Kisah Penyebaran Islam Sultan Najamuddin Oil Lelang Terus Hidup di Hulnani Alor

  • 31 Mei 2026 10:28 WIB
  •  Atambua

RRI.CO.ID, Alor - Di pesisir Kabupaten Alor, Nusa Tenggara Timur, berdiri sebuah kampung kecil bernama Hulnani. Kampung itu menyimpan kisah panjang tentang perjalanan masuknya Islam di wilayah Alor, sebuah cerita yang diwariskan turun-temurun oleh masyarakat setempat hingga hari ini.

Di tengah kampung, Masjid Al Anshar Hulnani berdiri tenang menghadap perkampungan warga. Bagi masyarakat Hulnani, masjid tersebut bukan hanya tempat ibadah, tetapi juga penanda sejarah dakwah Islam yang pernah dibangun seorang tokoh bernama Sultan Najamuddin Oil Lelang.

Kisah perjalanan Sultan Najamuddin masih terus diceritakan oleh masyarakat dan para keturunannya. Salah satunya disampaikan Kepala Desa Hulnani, Mustakim Tehing, yang menyebut Sultan Najamuddin berasal dari Bampalola dan pada masa mudanya belum memeluk agama Islam.

Menurut Mustakim, perjalanan hidup Sultan Najamuddin berubah ketika dirinya turun mencari ikan di kawasan Alor Kecil. Di tempat itu, ia bertemu para pedagang dari Pulau Jawa yang kemudian mengajaknya ikut berlayar meninggalkan Alor.

“Pada awal cerita itu beliau turun cari ikan di Alor Kecil. Lalu beliau dihampiri para pedagang dari Jawa dan kemudian diajak ikut berlayar bersama mereka sampai ke Pulau Jawa,” ujar Kepala Desa Hulnani, Mustakim Tehing. Jumat, 29 Mei 2026.

Perjalanan panjang itu membawa Sultan Najamuddin tiba di Gresik, Jawa Timur. Di tanah Jawa, ia mulai mengenal Islam dan belajar agama di kawasan Giriloka. Di tempat tersebut, Sultan Najamuddin disyahadatkan, disunatkan, dan mulai mendalami ajaran Islam sebelum kembali ke tanah Alor.

Sekembalinya dari Jawa, Sultan Najamuddin pertama kali tiba di wilayah Alor Besar atau yang dikenal masyarakat sebagai Bunga Bali. Kehadirannya diterima baik oleh raja dan masyarakat setempat. Dari sana, ia mulai memperkenalkan Islam melalui pengajaran mengaji, membaca Al-Quran, dan tata cara ibadah kepada masyarakat.

Namun perjalanan dakwah itu tidak selalu berjalan mulus. Sultan Najamuddin sempat menghadapi berbagai tantangan ketika mulai menyebarkan Islam di Alor Besar. Gangguan terhadap tempat mengaji dan musala kecil yang dibangun membuat dirinya memilih kembali ke kampung halaman di Hulnani.

“Beliau kemudian menetap di Hulnani, mendirikan tempat salat dan mengajarkan masyarakat tentang Islam, mulai dari mengaji, membaca Al-Quran, sampai tata cara salat,” kata Mustakim.

Di Hulnani, dakwah Islam berkembang perlahan melalui pendekatan sederhana dan kehidupan bermasyarakat. Sultan Najamuddin membangun rumah ibadah sederhana dan mengajarkan nilai-nilai agama kepada masyarakat setempat. Tradisi mengaji dan belajar Al-Quran yang diwariskan saat itu masih terus bertahan hingga sekarang.

Jejak sejarah Sultan Najamuddin hingga kini masih dapat ditemukan di Masjid Al Anshar Hulnani. Di dalam bangunan masjid tersebut terdapat situs kuburan tua yang diyakini sebagai makam Sultan Najamuddin Oil Oi Lelang. Makam itu menjadi simbol perjalanan panjang sejarah dakwah Islam di Desa Hulnani.

“Terkait situs kubur tua itu, itu adalah makam Sultan Najamuddin. Dulu berada di luar, tetapi karena perluasan masjid akhirnya makam tersebut sekarang berada di dalam Masjid Al Anshar Hulnani sampai hari ini,” jelas Mustakim.

Bagi masyarakat Hulnani, warisan terbesar Sultan Najamuddin bukan hanya makam atau cerita sejarah, melainkan ajaran Islam yang terus hidup dalam kehidupan sehari-hari masyarakat. Hingga kini warga tetap mempertahankan tradisi belajar Al-Quran dan memperkuat pendidikan agama kepada generasi muda. Mustakim berharap sejarah perjuangan dakwah Sultan Najamuddin Oil Lelang terus dijaga agar tidak hilang ditelan zaman.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....