Makna Filosofi Tutup Taun Kampung Adat Cireundeu, Tradisi Syukur Menjaga Alam
- 13 Jul 2026 14:23 WIB
- Bandung
RRI.CO.ID, Cimahi - Rangkaian puncak Syukuran Kampung Adat Cireundeu bertajuk Tutup Taun 1959 Ngemban Taun 1 Sura 1960 Saka Sunda berlangsung khidmat pada 9–11 Juli 2026. Tradisi tahunan ini bukan sekadar perayaan pergantian tahun adat, tetapi menjadi momentum memperkuat rasa syukur sekaligus menjaga keseimbangan hubungan manusia dengan Tuhan, alam, dan sesama.
Berbagai prosesi adat yang digelar selama tiga hari sarat dengan nilai-nilai filosofi warisan leluhur yang masih dipertahankan hingga kini. Setiap tahapan ritual mengandung pesan tentang pentingnya menjaga kelestarian lingkungan serta membangun kehidupan yang harmonis secara spiritual maupun sosial.
Tokoh Kampung Adat Cireundeu, Abah Widi, menjelaskan bahwa penanggalan dalam tradisi Sunda tidak hanya dipahami sebagai hitungan waktu semata. Menurutnya, setiap tanggal dalam kalender adat memiliki rangkaian prosesi yang saling berkaitan dan mengandung makna mendalam.

"Mulai dari tanggal 1 Sura, berlanjut ke tanggal 10 Sura, hingga puncaknya pada tanggal 30 Sura, semuanya menjadi satu rangkaian pemaknaan." ujar Abah Widi saat di temui, Sabtu 11 Juli 2026.
Abah Widi mengatakan, inti dari seluruh rangkaian upacara adalah ungkapan rasa syukur atas kesehatan, rezeki, serta kehidupan yang terus diberikan Sang Pencipta. Nilai tersebut diwujudkan melalui sembahyang adat yang dilakukan sebagai bentuk penghormatan kepada Tuhan dalam setiap aktivitas kehidupan.
"Kalau umat Muslim mengenal salat, di adat kami disebut sembahyang, yaitu rasa syukur yang dijalankan setiap detik dan setiap menit atas segala pemberian Tuhan." katanya.
Filosofi itu juga tercermin dari berbagai perlengkapan yang digunakan dalam upacara adat. Salah satunya adalah kendi berbahan tanah liat yang ditempatkan di persimpangan sebagai simbol kewajiban manusia menjaga bumi sebagai tempat berpijak.
Di dalam kendi tersebut terdapat air jernih yang melambangkan sumber kehidupan yang harus terus dijaga keberlangsungannya. Sementara tanaman muda yang diletakkan di atas kendi menjadi pengingat agar manusia terus menanam dan merawat alam demi keberlangsungan generasi mendatang.
Selain itu, kemenyan yang dibakar serta aneka hidangan berbahan dasar singkong menjadi simbol penghormatan terhadap hasil bumi yang telah memberikan kehidupan. Seluruh sajian tersebut mencerminkan prinsip masyarakat adat yang memanfaatkan alam secara bijaksana tanpa merusak keseimbangannya.
"Yang terpenting bagi kami adalah menjaga tanah, menjaga air, dan menjaga pepohonan, karena ketiganya merupakan penyangga utama kehidupan." ucapnya.
Komitmen menjaga lingkungan juga diwujudkan melalui pengelolaan kawasan hutan adat yang dibagi menjadi tiga wilayah, yakni Hutan Tutupan, Hutan Larangan, dan Hutan Baladahan. Ketiga kawasan tersebut dijaga secara ketat agar tetap lestari dan tidak mengalami alih fungsi yang dapat merusak ekosistem.
Menurut Abah Widi, konsistensi masyarakat menjaga tradisi dan kelestarian alam menjadikan Kampung Adat Cireundeu dikenal hingga mancanegara. Banyak pengunjung dari luar negeri datang untuk mempelajari langsung praktik ketahanan pangan yang telah dijalankan masyarakat adat selama puluhan tahun.
"Mereka datang bukan untuk mendengar cerita, tetapi mencari fakta bahwa sekitar 60 kepala keluarga di sini tidak mengonsumsi beras dan tetap hidup sehat, sehingga Cireundeu menjadi pusat edukasi ketahanan pangan dunia." jelasnya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....