hama dan penyakit.

“Kalau dari sisi vegetatif saya kira ini punya keunggulan yang luar biasa, cuma kita masih ada PR utamanya itu masalah hama dan penyakit,” ujar Hendrawan.

Untuk mengatasi persoalan tersebut, tim peneliti UPI bersama mahasiswa kini tengah mengembangkan formulasi biopestisida yang nantinya diharapkan dapat dikombinasikan dengan Bionut. Saat ini terdapat lima seri percobaan yang masih berada dalam tahap penelitian dan selanjutnya akan dipersiapkan untuk pengujian yang lebih luas setelah hasilnya dinilai siap.

Pengembangan Bionut dengan demikian tidak berhenti pada hasil awal yang diperoleh dari lahan pertanian. Proses tersebut terus dilakukan melalui pengamatan, pengumpulan data, serta evaluasi terhadap efektivitas dan keterbatasan inovasi agar dapat disesuaikan dengan kebutuhan petani.

Di sisi lain, Iib berharap keterlibatan perguruan tinggi dalam mendampingi petani dapat terus berlanjut. Menurutnya, pendampingan tidak hanya dibutuhkan dalam penggunaan inovasi pertanian, tetapi juga mencakup teknik budidaya, pengelolaan usaha tani, hingga pemasaran hasil produksi.

Bagi UPI, penerapan Bionut menjadi salah satu bentuk hilirisasi hasil penelitian agar dapat memberikan dampak langsung bagi masyarakat. Di tengah kebutuhan untuk menekan biaya usaha tani, inovasi berbasis tumbuhan tropis tersebut diharapkan menjadi alternatif yang dapat membantu meningkatkan efisiensi produksi, meski pengujian dan pengembangannya masih terus dilakukan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....