Pemkot Bandung Dorong Penggerak Pertumbuhan Ekonomi Daerah

  • 19 Jun 2026 13:14 WIB
  •  Bandung

‎RRI.CO.ID, Bandung – Pemerintah Kota Bandung terus mendorong peningkatan investasi sebagai salah satu motor penggerak pertumbuhan ekonomi daerah. Setelah mencatat realisasi investasi sekitar Rp11 triliun pada 2025, Pemkot Bandung kini menyiapkan sejumlah proyek strategis yang ditawarkan kepada investor, mulai dari penerangan jalan umum (PJU), angkutan umum listrik, pembangunan hunian vertikal, hingga revitalisasi kawasan olahraga.

Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan, mengatakan berbagai proyek tersebut merupakan bagian dari strategi pemerintah untuk menghadirkan pelayanan publik yang lebih modern sekaligus membuka peluang investasi baru bagi sektor swasta.

‎"Kalau realisasi investasi tahun 2025 sudah mencapai sekitar Rp11 triliun. Sekarang kita sedang mengejar berbagai investasi baru yang berkaitan dengan pelayanan publik dan pembangunan Kota Bandung," ujar Farhan, Jumat 19 Juni 2026.

‎Salah satu proyek yang tengah dipersiapkan adalah pembangunan sekitar 850 titik Penerangan Jalan Umum (PJU) baru melalui skema kerja sama investasi. Menurut Farhan, pembangunan infrastruktur tersebut tidak sepenuhnya mengandalkan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD), melainkan menggunakan skema investasi yang memungkinkan pihak swasta membangun fasilitas terlebih dahulu sebelum pemerintah membayar layanan yang diberikan.

‎"Misalnya lampu jalan. Investor melakukan pengadaan dan memasang fasilitasnya terlebih dahulu. Setelah beroperasi, pemerintah membayar layanan tersebut. Jadi ini bukan investasi yang seluruhnya menggunakan APBD," jelasnya.

‎Farhan menilai skema tersebut lebih efektif karena mampu mempercepat pembangunan infrastruktur tanpa harus menunggu kemampuan fiskal daerah. Dengan pola kerja sama ini, kebutuhan masyarakat terhadap fasilitas publik dapat dipenuhi lebih cepat sekaligus membuka peluang bisnis bagi investor.

‎Selain sektor penerangan jalan, Pemkot Bandung juga tengah mempersiapkan transformasi transportasi umum melalui pengembangan angkutan kota berbasis listrik. Program angkot listrik dinilai menjadi salah satu proyek investasi paling menarik karena diharapkan mampu mengubah wajah transportasi publik di Kota Bandung.

‎"Hal yang paling menarik sekarang adalah angkot listrik. Kita ingin masyarakat kembali tertarik menggunakan angkutan umum. Karena itu tampilannya juga harus bagus, nyaman, modern, dan ramah lingkungan," katanya.

‎Menurut Farhan, salah satu tantangan terbesar transportasi publik saat ini adalah menurunnya minat masyarakat menggunakan angkutan kota konvensional. Karena itu, selain melakukan pembenahan sistem operasional, pemerintah juga ingin menghadirkan armada dengan desain yang lebih modern dan nyaman agar mampu meningkatkan kepercayaan masyarakat terhadap layanan transportasi umum.

‎Pengembangan angkot listrik tersebut akan dilakukan melalui kolaborasi antara Pemerintah Kota Bandung, Pemerintah Provinsi Jawa Barat, dan investor swasta. Pemkot berharap proyek ini dapat menjadi langkah awal dalam membangun sistem transportasi yang lebih berkelanjutan dan ramah lingkungan.

‎Di sektor perumahan, Pemkot Bandung juga terus mendorong pembangunan hunian vertikal sebagai solusi atas keterbatasan lahan di kawasan perkotaan. Program ini merupakan bagian dari kebijakan nasional yang diinisiasi oleh Kementerian Perumahan dan Kawasan Permukiman (KPKP).

‎Dalam skema yang disiapkan, pemerintah menyediakan lahan sementara pembangunan dilakukan oleh investor swasta. Hasil pembangunan kemudian dipasarkan kepada masyarakat sehingga memberikan manfaat bagi seluruh pihak yang terlibat.

