Petani Jaring Apung Waswas Fenomena Upwelling

  • 20 Jul 2026 18:44 WIB
  •  Bandung
Poin Utama
  • Kematian ikan sebanyak 10 ton terjadi di wilayah Cioray, Citebeng, hingga Pasir Panjang, Kabupaten Bandung Barat dengan kerugian ditaksir mencapai Rp200 juta.
  • Penyebab utama kematian ikan adalah menumpuknya eceng gondok yang menutup permukaan perairan sehingga menghambat sirkulasi air dan menurunkan kadar oksigen.
  • Petani ikan jaring apung di Kabupaten Cianjur meminta pemerintah segera menangani persoalan eceng gondok karena mengancam sumber penghidupan ribuan warga.

RRI.CO.ID, Cianjur- Adanya ancaman fenomena upwelling mulai membuat petani ikan jaring apung (Japung) di Kabupaten Cianjur waswas, setelah kematian sekitar 10 ton ikan di wilayah Bandung Barat, dengan kerugian ditaksir mencapai Rp200 juta, para pembudidaya meminta pemerintah segera menangani persoalan eceng gondok yang mengancam sumber penghidupan ribuan warga.

Dedi Herdiana (44)Petani ikan Jaring apung (Japung) Jangari mengatakan, kematian ikan terjadi di kawasan Cioray, Citebeng hingga Pasir Geulis atau Pasir Panjang yang masuk wilayah Kabupaten Bandung Barat.

Ia menambahkan penyebab utama peristiwa tersebut adalah menumpuknya eceng gondok yang menutup permukaan perairan sehingga menghambat sirkulasi air dan menurunkan kadar oksigen.

"Eceng gondok mengunci pergerakan air sehingga kadar oksigen berkurang. Akibatnya ikan mabuk karena kekurangan oksigen," kata Dedi, Senin 20 Juli 2026.

Selain itu kondisi di wilayah Jangari, Cianjur, hingga saat ini masih aman. Namun, para pembudidaya tetap dihantui kekhawatiran mengingat hamparan eceng gondok masih banyak ditemukan di sejumlah titik.

"Alhamdulillah wilayah kami masih aman. Tapi tetap waswas karena eceng gondok yang mengunci air masih banyak. Kemarin cuaca juga tidak terlalu ekstrem, tapi ikan tetap mabuk," ujarnya.

Dedi memperkirakan ikan yang mati di wilayah Bandung Barat mencapai sekitar 10 ton. Dengan asumsi harga ikan Rp20 ribu per kilogram, kerugian yang dialami pembudidaya diperkirakan mencapai Rp200 juta.

"Kalau dihitung Rp20 ribu per kilogram saja, kerugiannya sudah sekitar Rp200 juta," pungkasnya

google-preference
Kata Kunci / Tags

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....