Paduan Konten Moderen Dengan Budaya untuk Jaga Bumi

  • 08 Sep 2026 17:14 WIB
  •  Atambua

RRI.CO.ID,Atambua - Memadukan konten modern dengan nilai-nilai tradisional dan budaya, serta kearifan lokal daerah, harus dilakukan dengan menempatkan tradisi bukan semata sebagai objek foto masa lalu. Melainkan sebagai solusi masa kini untuk menjaga bumi.

Informasi tersebut disampaikan Influencer Wisata NTT Arianto Selly kepada rri.co.id, Minggu 6 September 2026. Melalui pendekatan visual yang estetis di media sosial,kearifan lokal tradisional daerah dapat dikemas menjadi cerita yang relevan bagi generasi muda.

Perpaduan ini diperlukan keseimbangan antara kreativitas masa kini dan rasa hormat yang mendalam terhadap warisan leluhur. Sebagai influencer wisata asal NTT, pendekatan saya berfokus pada menjaga keaslian cerita sambil mengemasnya dalam format yang relevan bagi generasi digital," ujarnya.

NTT terkenal dengan alamnya yang luar biasa indah juga dengan kearifan lokalnya yang sangat kental dalam menjaga alam,sehingga sebagai influencer muda,memadukan konten modern yang disukai anak muda dengan nilai-nilai tradisional tersebut sangat diperlukan.

"Anak muda zaman sekarang tidak bisa lagi didekati dengan ceramah atau larangan yang kaku. Jadi saya menggunakan medium modern seperti Instagram Reels atau TikTok dengan sinematografi yang estetis dan musik yang sedang tren untuk menarik perhatian mereka terlebih dahulu," tuturnya.

Lanjutnya dibalik visual yang memanjakan mata itu harus menyisipkan juga kisah tentang kearifan lokal kita. Dikatakan Nyong Galang (sapaan akrab), bagi influencer muda saat ini untuk mengubah fokus dari sekadar pamer foto estetik ke arah aksi peduli bumi dampaknya jangka pendek dan sering kali malah memicu kepadatan turis yang merusak.

"Orang datang ke suatu tempat tersembunyi di NTT hanya demi meniru foto yang viral, lalu meninggalkan sampah plastiknya di sana itu miris sekali. Sebagai influencer, kita punya tanggung jawab moral atas dampak dari konten yang kita buat, jika kita bisa mengarahkan ribuan orang untuk menyukai sebuah tempat, kita juga harus bisa mengarahkan mereka untuk menjaganya," kata Arianto.

Menurut perspektif pelaku konten budaya NTT ini, tantangan terbesarnya adalah ego dan kurangnya literasi. "Banyak wisatawan datang dengan pola pikir bahwa karena mereka sudah membayar, mereka bebas melakukan apa saja demi konten mereka.

Mereka melanggar batas sakral di kampung adat atau mengabaikan larangan setempat demi mendapatkan sudut foto yang unik. Untuk mengatasi ini,di setiap konten, dirinya selalu menekankan konsep wisata yang bertanggung jawab.

"Kita harus memposisikan kearifan lokal bukan sebagai pembatasan, melainkan sebagai bentuk keunikan budaya yang justru harus kita pelajari dan hormati. Saya juga menegaskan, jangan takut kehilangan penonton karena konten kita menjadi sedikit lebih serius," ucapnya.

Dia kemudian mengajak semua konten kreator gunakan kamera digital untuk menjadi pengeras suara bagi perlindungan alam dan tradisi leluhur. "NTT bukan sekadar latar belakang foto estetismu, tanah ini adalah rumah kita bersama yang keindahan dan kearifan lokalnya harus tetap ada untuk generasi masa depan."

"Melalui pendekatan ini, kearifan lokal NTT tidak lagi dipandang sebagai sesuatu yang kuno atau tertinggal, melainkan sebuah gaya hidup yang keren, bijak, dan sangat relevan untuk masa depan,’’tutur Nyong Galang akhiri perbincangan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....