Babakan Ciparay Percepatan Rutilahu dan Buruan Sae

  • 17 Jan 2026 19:22 WIB
  •  Bandung

RRI.CO.ID, Bandung – Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan, memberikan arahan strategis dalam upaya peningkatan kualitas lingkungan serta kesejahteraan masyarakat di Kelurahan Babakan Ciparay, Kecamatan Babakan Ciparay, pada Sabtu 17 Januari 2026.

Dalam kunjungannya, Wali Kota menekankan dua fokus utama, yakni percepatan perbaikan rumah tidak layak huni (Rutilahu) dan pengembangan program Buruan Sae sebagai pusat ketahanan pangan berbasis RW.

Lurah Babakan Ciparay, Tonny Sukmana, menyampaikan bahwa Wali Kota Bandung secara tegas meminta agar proses perbaikan Rutilahu dapat segera dituntaskan tanpa adanya penundaan.

“Arahan Pak Wali jelas, Rutilahu harus segera diperbaiki agar warga bisa tinggal dengan aman dan nyaman. Selain itu, Buruan Sae yang sudah berjalan diminta menjadi contoh dan dikembangkan di seluruh RW di Babakan Ciparay,” ujar Tonny, Sabtu 17 Januari 2026.

Baca juga : DPRD Kota Bandung Soroti Antrean Panjang di Puskesmas

Saat ini, Kelurahan Babakan Ciparay telah memiliki tiga Buruan Sae yang aktif dari total sembilan RW. Pemerintah kelurahan pun menargetkan enam RW lainnya segera menyusul agar program ketahanan pangan tersebut dapat merata.

“Sekarang baru ada tiga RW yang aktif. Artinya masih ada enam RW lagi yang harus kita dorong agar setiap RW memiliki Buruan Sae,” jelasnya.

Sementara itu, Ketua RW 09 Babakan Ciparay, Agus Tantan, mengungkapkan bahwa Buruan Sae di wilayahnya mendapat apresiasi langsung dari Wali Kota Bandung. Buruan Sae RW 09 mengusung konsep pertanian terpadu dengan memadukan sistem tanam tradisional dan teknologi modern.

“Di bawah kita menggunakan tanah secara konvensional, sementara di atasnya dikembangkan sistem hidroponik. Produksinya sudah berjalan rutin, sudah ada member yang mengambil hasil panen sehingga kegiatan ini sudah berputar dan menghasilkan,” ungkapnya.

Ia menambahkan, hasil panen Buruan Sae RW 09 tidak hanya memiliki nilai ekonomi, tetapi juga memberikan dampak sosial bagi masyarakat sekitar. Sebagian hasil produksi disalurkan untuk membantu warga yang membutuhkan.

“Sebagian hasil Buruan Sae kita subsidi untuk warga. Harapannya, ke depan persoalan stunting bisa kita atasi secara mandiri di RW 09,” katanya.

Upaya ketahanan pangan tersebut juga diperkuat dengan pengembangan sektor pendukung, seperti perikanan, peternakan, serta pengolahan sampah organik melalui program magotisasi.

Agus mengakui, keterbatasan lahan menjadi tantangan utama dalam pengembangan Buruan Sae. Namun, kondisi tersebut justru mendorong munculnya inovasi dengan memanfaatkan ruang-ruang alternatif yang tersedia.

“Maggotisasi sudah mulai kita jalankan, meski masih tahap percobaan sekitar lima baki. Karena lahan terbatas, kita manfaatkan rooftop yang ada di wilayah RW 09,” jelasnya.

Ke depan, RW 09 merencanakan pengembangan magotisasi dan penghijauan, termasuk budidaya cabai rawit yang terintegrasi dengan perikanan ikan hias dan ikan konsumsi di beberapa titik wilayah. “Semua program itu nantinya akan kita sinkronkan dalam satu ekosistem Buruan Sae Barokatumaninah RW 09,” ucapnya.

Buruan Sae RW 09 sendiri berlokasi di rumah seksi lingkungan hidup, dengan memanfaatkan lahan kosong yang sebelumnya tidak produktif. “Awalnya kondisi lahan seperti hutan, banyak pohon besar. Sekarang kita alihfungsikan menjadi lahan yang lebih produktif, terutama untuk tanaman sayuran dan tanaman obat keluarga,” tandasnya.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....