‎"Konsepnya sederhana. Lahannya dari pemerintah atau BUMN, pembangunannya dilakukan swasta, kemudian hasilnya dipasarkan kepada masyarakat. Jadi semua pihak mendapatkan manfaat," ujar Farhan.

‎Ia mencontohkan sejumlah lokasi potensial yang sedang dipersiapkan, termasuk lahan milik PT Kereta Api Indonesia serta beberapa aset pemerintah lainnya yang selama ini belum dimanfaatkan secara optimal.

‎Menurutnya, pembangunan hunian vertikal tidak hanya menjadi solusi kebutuhan perumahan di Kota Bandung, tetapi juga dapat meningkatkan nilai ekonomi aset-aset pemerintah yang belum produktif.

‎Tak hanya itu, Pemkot Bandung juga mulai membuka peluang investasi di sektor olahraga. Pemerintah tengah menyusun konsep revitalisasi sejumlah fasilitas olahraga agar dapat dikembangkan bersama investor melalui pendekatan kawasan terpadu.

‎Meski Stadion Gelora Bandung Lautan Api telah memiliki pengelola, masih terdapat sejumlah kawasan olahraga lain yang dinilai memiliki potensi besar untuk dikembangkan, seperti Bandung Arena, lapangan hoki, hingga kawasan Lodaya.

‎"Konsep investasi kawasan olahraga sedang kita siapkan. Ada beberapa lokasi yang bisa dikembangkan bersama investor, termasuk Bandung Arena, lapangan hoki, sampai kawasan Lodaya," katanya.

‎Farhan menjelaskan, pengembangan kawasan olahraga tidak hanya bertujuan meningkatkan kualitas fasilitas bagi atlet dan masyarakat, tetapi juga membuka peluang ekonomi baru melalui konsep sport tourism atau wisata olahraga.

‎Di sektor energi dan kendaraan listrik, Pemkot Bandung juga melihat peluang investasi yang semakin besar. Meningkatnya penggunaan kendaraan listrik mendorong kebutuhan pembangunan Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU) di berbagai titik kota.

‎Karena itu, pemerintah mulai membuka peluang investasi pada sektor tersebut, termasuk mewajibkan penyediaan fasilitas SPKLU pada sejumlah proyek SPBU swasta yang sedang dalam proses perizinan.

‎"Bahkan sekarang investasi SPBU juga masih menarik. Ada dua izin SPBU swasta yang sedang diproses dan saya mensyaratkan harus menyediakan fasilitas SPKLU," ungkapnya.

‎Menurut Farhan, kehadiran SPKLU akan menjadi bagian penting dalam mendukung transformasi transportasi ramah lingkungan sekaligus menunjukkan kesiapan Kota Bandung mengikuti perkembangan teknologi otomotif nasional.

‎Selain proyek-proyek fisik, Pemkot Bandung juga melakukan penataan berbagai media reklame sebagai bagian dari upaya menciptakan iklim investasi yang lebih sehat. Penertiban titik reklame dilakukan agar jumlah lokasi pemasangan lebih terkendali sehingga memiliki nilai ekonomi yang lebih tinggi.

‎"Kalau titiknya terlalu banyak, nilai investasinya justru turun. Maka sekarang kita tata supaya lebih tertib dan memiliki nilai ekonomi yang lebih baik," katanya.

‎Farhan optimistis berbagai proyek strategis yang tengah dipersiapkan tersebut akan semakin meningkatkan daya tarik Kota Bandung di mata investor. Menurutnya, keberhasilan investasi tidak hanya diukur dari besarnya nilai yang masuk ke daerah, tetapi juga dari manfaat nyata yang dirasakan masyarakat.

‎"Kami ingin investasi yang masuk benar-benar memberikan dampak nyata. Bukan hanya menambah angka investasi, tetapi juga memperbaiki kualitas pelayanan publik, meningkatkan mobilitas masyarakat, dan mendorong pertumbuhan ekonomi Kota Bandung secara berkelanjutan," tandasnya.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....