Ini Kisah Berdirinya Radio Republik Indonesia

  • 19 Jun 2026 08:24 WIB
  •  Bandung

RRI.CO.ID, Bandung - Sebelum hadirnya televisi, internet, dan media sosial, radio menjadi sarana utama masyarakat untuk memperoleh informasi. Dari gelombang udara itulah lahir sebuah media yang kemudian menjadi bagian penting perjalanan bangsa Indonesia, yaitu Radio Republik Indonesia (RRI).

Dilansir dari kanal YouTube Radio Kaset yang tayang pada 11 Desember 2025, sejarah radio di Indonesia bermula pada masa Hindia Belanda ketika teknologi komunikasi masih sangat terbatas. Saat itu masyarakat mengandalkan surat, telegraf, dan surat kabar untuk memperoleh informasi dari daerah lain. Penyebaran kabar pun membutuhkan waktu berhari-hari bahkan berminggu-minggu.

Perkembangan teknologi radio dunia dimulai ketika ilmuwan asal Italia, Guglielmo Marconi, berhasil mengirimkan sinyal tanpa kabel pada 1895. Penemuan tersebut kemudian berkembang pesat hingga pada 1906, ilmuwan Kanada Reginald Aubrey Fessenden berhasil melakukan siaran suara dan musik melalui gelombang radio yang tercatat sebagai siaran radio publik pertama di dunia.

Teknologi radio kemudian menyebar ke berbagai negara termasuk wilayah Hindia Belanda pada dekade 1920-an. Namun pada masa awal, perangkat radio hanya dapat dinikmati oleh kalangan Eropa dan pejabat kolonial karena harganya yang mahal dan jumlahnya yang terbatas.

Pada tahun 1925 berdiri Batavia Radio Vereeniging (BRV), sebuah perkumpulan radio yang didirikan oleh warga Belanda di Batavia. BRV menyiarkan musik klasik, berita dari Eropa, dan berbagai informasi sosial menggunakan bahasa Belanda. Meski ditujukan bagi masyarakat Eropa, keberadaan radio mulai menarik perhatian kalangan pribumi terpelajar yang melihatnya sebagai teknologi masa depan.

Perkembangan radio semakin pesat ketika pemerintah kolonial Belanda mendirikan Nederlandsch-Indische Radio Omroep Maatschappij (NIROM) pada 1934. Lembaga ini menjadi jaringan radio resmi pemerintah kolonial dengan jangkauan yang lebih luas serta program siaran yang lebih terstruktur.

Namun di tengah dominasi siaran kolonial, muncul radio-radio yang dikelola masyarakat Indonesia. Salah satunya Solosche Radio Vereeniging (SRV) di Solo yang berdiri pada 1937. Radio ini bersama sejumlah stasiun lokal lainnya mulai menyiarkan kesenian tradisional, musik keroncong, berita daerah, hingga program berbahasa Indonesia.

Kehadiran radio-radio lokal tersebut menjadi tonggak penting lahirnya identitas nasional melalui media penyiaran. Untuk pertama kalinya masyarakat mendengar suara penyiar dengan bahasa yang akrab, lagu-lagu rakyat, dan informasi yang dekat dengan kehidupan sehari-hari.

Memasuki masa pendudukan Jepang pada 1942, seluruh kegiatan penyiaran radio berada di bawah pengawasan ketat pemerintah militer. Pengelolaan radio dilakukan melalui lembaga bernama Hoso Kanri Kyoku yang berkedudukan di Jakarta dengan sejumlah cabang di berbagai kota besar di Pulau Jawa.

Meski radio saat itu dimanfaatkan untuk kepentingan propaganda perang Jepang, masa pendudukan tersebut justru memberi ruang bagi berkembangnya kebudayaan dan kesenian Indonesia. Banyak seniman dan pencipta lagu nasional lahir dari periode tersebut.

Setelah Indonesia memproklamasikan kemerdekaan pada 17 Agustus 1945, para tokoh radio menyadari pentingnya memiliki lembaga penyiaran nasional yang dapat menyuarakan perjuangan bangsa. Pada 10 September 1945, para pemimpin radio dari berbagai daerah berkumpul di Jakarta untuk membahas pembentukan organisasi radio nasional.

Hasil pertemuan tersebut melahirkan kesepakatan bersejarah pada 11 September 1945, yakni berdirinya Radio Republik Indonesia (RRI). Saat pertama kali dibentuk, RRI memiliki delapan stasiun radio yang merupakan bekas jaringan radio peninggalan Jepang di Pulau Jawa.

RRI kemudian menjadi alat perjuangan bangsa dalam mempertahankan kemerdekaan. Melalui siarannya, RRI menyebarkan informasi perjuangan, membangun semangat nasionalisme, sekaligus menjadi media pemersatu masyarakat di berbagai daerah.

Semboyan legendaris "Sekali di Udara Tetap di Udara" lahir pada masa tersebut dan menjadi simbol keteguhan insan radio dalam menjaga eksistensi penyiaran nasional di tengah berbagai tantangan.

Seiring perjalanan waktu, RRI tidak hanya berfungsi sebagai media informasi, tetapi juga menjadi sarana pendidikan, pelestarian budaya, hiburan, hingga perekat persatuan bangsa. Di era digital saat ini, RRI terus bertransformasi melalui berbagai platform agar tetap dapat menjangkau masyarakat luas tanpa meninggalkan nilai-nilai sejarah yang melatarbelakangi kelahirannya.

Memahami sejarah lahirnya RRI menjadi penting bagi generasi masa kini. Sebab, jauh sebelum masyarakat mengenal internet dan media sosial, radio telah menjadi suara yang menyatukan Indonesia, menghadirkan informasi, serta menghubungkan masyarakat dari Sabang hingga Merauke dalam semangat kebangsaan yang sama.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....