Pesan Rektor ITB pada Wisudawan: Ijazah Bukan Sekadar Kertas, tapi Tugas dan Amanah

  • 28 Agt 2026 20:29 WIB
  •  Bandung

RRI.CO.ID, Bandung – Rektor Institut Teknologi Bandung (ITB) Prof. Dr. Ir. Tatacipta Dirgantara mengingatkan para lulusan ITB agar tidak memandang ijazah hanya sebagai tanda telah menyelesaikan pendidikan tinggi. Menurutnya, ijazah merupakan simbol dari tanggung jawab dan amanah yang harus diwujudkan melalui kontribusi nyata di tengah masyarakat.

Pesan tersebut diungkapkannya dalam momen Wisuda Gelombang Ketiga ITB yang berlangsung pada 27-28 Agustus 2026, di Gedung Sasana Budaya Ganesha (Sabuga) ITB. Sejumlah 2.874 mahasiswa dari jenjang sarjana, magister, hingga doktor mengikuti prosesi tersebut.

“Saya ingin mengulangi lagi yang tadi disampaikan. Jadi, ijazah itu bukan selembar kertas, tapi itu tugas dan amanah. Pendidikan tinggi yang kita dapatkan ini adalah privilige, artinya kesempatan pendidikan yang kita dapatkan harus dikembalikan manfaatnya kepada masyarakat dan bangsa.," kata Tata di Gedung Sabuga ITB, Jumat 28 Agustus 2026.

Ia mengingatkan para lulusan dalam wisuda tersebut untuk membawa nilai-nilai yang selama ini ditanamkan ITB dalam menjalani kehidupan setelah lulus. Nilai tersebut di antaranya keunggulan, kepeloporan, kejuangan, dan pengabdian.

Tata juga mengaku salut dengan perjuangan keras para mahasiswa ITB hingga akhirnya lulus. Ia menegaskan komitmen ITB untuk menjadikan para mahasiswa yang mendapatkan kesempatan menempuh pendidikan di kampus itu sebagai putra-putri terbaik bangsa.

"Kalau tadi kita lihat juga banyak mahasiswa yang memang betul-betul berjuang, dari tidak punya apa-apa sampai akhirnya bisa menyelesaikan pendidikannya di ITB, itu juga merupakan suatu penghargaan buat ITB, dan ITB tetap berkomitmen untuk menjadikan putra-putri bangsa yang terbaik itu mendapatkan kesempatan pendidikan tinggi di ITB," katanya

Selain pesan kepada lulusan, Tata turut menyoroti sikap kritis mahasiswa. Ia menilai mahasiswa harus tetap kritis terhadap berbagai persoalan, namun tidak mudah dimanfaatkan oleh kepentingan pihak lain.

Menurut Tata, sikap kritis merupakan bagian penting dari peran mahasiswa di tengah masyarakat. Ia menegaskan, budaya kritis tetap diperlukan karena mahasiswa memiliki peran untuk melakukan kajian, memberikan koreksi, maupun menyampaikan kritik yang konstruktif terhadap berbagai persoalan.

"Mahasiswa itu harus terus kritis, tetapi jangan sampai mau dimanfaatkan oleh orang lain. Jadi, kritis dan independen, lakukan kajian yang betul, kemudian cari data yang bagus, analisis dari berbagai sudut pandang, kemudian buat kesimpulan sendiri. Kalau seperti ini, saya kira akan sangat baik. Karena memang tugasnya mahasiswa untuk melakukan kajian, kemudian mungkin mengoreksi atau melakukan kritik yang konstruktif," kata Tata.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....