Kadis Kesehatan Belu Dorong Semua Kelompok Umur Proaktif Skrining TBC
- 29 Sep 2026 20:08 WIB
- Atambua
RRI.CO.ID, Atambua - Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Belu, dr. Bathseba Elena Corputi, MARS, mengajak seluruh kelompok masyarakat untuk secara proaktif melakukan skrining atau pemeriksaan Tuberkulosis (TBC) di setiap fasilitas pelayanan kesehatan yang tersedia.
Upaya tersebut dinilai penting sebagai bagian dari percepatan eliminasi TBC di Kabupaten Belu. Menurut Elena, skrining tidak hanya menyasar orang dewasa, tetapi juga harus mencakup seluruh kelompok umur, termasuk anak-anak yang memiliki kontak erat dengan penderita TBC.
Hal itu disampaikan Elena saat menghadiri kegiatan tracking TBC yang berlangsung di Kantor Lurah Kota Atambua, Selasa, 29 September 2026.
Elena mengatakan, anak-anak yang tinggal berdekatan atau memiliki kontak erat dengan penderita TBC termasuk kelompok yang rentan tertular sehingga perlu mendapatkan perhatian dalam program penanggulangan TBC.
“Anak-anak juga ada penderita. Untuk skrining sekarang harusnya semua kelompok umur yang kontak erat penderita itu diwajibkan dilakukan skrining,” kata Elena.
Ia menjelaskan, pemeriksaan TBC tidak hanya ditujukan kepada anggota keluarga yang tinggal serumah dengan penderita. Warga yang berada di lingkungan sekitar, termasuk tetangga yang memiliki kemungkinan kontak erat, juga diharapkan hadir dan memeriksakan diri di fasilitas pelayanan kesehatan.
Menurutnya, keterlibatan masyarakat menjadi salah satu faktor penting dalam mempercepat penemuan kasus TBC. Dengan semakin banyak warga yang melakukan skrining, kasus TBC diharapkan dapat ditemukan lebih awal sehingga penanganan dan pengobatan bisa segera dilakukan.
Kesadaran untuk melakukan skrining juga dirasakan Sity, warga Kelurahan Fatubenao, Kabupaten Belu, yang memiliki pengalaman langsung dengan TBC di dalam keluarganya.
Sity menceritakan bahwa ayahnya pernah menderita TBC. Kondisi tersebut sempat menimbulkan kekhawatiran bagi dirinya dan anggota keluarga lainnya karena mereka tinggal serumah dan masuk dalam kategori kontak erat dengan penderita.
Pada awalnya, Sity mengaku takut menjalani pemeriksaan karena khawatir dirinya justru tertular TBC. Namun, setelah berkonsultasi dengan perawat di Puskesmas, ia mendapatkan pemahaman mengenai cara penularan TBC dan pentingnya melakukan pemeriksaan.
“Saya dengan adik cukup takut mau periksa TBC. Pemahaman kalau makan di piring yang sama bisa tertular TBC. Setelah pemberitahuan tim medis, TBC kontak lewat udara, jadi disarankan bapaknya yang TBC selalu pakai masker, biar batuk tidak menyebar,” ujar Sity.
Penjelasan dari tenaga kesehatan tersebut membuat Sity dan keluarganya lebih memahami bahwa TBC terutama menyebar melalui udara ketika penderita TBC paru melepaskan kuman ke udara, misalnya saat batuk atau bersin.
Karena itu, menurut Sity, edukasi kepada keluarga dan masyarakat mengenai TBC sangat penting agar tidak muncul kesalahpahaman mengenai cara penularan maupun langkah pencegahannya.
Sity juga mengapresiasi langkah Dinas Kesehatan Kabupaten Belu yang menghadirkan pelayanan skrining TBC secara langsung di tengah masyarakat.
Menurutnya, pemeriksaan yang dilakukan melalui program jemput bola memberikan kemudahan bagi warga karena layanan tidak hanya tersedia di rumah sakit atau Puskesmas, tetapi juga dilakukan langsung di tingkat kelurahan.
“Saya cukup berterima kasih kepada Dinas Kesehatan Belu dengan program jemput bola kegiatan pemeriksaan skrining TBC. Tidak sebatas di rumah sakit atau Puskesmas, tetapi juga dilakukan langsung di kelurahan,” ungkapnya.
Program tersebut dinilai dapat mendorong masyarakat untuk lebih berani dan mudah mengakses pemeriksaan, khususnya bagi warga yang sebelumnya masih merasa takut atau ragu untuk melakukan skrining.
Dengan pelibatan seluruh kelompok umur, keluarga penderita, kontak erat, serta masyarakat di lingkungan sekitar, upaya penemuan kasus TBC di Kabupaten Belu diharapkan semakin optimal.
Dinas Kesehatan Belu terus mendorong masyarakat agar tidak menunggu munculnya gejala berat untuk memeriksakan diri. Skrining menjadi langkah penting untuk mengetahui kondisi kesehatan lebih awal sekaligus memutus mata rantai penularan TBC di masyarakat.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....