Kemenbud Apresiasi Kampung Adat Cirendeu Pertahankan Kemandirian Pangan

  • 13 Jul 2026 14:53 WIB
  •  Bandung

RRI.CO.ID, Cimahi - Kementerian Kebudayaan memberikan apresiasi tinggi kepada masyarakat Kampung Adat Cirendeu yang konsisten menjaga tradisi leluhur sekaligus mempertahankan kemandirian pangan berbasis singkong. Komitmen tersebut ditegaskan dalam rangkaian Tutup Taun dan Ngemban Taun Saka Sunda 1959-1960 yang digelar di Kampung Adat Cirendeu, Kelurahan Leuwigajah, Kecamatan Cimahi Selatan, Sabtu 11 Juli 2026.

Kepala Balai Pelestarian Kebudayaan Jawa Barat, Retno Raswati, hadir mewakili Menteri Kebudayaan pada kegiatan tahunan yang menjadi simbol rasa syukur masyarakat adat tersebut. Kehadirannya menegaskan dukungan pemerintah pusat terhadap pelestarian budaya yang tumbuh dan berkembang di tengah masyarakat.

Sejak pagi, kawasan Kampung Adat Cirendeu dipadati warga, tokoh adat, lurah, serta unsur pemerintah yang turut mengikuti prosesi adat. Suasana khidmat dan penuh kebersamaan mewarnai pelaksanaan tradisi yang telah diwariskan secara turun-temurun tersebut.

“Acara Tutup Taun ini bukan sekadar pergantian kalender Sunda, tetapi merupakan ungkapan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas kehidupan, kesehatan, hasil bumi, dan keharmonisan yang diberikan kepada masyarakat.” ujar Retno.

Retno menilai masyarakat adat Cirendeu berhasil menjaga warisan budaya agar tetap hidup di tengah perkembangan zaman. Tradisi yang diwariskan para leluhur tidak hanya dipertahankan sebagai simbol budaya, tetapi juga dijalankan dalam kehidupan sehari-hari oleh seluruh lapisan masyarakat.

“Tidak hanya menjadi tradisi, tetapi juga menjadi bagian dari kehidupan yang dijalani hingga anak-anak generasi paling muda, dan itu sangat luar biasa.” ucapnya.

Menurut Retno, penyelenggaraan Tutup Taun dan Ngemban Taun telah dipersiapkan sejak lama melalui koordinasi antara masyarakat adat dan pemerintah. Kolaborasi yang terjalin menjadi faktor penting dalam menjaga keberlangsungan tradisi Saka Sunda agar tetap lestari dan bermakna.

Ia menyebut kegiatan tersebut sebagai bukti nyata bahwa budaya Sunda mampu bertahan dan berkembang di tengah derasnya arus modernisasi. Dukungan pemerintah diharapkan semakin memperkuat upaya masyarakat adat dalam menjaga identitas budaya untuk generasi mendatang.

Selain menjadi pusat pelestarian budaya, Kampung Adat Cirendeu juga dinilai sebagai contoh nyata ketahanan pangan berbasis kearifan lokal. Selama ratusan tahun, masyarakat setempat tetap mempertahankan singkong sebagai pangan pokok yang menjadi bagian dari identitas mereka.

“Saya melihat di sini salah satu masyarakat adat yang mampu bertahan dan mempertahankan kebiasaan mengonsumsi singkong sebagai makanan pokok hingga saat ini.” katanya.

Retno mengatakan kebiasaan tersebut menunjukkan bahwa ketahanan pangan dapat dibangun dari lingkungan keluarga dan komunitas. Pola konsumsi yang beragam menjadi langkah strategis untuk mengurangi ketergantungan terhadap satu jenis pangan saja.

“Cirendeu menjadi contoh bagaimana adat dan tradisi mampu beradaptasi serta bersinergi dengan masyarakat sekitar tanpa kehilangan identitas budayanya.” jelasnya.

Ia juga mendorong agar praktik baik yang diterapkan masyarakat Cirendeu dapat menjadi inspirasi bagi daerah lain di Indonesia. Menurutnya, pemanfaatan pangan lokal seperti rasi atau beras singkong sangat relevan untuk mendukung program diversifikasi pangan nasional.

Retno menilai keberhasilan masyarakat Cirendeu menjaga budaya sekaligus ketahanan pangan merupakan warisan berharga yang patut dikembangkan. Pengalaman tersebut dapat menjadi referensi dalam memperkuat kedaulatan pangan berbasis potensi lokal di berbagai daerah.

Melalui peringatan Ngemban Taun 1960 Saka Sunda, masyarakat Cirendeu kembali menegaskan komitmen untuk menjaga nilai-nilai budaya leluhur. Di saat yang sama, kampung adat ini juga menunjukkan bahwa tradisi dan inovasi dapat berjalan beriringan dalam mendukung ketahanan pangan Indonesia.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....