Membangun Generasi Alor Bebas Stunting Dimulai dari Remaja

  • 31 Jul 2026 20:47 WIB
  •  Atambua

RRI.CO.ID, Alor - Stunting masih menjadi pekerjaan rumah besar di Kabupaten Alor. Di balik persoalan tersebut, ada banyak faktor yang saling berkaitan, mulai dari usia perkawinan, kesiapan mental calon orang tua, pemenuhan gizi, hingga kondisi ekonomi keluarga. Karena itu, upaya pencegahan tidak bisa dilakukan hanya ketika seorang anak telah lahir, tetapi harus dimulai jauh sebelumnya.

Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (PP-KB) Kabupaten Alor terus mengedukasi masyarakat agar mempersiapkan kehidupan berkeluarga secara matang. Persiapan itu meliputi pendidikan, pekerjaan, kesehatan reproduksi, hingga kemampuan memenuhi kebutuhan gizi keluarga. Langkah tersebut diyakini menjadi fondasi lahirnya generasi yang sehat dan berkualitas.

Penata Kependudukan dan KB Dinas PP-KB Kabupaten Alor, Daniel Datu Koda, mengatakan akar persoalan stunting sebenarnya berada pada masa remaja. Menurutnya, calon ibu perlu dipersiapkan sejak dini agar memasuki masa kehamilan dalam kondisi sehat, matang secara fisik maupun mental, serta memiliki pengetahuan yang cukup tentang pengasuhan anak.

"Kalau ingin memutus mata rantai stunting, maka harus dimulai dari remaja. Selama ini kita lebih banyak menangani kasus setelah anak lahir. Padahal kalau sejak awal kadar hemoglobin, status gizi, dan kesiapan mental remaja sudah baik, saya yakin mereka tidak akan melahirkan bayi stunting," ujar Daniel.

Ia menjelaskan, BKKBN merekomendasikan usia ideal menikah adalah 21 tahun bagi perempuan dan 25 tahun bagi laki-laki. Pada usia tersebut, organ reproduksi dinilai telah matang, pendidikan umumnya telah diselesaikan, dan pasangan memiliki kesempatan lebih besar untuk memperoleh pekerjaan sehingga mampu memenuhi kebutuhan keluarga secara mandiri.

Selain usia perkawinan, Daniel menilai periode 1.000 Hari Pertama Kehidupan menjadi masa paling menentukan dalam mencegah stunting. Pemenuhan gizi sejak awal kehamilan hingga anak berusia dua tahun akan sangat memengaruhi pertumbuhan fisik maupun perkembangan otak anak. Pemberian ASI eksklusif selama enam bulan pertama juga menjadi bagian penting dalam menciptakan generasi yang sehat.

"Masa emas dimulai sejak awal kehamilan hingga anak berusia dua tahun karena sekitar 80 persen perkembangan otak terjadi pada masa itu. Bayi juga harus mendapatkan ASI eksklusif selama enam bulan pertama agar tumbuh dan berkembang secara optimal," katanya.

Daniel juga mengingatkan pentingnya mengatur jarak kelahiran minimal dua tahun. Menurutnya, jeda tersebut memberi kesempatan bagi ibu untuk memulihkan kondisi kesehatan, memberikan perhatian penuh kepada anak, serta memenuhi kebutuhan gizi keluarga. Pengaturan jarak kelahiran dapat dilakukan melalui program keluarga berencana dengan berbagai pilihan metode kontrasepsi yang aman.

Di lapangan, upaya pencegahan stunting didukung oleh Tim Pendamping Keluarga (TPK) yang terdiri atas bidan, kader PKK, dan kader KB. Mereka melakukan pendampingan kepada calon pengantin, ibu hamil, hingga keluarga yang memiliki anak berisiko stunting melalui pemeriksaan kesehatan, edukasi gizi, serta rujukan ke fasilitas kesehatan apabila diperlukan. Meski demikian, keterbatasan jaringan internet dan akses teknologi di sejumlah desa masih menjadi tantangan dalam pelaksanaan tugas mereka.

Kabupaten Alor juga memiliki kekayaan pangan lokal yang berlimpah. Namun, tekanan ekonomi membuat sebagian keluarga menjual hasil panen untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga sehingga cadangan pangan yang seharusnya dikonsumsi keluarga menjadi berkurang. Melalui Tim Pendamping Keluarga, masyarakat terus didorong memanfaatkan pekarangan rumah untuk menanam sayuran, tanaman obat keluarga, dan komoditas pangan lainnya agar kebutuhan gizi tetap terpenuhi.

"Kami berharap masyarakat memiliki cara pandang yang lebih luas dalam mempersiapkan keluarga. Anak yang dilahirkan jangan sampai menjadi beban, tetapi harus dipersiapkan agar sehat, berpendidikan, dan memiliki masa depan yang baik. Pencegahan stunting adalah tanggung jawab bersama, mulai dari keluarga, masyarakat, hingga pemerintah," tutur Daniel.

Melalui edukasi yang berkelanjutan, penguatan peran keluarga, pemanfaatan pangan lokal, serta dukungan seluruh elemen masyarakat, Pemerintah Kabupaten Alor berharap angka stunting terus menurun. Pencegahan yang dimulai sejak remaja diyakini menjadi investasi terbaik untuk melahirkan generasi Alor yang sehat, cerdas, produktif, dan mampu menjadi kekuatan pembangunan daerah pada masa mendatang.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....