Faktor-Faktor Psikologis yang Sebabkan Kerentanan pada Anak
- 21 Feb 2026 08:46 WIB
- Atambua
RRI.CO.ID, Atambua - Ryati Bouk mahasiswi pascasarjana psikologi di Universitas Gadjah Mada (UGM) menyoroti kerentanan anak terhadap kekerasan daring secara ilmiah. Ia menegaskan kerentanan tersebut bukan kesalahan korban melainkan hasil interaksi faktor keluarga individu serta lingkungan digital.
Awardee beasiswa Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) ini meneliti perkembangan remaja menggunakan pendekatan psikologi klinis dan pendidikan modern. Pengalaman akademiknya membantunya membaca pola risiko sehingga pencegahan bisa dilakukan lebih dini oleh keluarga.
Pada faktor keluarga, ia menemukan kurangnya kelekatan aman serta pola asuh permisif atau terlalu otoriter ekstrem. Minim komunikasi terbuka tentang seksualitas serta riwayat kekerasan membuat anak mencari kenyamanan emosional di luar rumah.
Dari sisi individu, ia menyebut harga diri rendah, kesepian kronis, dan kebutuhan validasi tinggi dapat meningkatkan ketergantungan perhatian. Kesulitan mengatur emosi serta trauma masa kecil menyebabkan anak mudah percaya kepada orang asing yang tampak peduli.
Faktor digital, menurutnya, juga memperbesar risiko terutama rendahnya literasi keamanan serta kebiasaan membagikan informasi pribadi berlebihan. Anak sering melakukan oversharing (berbagi berlebihan) lalu mencari dukungan emosional dari akun anonim tanpa memahami ancaman yang tersembunyi.
Ia menjelaskan, remaja berada pada fase pencarian identitas sehingga rentan mengalami kebingungan peran dan tekanan sosial. Merujuk teori perkembangan Erik Erikson tahap ini memperlihatkan konflik identitas berhadapan langsung dengan kebingungan peran pada remaja.
“Pendampingan emosional konsisten dari orang tua dan guru sangat penting agar anak tidak mencari validasi sembarangan,” ujarnya. Ia mengajak keluarga sekolah serta masyarakat meningkatkan literasi digital dan komunikasi terbuka demi perlindungan anak bersama.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....