Tradisi Tutup Taun Cireundeu Jadi Inspirasi Ketahanan Pangan Nasional

  • 13 Jul 2026 14:25 WIB
  •  Bandung

RRI.CO.ID, Cimahi - Rangkaian upacara syukuran Tutup Taun 1959 dan Ngemban Taun 1 Sura 1960 Saka Sunda yang digelar Kampung Adat Cireundeu, Kota Cimahi, pada 9–11 Juli 2026 kembali menegaskan bahwa nilai-nilai kearifan lokal tetap relevan di tengah perkembangan zaman. Tradisi yang diwariskan secara turun-temurun itu dinilai mampu menjadi inspirasi dalam membangun ketahanan pangan nasional yang mandiri dan berkelanjutan.

Ketua Umum Majelis Adat Sunda (MASDA) Jawa Barat, Anton Charliyan, mengatakan masyarakat adat Cireundeu telah membuktikan bahwa pola konsumsi pangan berbasis rasi atau beras singkong bukanlah simbol keterbelakangan. Sebaliknya, kebiasaan tersebut menjadi contoh nyata masyarakat yang mampu menjaga kemandirian pangan sekaligus mempertahankan warisan budaya leluhur.

"Perayaan ini menandai peralihan dari Tahun Dal ke Tahun Be dalam kalender Sunda yang bermakna memasuki masa tahun bumi." ujar Anton saat ditemui, Sabtu 11 Juli 2026.

Menurut Anton, di tengah derasnya arus globalisasi yang perlahan mengikis budaya lokal, Kampung Adat Cireundeu justru mampu mempertahankan identitasnya. Bahkan, masyarakatnya berhasil menunjukkan bahwa tradisi leluhur dapat berjalan berdampingan dengan kehidupan modern tanpa kehilangan nilai dan manfaatnya.

Ia menjelaskan bahwa dari sisi produktivitas, tanaman singkong memiliki keunggulan dibandingkan padi. Dalam satu hektare lahan, produksi padi rata-rata hanya mencapai enam hingga tujuh ton beras, sedangkan singkong mampu menghasilkan sekitar 20 hingga 50 ton dalam satu tahun masa tanam.

Selain produktivitas yang tinggi, biaya produksi singkong juga dinilai lebih ekonomis dengan kandungan gizi yang tidak kalah dibandingkan beras. Singkong memiliki kandungan serat tinggi, rendah kalori, serta terbukti menjadi sumber pangan sehat bagi masyarakat Cireundeu.

"Jangan pernah menganggap masyarakat adat itu kuno atau tertinggal karena justru di sinilah letak kebijaksanaan yang telah teruji oleh zaman." ucapnya.

Anton menambahkan, keberhasilan pola hidup masyarakat Cireundeu juga terlihat dari kualitas sumber daya manusianya. Ia menyebut sejumlah warga yang sejak kecil mengonsumsi rasi berhasil meraih prestasi akademik hingga tingkat doktor dan bahkan ada yang lulus sebagai peringkat pertama Akademi Kepolisian (Akpol).

Menurutnya, konsep Makan Bergizi Gratis (MBG) yang saat ini menjadi program pemerintah pada dasarnya telah lama diterapkan masyarakat adat Cireundeu melalui pola konsumsi pangan lokal yang sehat, bergizi, dan berkelanjutan. Hal tersebut menunjukkan bahwa solusi pangan masa depan sebenarnya telah tersedia melalui kearifan lokal bangsa sendiri.

"Bahkan konsep Makan Bergizi Gratis yang kini digalakkan pemerintah sebenarnya sudah lebih dahulu dipraktikkan oleh masyarakat Cireundeu." katanya.

Anton pun mendorong agar pola pangan berbasis singkong yang diterapkan Kampung Adat Cireundeu dijadikan contoh di tingkat nasional. Menurutnya, apabila sekitar 20 persen masyarakat Indonesia mulai beralih mengonsumsi singkong secara bertahap, ketergantungan terhadap impor beras dapat ditekan secara signifikan sekaligus membuka peluang Indonesia menjadi negara pengekspor beras di masa mendatang.

Ia menegaskan, di tengah tuntutan efisiensi anggaran dan tantangan ketahanan pangan global, tradisi yang diwariskan masyarakat adat Cireundeu menjadi solusi nyata.

Kearifan lokal tersebut dinilai mampu menghadirkan manfaat bagi kesehatan masyarakat, memperkuat kemandirian pangan, sekaligus mendukung penghematan anggaran negara.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....